Setelah hilang kagetnya dan melihat bahwa yang masuk secara lancang itu hanyalah seorang pemuda yang tidak memegang senjata dan berpakaian seder?hana saja, bangkitlah kemarahan Coon Ciangkun. ?Sudah tahu aku Coan Ciang?kun dan engkau berani masuk seperti maling? Apakah nyawamu sudah rangkap lima? Tangkap dia!? bentak panglima itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Yo Han Mendengar ini, Si Perut Gendut tertawa bergelak. ?Ha-ha-ha-ha, cacing tanah berani sekali engkau lan?cang masuk ke sini! Hendak mencuri apakah? Hayo cepat berlutut, atau akan kupatah-patahkan tulang kedua kakimu agar engkau berlutut dan minta ampun kepada Coan Ciangkun!? Yo Han bersikap tenang dan matanya masih terus memandang kepada panglima itu. ?Aku tidak ingin mencuri apa-apa, bahkan hendak menangkap pencuri dua buah benda pusaka dari gedung pusaka istana!? Tentu saja ucapannya ini mengejutkan empat orang itu. ?Tong Gu, cepat tang?kap dia!? bentak panglima itu kepada Si Gendut yang bernama Tong Gu. ?Haiiiittt....!? Tong Gu menerjang ke depan, gerakannya seperti sebuah bola menggelundung menuju ke arah Yo Han dan agaknya dia benar-benar hendak mematahkan kedua tulang kaki Yo Han karena begitu menerjang, dia sudah membuat gerakan menyapu dengan kaki kanannya yang pendek namun besar. Ge?rakannya, biarpun berperut gendut, gesit sekali dan kaki kanannya sudah menyam?bar ke arah kedua kaki Yo Han. Namun, Yo Han sama sekali tidak mengelak, juga tidak menangkis, melainkan berdiri tegak dan masih memandang kepada Coan Ciangkun. Karena itu, tanpa dapat dice?gah lagi, kaki kanan Tong Gu, menyam?bar kedua kakinya dengan amat kuatnya. ?Bresss....!? Bukan tulang kedua kaki Yo Han yang patah-patah, melainkan Si Gendut yang berteriak-teriak kesakitan, meloncat-loncat dengan kaki kiri dan mencoba untuk memegangi kaki kanan dengan kedua tangannya. Akan tetapi karena kedua lengannya pendek, sedang?kan kaki kanan itu pun pendek, maka sukar baginya untuk dapat memegang kaki itu dan dia pun berjingkrak menari-nari dengan sebelah kaki, matanya ter?belalak mulutnya ngos-ngosan seperti orang makan mrica saking nyerinya, karena kakinya terasa kiut-miut seperti pecah-pecah tulangnya. Akan tetapi, dua orang kawannya menjadi marah dan me?reka pun siap untuk menerjang. Yo Han tidak mempedulikan mereka. Dia melihat panglima itu pun terkejut dan bangkit dari tempat duduknya, siap hendak melarikan diri. Sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah meloncat ke dekat panglima itu dan jari tangannya menotok. Tubuh panglima itu menjadi lemas dan dia pun jatuh terduduk kembali ke atas kursinya, hanya dapat memandang dengan mata terbelalak karena Yo Han sudah menghampiri tiga orang tukang pukul itu dengan sikap tenang. Kini Tong Gu Si Gendut sudah men?cabut golok besarnya. Tulang kakinya tidak patah, akan tetapi membengkak dan kebiruan, nyeri sekali. Si Muka Ku?ning bermata sipit yang bernama Cong Kak juga mencabut sepasang pedangnya, sedangkan Si Hidung Kakatua mencabut rantai baja. Mereka bertiga mengepung Yo Han, namun pemuda ini bersikap te?nang. Dia tidak suka berkelahi, tidak suka menggunakan kekerasan, akan tetapi sekarang dia melihat kebenaran pen?dapat mendiang gurunya. Kepandaian silat memang amat penting, untuk meng?hadapi orang-orang yang sewenang-we?nang seperti ini! Bukan untuk berkelahi, bukan untuk menggunakan kekerasan, melainkan untuk menundukkan yang jahat untuk menegakkan kebenaran dan ke?adilan! ?Lebih baik kalian membujuk majikan kalian untuk menyerahkan dua benda curian itu kepadaku. Kalau kalian meng?gunakan kekerasan, maka kalian sendiri yang akan menjadi korban kekerasan kalian itu!? Yo Han masih menasihati, karena kalau dapat, dia hendak menyelesaikan masalah itu tanpa harus melawan tiga orang ini. Tentu saja nasihatnya itu menggelikan bagi orang-orang yang biasa menggunakan kekerasan itu. Mereka sudah marah sekali dan tanpa dikomando lagi, ketiganya sudah memutar-mutar senjata dan meng?gerakkan senjata mereka dengan kuat dan cepat, menerjang ke arah Yo Han. Pemuda ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi, namun belum pernah dia mempergunakannya dalam perkelahian. Biarpun demikian, melihat gerakan tiga orang yang bagi orang lain nampak cepat itu, baginya kelihatan lamban sekali dan dia dapat melihat jelas ke arah mana senjata mereka itu menyambar. Dengan kelincahan tubuhnya yang sudah mempe?lajari segala macam ilmu tari dari Thian-te Tok-ong yang sebenarnya merupakan ilmu-ilmu silat tinggi, dengan amat mudah dia mengelak ke sana sini dan semua serangan senjata itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya. Yo Han tidak ingin membunuh orang, bahkan melukainya pun dia tidak tega, walaupun dia tahu bahwa tiga orang ini biasanya mempergunakan kekerasan untuk menindas orang lain. Dia harus bekerja cepat agar urusan itu segera dapat di?selesaikannya dengan baik. Maka, begitu tangan kakinya bergerak dengan kecepat?an yang tak dapat diikuti pandang mata tiga orang pengeroyoknya, tiba-tiba tiga orang itu berturut-turut, jatuh terpelan?ting dalam keadaan lemas tertotok. Senjata mereka terlepas dari pegangan dan mengeluarkan suara berisik ketika ter?jatuh ke atas lantai. Akan tetapi, agaknya suara ribut-ribut itu telah terdengar oleh para pe?ngawal panglima itu. Sebelas orang pera?jurit pengawal berserabutan memasuki ruangan yang luas itu dengan senjata di tangan dan begitu masuk, mereka sudah dapat menduga apa yang terjadi, melihat majikan mereka duduk tak bergerak dan tiga orang jagoan itu roboh dan tak mampu bergerak pula. Maka, serentak mereka mengepung Yo Han dan menye?rangnya dengan senjata mereka. Yo Han maklum bahwa kalau dia ti?dak bertindak cepat, akan makin sukarlah keadaannya. Dia pun mengeluarkan ke?pandaiannya dan bagaikan seekor burung walet beterbangan, tubuhnya menyambar-nyambar dan kembali para pengeroyoknya roboh tertotok seorang demi seorang. Tubuh mereka berserakan, ada yang ber?tumpuk dan dalam waktu yang singkat, sebelas orang itu pun sudah roboh semua tanpa mengalami luka, hanya tertotok dan lemas tak mampu bergerak. Sebelum datang lagi pengeroyok, sekali loncat Yo Han telah mandekat! Coan Ciangkun yang marah duduk terto?tok dan tak mampu bergerak. Yo Han membebaskan totokannya terhadap pembesar itu?dan Coan Ciangkun dapat pula bergerak. Akan tetapi dia tidak berani bengkit berdiri karena pemuda yang lihai itu telah mengancamnya dengan jari ta?ngan di leher! ?Mau apa engkau? Engkau akan dihu?kum mati untuk ini!? kata Coan Ciang?kun dengan nada marah. ?Pasukanku akan menangkapmu!? ?Sebelum aku di tangkap, aku akan dapat membunuhmu lebih dulu, Ciangkun!? Yo Han mengancam. Wajah yang marah itu seketika menjadi pucat karena Sang Panglima maklum bahwa pemuda yang dengan mudahnya merobohkan empat belas orang pengawal?nya, tentu tidak hanya menggertak, akan tetapi benar-benar akan dapat membu?nuhnya dengan mudah. ?Apa yang kauinginkan?? katanya dan biarpun nadanya masih membentak, na?mun suara itu gemetar. Yo Han mendengar suara ribut-ribut di luar ruangan, suara banyak orang dan dia tahu bahwa tentu pasukan penjaga sudah datang mengepung ruangan itu. ?Pertama, kauperintahkan agar pasukanmu mundur dan jangan mengganggu percakapan kita di ruangan ini. Hayo cepat lakukan!? Sengaja dia menyentuh leher panglima itu dengan jari-jari tangannya. Panglima itu bergidik dan dia pun berseru dengan suara nyaring. ?Pasukan jaga, semua mundur dan jangan ganggu aku Kami sedang bicara dan tidak boleh siapa pun mengganggu kami!? Suaranya dikenal oleh para penjaga dan biarpun merasa heran, mereka semua mendengar dan tidak berani mendekati ruangan itu walaupun di sebelah sana mereka tetap mengatur pengepungan karena mereka tahu bahwa, ada seorang asing bersama majikan mereka, dan bahwa belasan orang pengawal telah diro?bohkan orang asing itu. ?Bagus, Ciangkun. Kalau engkau me?menuhi semua permintaanku, aku akan membebaskanmu dan tidak akan meng?ganggumu lagi. Sekarang, keluarkan dua buah benda mustika yang kaucuri dari dalam gedung pusaka istana itu!? Wajah itu semakin pucat. ?Apa.... apa maksudmu? Pusaka.... yang mana....?? ?Tidak usah berpura-pura lagi, Ciang?kun. Aku sudah tahu semuanya. Engkau mendendam kepada keluarga Gan karena lamaranmu ditolak, dan untuk membalas sakit hati itu, engkau sengaja menyuruh orang mencuri dua buah benda pusaka dari dalam gedung pusaka istana agar Gan Taijin menerima hukuman. Den eng?kau menjanjikan kepada Gan Taijin untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu asal dia mau menyerahkan puterinya kepadamu!? Sepasang mata itu terbelalak. ?Tidak! Tidak! Mana buktinya bahwa aku melaku?kan semua itu?? Yo Han memandang ke arah meja di depan panglima itu. Sabuah meja terbuat dari papan yang tebal. Dia menggerakkan tangan kirinya mencengkeram ke arah ujung meja. ?Krekk-krekk....!? Dan ujung meja itu hancur menjadi bubuk dalam cengkeram?annya. Wajah panglima itu menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak ketakutan. ?Ciangkun, apakah lehermu lebih ke?ras daripada papan meja ini?? ?Jangan.... jangan bunuh aku.... apa yang kaukehendaki?? pembesar itu berka?ta, suaranya kehilangan keangkuhannya, bernada menyerah. ?Coan Ciangkun, engkau seorang laki-laki, dan memegang jabatan tinggi se?bagai panglima. Semestinya engkau seo?rang yang gagah perkasa. Akan tetapi perbuatanmu ini sungguh memalukan se?bagai seorang laki-laki. Kalau pinangan?mu ditolak, itu berarti bahwa nona Gan Bi Kim bukan jodohmu. Kenapa engkau hendak memaksanya dengan cara yang begini curang dan pengecut? Kadudukanmu tinggi, akan tetapi watakmu sungguh rendah. Sekarang, aku hanya ingin engkau memperbaiki kesalahanmu, mengembali?kan dua buah benda pusaka itu kepadaku. Cepat, atau aku akan kehilangan kesa?baranku dan tanganku yang gatal-gatal ini akan mencengkeram lehermu atau kepalamu!? Sengaja Yo Han meraba-raba leher itu dan Coan Ciangkun bergidik. ?Jangan bunuh.... baik, akan kukemba?likan....! Tapi.... dua buah benda itu di?simpan oleh Tong Gu itu....? Dia menun?juk ke arah tubuh gendut Tong Gu, seorang di antara tiga jagoannya tadi, dengan telunjuk yang menggigil. Yo Han dapat menduga bahwa pangli?ma itu tidak main -main atau hendak menipunya. Bagaimanapun juga, panglima itu telah berada di dalam kekuasaannya dan tidak akan mampu berbuat apa pun. ?Akan kusadarkan dia dan cepat perin?tahkan dia mengambil dua buah pusaka itu!? katanya dan sekali tangannya ber?gerak, dia telah membebaskan totokan Tong Gu. Si Gendut itu dapat bergerak dan meloncat dengan sikap hendak menyerang. Akan tetapi Coan Ciangkun menghardiknya. ?Tolol, apa yang akan kaulakukan?? Dia memang mendongkol sekali melihat ketidakbecusan para jagoannya. Malawan seorang pemuda saja, mereka bertiga ro?boh, bahkan belasan orang pengawalnya juga roboh. Dan sekarang, masih berlagak hendak melawan! Tong Gu terkejut dan membungkuk di depan pembesar itu. ?Maafkan hamba.... hamba kira....? ?Tidak usah banyak cakap. Cepat kau ambil dua buah pusaka itu dan bawa ke sini!? perintah Coan Ciangkun. ?Baik, Ciangkun!? kata Tong Gu. Sebelum dia pergi Yo Han berkata, ?Tong Gu, jangan coba untuk main gila. Ingat, nyawa majikanmu berada di dalam tanganku. Dia akan mati sebelum engkau dapat melakukan sesuatu terhadap diriku!? ?Kalau engkau main gila, akan kusu?ruh hukum siksa sampai mati!? bentak Coan Ciangkun yang agaknya ingin ce?pat-cepat bebas dari tangan pemuda yang lihai itu. ?Cepat pergi dan ambil benda-benda itu!? Tong Gu keluar dari ruangan itu dan tenta saja dia disambut oleh hujan per?tanyaan dari para rekannya di luar ruangan. Akan tetapi, dia memberi isarat dengan telunjuk di depan mulut. ?Gawat Ciangkun telah dikuasai iblis itu. Kalau kita bergerak, tentu Coan Ciangkun akan dibunuhnya. Kita tidak boleh bergerak sebelum Ciangkun dibebaskan. Kepung saja dari luar, jangan sampai ada yang lolos. Aku harus mengambilkan pusaka itu sekarang juga,? bisiknya kepada para pimpinan pasukan. Kini setelah penghuni gedung itu te?lah terbangun dan suasananya menjadi panik. Namun, pasukan itu hanya mengepung di luar gedung, dan keluarga Coan Ciangkun berkumpul di sebelah dalam, dijaga oleh pasukan pengawal dengan ketat. Tong Gu tidak berani mengabaikan perintah Coan Ciangkun karena dia maklum sepenuhnya bahwa nyawa majikannya dalam ancaman bahaya maut. Dia tahu betapa lihainya pemuda yang menawan majikannya itu. Bukan saja dia dan dua orang rekannya yang terkenal jagoan roboh di tangan pemuda itu, juga belasan orang pengawal roboh dalam waktu singkat. Kepandaian pemuda itu tidak wajar, tidak seperti manusia biasa! Tong Gu muncul kembali ke dalam ruangan itu. Keadaan di situ masih seperti tadi. Coan Ciangkun masih duduk menghadapi meja yang patah ujungnya, dan pemuda itu masih berdiri di belakang panglima dengan sikap tenang sekali. Justru ketenangan sikap pemuda itu yang membuat Tong Gu merasa seram. Dia meletakan bungkusan dua buah banda itu di atas meja depan Coan Ciangkun. Yo Han lalu membuka bungkusan itu dan melihat bahwa memang itulah dua benda pusaka yang hilang. Dia sudah mendapat keterangan jelas dari Gan Seng bagaima?na bentuk dan rupa dua buah benda pu?saka itu. Tanpa ragu lagi, dia mengambil benda-benda itu dan menyimpannya ke daam saku jubahnya. ?Kami telah menyerahkan dua buah benda pusaka itu, sekarang bebaskan?kami dan pergilah, jangan ganggu kami lagi!? kata Coan Ciangkun menuntut. ?Nanti dulu, Ciangkun,? kata Yo Han dan dia memandang kepada Tong Gu lalu berkata, ?Tong Gu, cepat kausediakan kertas dan alat tulis untuk Coan Ciang?kun!? Tong Gu tidak berani membantah dan di dalam ruangan itu memang tersedia alat tulis dan kertasnya. Setelah perleng?kapan itu berada di atas meja, Yo Han lalu berkata, ?Ciangkun, sekarang tulislah surat pengakuanmu bahwa engkau yang melakukan pencurian itu!? Sepasang mata itu terbelalak. ?Akan tetapi....?engkau ingin melaporkan aku dan mencelakakan aku....?? Yo Han tersenyum. ?Kami bukanlah orang-orang macam engkau yang suka bertindak curang, Ciangkun. Surat itu perlu untuk pegangan Gan Taijin, agar engkau tidak lagi mengganggunya. Kalau engkau berani mengganggunya, maka tentu surat pengakuan itu akan diserah?kannya kepada Sri?Baginda Kaisar.? Panglima Coan itu menjadi lemas. Kalau tadinya dia masih mengandung ha?rapan kelak akan membalas semua ini kepada Gan Seng, kini harapannya itu membuyar seperti asap tertiup angin. Dia telah kalah mutlak dan sebagai seorang ahli perang, dia pun tahu bahwa ada waktu menang dan ada pula waktu kalah. Dan sekali ini, dia benar-benar kalah dan tidak berdaya. Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera mengambil pena bulu dan menuliskan surat pengakuan seperti yang dikehendaki Yo Han. Yo Han mendikte dan diturut oleh panglima itu. Setelah selesai, Yo Han mengambil surat itu dan membacanya sekali lagi.????? ? Saya yang bertanda tangan di bawah ini mengaku telah mencuri dua benda pusaka, yaitu cap kebesaran dan bende?ra lambang kekuasaan, dari dalam gu?dang pusaka istana. Perbuatan itu saya lakukan untuk membalas dendam dan men?celakakan keluarga Gan Seng, karena lamaran saya terhadap puterinya telah ditolaknya. Kemudian, karena mengin?safi perbuatan saya yang jahat, saya mengembalikan dua buah benda pusaka itu dan berjanji tidak akan mengganggu keluarga Gan lagi. ? ????????????????????????????????Tertanda saya, ????????????????????????????????PANGLIMA COAN. ? Yo Han menggulung surat pengakuan itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya pula. Diam-diam Coan Ciangkun mengepal tinju. Masih ada harapan untuk menebus kesalahannya, yaitu dengan menghadang pemuda ini, mengerahkan pasukan dan menangkapnya sebelum pemuda itu menyerahkan dua benda pusaka dan surat pengakuannya kepada Gan Seng. Kalau pemuda ini dapat ditangkapnya, semua itu dapat dirampasnya kembali, dan dia dapat menebus kekalahannya saat itu. Akan tetapi, harapan terakhir ini membuyar seperti gantungan terakhir pada sehelai rambut yang putus ketika pemuda itu memegang lengan kanannya dan berkata dengan lembut tapi nadanya memerintah, ?Mari, Ciangkun. Kau antar aku keluar dari gedung ini!? Tentu saja hatinya protes karena perintah itu merupakan tanda kekalahan terakhir baginya, akan tetapi dia tidak berani membantah dan dengan kepala menunduk, dia melangkah keluar dari ruangan itu, pergelangan tangan kanannya digandeng Yo Han, seperti dua orang sahabat baik jalan bersama, seolah-olah panglima itu mengantar seorang tamu yang akrab keluar meninggalkan rumah?nya! Para prajurit dan pengawal yang tadinya sudah mengepung gedung itu, kini hanya melongo saja tidak berani bertindak apa-apa karena komandan me?reka pun diam dalam seribu bahasa, ti?dak berani mengeluarkan komando untuk melakukan penyergapan! Setelah tiba di pintu gerbang depan, Yo Han berkata kepada panglima itu. ?Coan Ciangkun, terima kasih atas segala kebaikanmu. Mudah-mudahan saja engkau tidak melakukan kekeliruan-kekeliruan selanjutnya. Selamat tinggal!? Sekali berkelebat, pemuda itu lenyap ditelan kegelapan malam. Beberapa orang perwiranya berloncatan keluar dengan pedang di tangan, hendak melakukan pengejaran. Akan tetapi Coan Ciangkun mengangkat tengan kanan ke atas. Dia maklum bahwa pemuda itu terlalu lihai dan kalau dia salah langkah lagi, mungkin dia tidak akan tertolong dan surat pengakuannya tadi merupakan ujung pe?dang yang sudah ditodongkan, di depan dadanya! ?Jangan kejar dia! Biarkan pergi, aku telah kalah,? katanya dengan lemas dan dia pun memasuki gedungnya. Tentu saja anak buahnya tidak berani melanggar pe?rintah ini. Apalagi pemuda itu sudah le?nyap dan mereka tidak tahu harus men?cari dan mengejar ke mana. Ketika Yo Han menyerahkan dua buah benda pusaka itu bersama surat pengaku?an Coan Ciangkun, Gan Seng dan isteri?nya menjadi demikian gembira den ter?haru sehingga kalau tidak dicegah oleh Yo Han, mau rasanya mereka menjatuh?kan diri berlutut di depan kaki pemuda itu! Yo Han bukan saja telah menyela?matkan Gan Seng, akan tetapi juga selu?ruh keluarganya dari malapetaka yang amat besar! Gan Seng merangkulnya dan kedua matanya basah, sedangkan isteri?nya sudah menangis saking harunya, di?rangkul puteri mereka, Gan Bi Kim, yang juga merasa gembira bukan main. ?Yo Han, engkau sungguh merupakan bintang penolong dan penyelamat kami sekeluarga. Entah bagaimana keluarga kami akan dapat membalas budimu ini, Yo Han.? ?Aih, Paman Gan, kenapa bicara se?perti itu? Saya hanya melaksanakan tu?gas saya, memenuhi perintah dan pesan terakhir dari mendiang Suhu. Kalau Pa?man hendak berterima kasih, semestinya berterima kasih kepada Suhu Ciu Lam Hok karena saya hanya mewakili beliau saja.? Nenek Ciu Ceng juga segera sembuh seketika ketika mendengar hasil baik yang diperoleh Yo Han dalam menyela?matkan keluarga puteranya. Ketika di?beri tahu tentang kematian kakaknya, nenek ini menangis dan menuntut kepada puteranya agar malam itu juga diadakan sembahyang terhadap arwah kakaknya, mendiang kakek Ciu Lam Hok, yang te?lah mengirim muridnya dan menyelamat?kan mereka. Melihat ini, Yo Han merasa tidak tega untuk menceritakan keadaan kakek Ciu Lam Hok yang buntung kedua kaki tangannya itu. Biarlah mereka menganggap bahwa suhu hidup sampai saat terakhir dalam keadaan sehat dan berbahagia, pikirnya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia mendengar nenek Ciu Ceng yang bersembahyang depan meja sembahyang itu menangis lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, seolah-olah suhunya masih hidup dan berdiri atau duduk di situ. ?Hok-ko, kami sekeluarga hutang budi dan nyawa kepada muridmu! Oleh karena itu, ijinkanlah kami mempererat ikatan antara muridmu dengan keluarga Gan Seng, keponakanmu. Kami mohon perse?tujuanmu agar muridmu dapat menjadi jodoh cucuku Gan Bi Kim.? Tentu saja Yo Han terkejut bukan main. Dia tidak dapat mengeluarkan kata apa pun dan dia lalu diam-diam menyingkir dari ruangan itu, menuju ke kamar yang sudah dipersiapkan untuk dia bermalam di rumah keluarga Gan itu. Dia tidak tahu bahwa gadis cantik itu pun menjadi merah sekali wajahnya dan seperti juga dia, Bi Kim cepat lari memasuki kamarnya. Malam itu Yo Han tidak dapat tidur pulas. Gelisah dia memikirkan ucapan nenek Ciu Ceng. Ucapan itu seperti terdengar terus bergema di dalam telinganya. Dia akan di jodohkan dengan Bi Kim! Terjadi semacam pertempuran di dalam hatinya. Ada suara-suara yang seolah memaksanya untuk membayangkan kasenangan-kesenangan yang akan dinikmatinya kalau dia menjadi suami Bi Kim. Dia seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan tidak punya apa-apa, menda?dak akan menjadi suami seorang gadis puteri bangsawan! Bi Kim seorang gadis yang cantik jelita, berdarah bangsawan dan kaya raya. Kalau dia menjadi suaminya, maka sekaligus derajatnya akan terangkat naik tinggi sekali! Dia akan mempunyai seorang isteri yang cantik jelita, dari keluarga bangsawan yang terhormat dan menurut penglihatannya baik budi. Dia akan menjadi seorang yang dimuliakan, dihormati dan kaya raya. Bahkan besar kemungkinan dia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Dan yang lebih dari semua itu, Bi Kim adalah cucu keponakan mendiang suhunya! Mau apalagi? Belum tentu selama hidupnya dia akan mendapat kesempatan sebaik itu, menerima anugerah sebesar itu. De?mikian bisikan di dalam hatinya yang menonjolkan segi-segi yang akan menda?tangkan kesenangan bagi hidupnya. Akan tetapi, ada suara lain yang me?nentangnya. Suara ini menonjolkan hal-hal yang sebaliknya. Mengingatkan dia bahwa kalau dia menerima perjodoh?an itu, dia akan kehilangan kebebasannya. Dia akan terikat di situ. Dan tiba-tiba saja bayangan seorang anak perempuan yang mungil dan berpakaian merah mun?cul delam benaknya. Sian Li! Bayangan anak ini selalu saja muncul setiap kali harinya mengalami guncangan atau dalam keadaan kesepian atau gelisah seperti sekarang ini. Sian Li yang manis, yang mungil, yang lincah jenaka, yang amat sayang kepadanya dan amat disayangnya! Dia ingin bertemu kembali dengan Sian Li! Dan kalau dia menjadi mantu keluar?ga Gan di kota raja, dia terpaksa harus tinggal di situ, padahal dia masih harus melaksanakan tugas lain yang dipesan suhunya, yaitu mencari mutiara hitam pusaka milik gurunya yang hilang dan kabarnya dibawa seorang kepala suku bangsa Miao! Ah, inilah yang dapat dia jadikan alasan! Mendapatkan jalan untuk dipergunakan sebagai alasan penolakannya hatinya tenang dan dia pun dapat tidur pulas menjelang pagi. Dia hanya tidur selama dua jam saja karena pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika terdengar kokok ayam jan?tan, dia sudah bangun kembali. Tubuhnya terasa segar. Jauh lebih menyehatkan tidur selama dua jam dengan pulas dari?pada tidur semalam suntuk dalam keada?an gelisah. Dia segera mandi karena dalam gedung besar itu selalu tersedia air secukupnya di kamar mandi. Tubuhnya makin nyaman dan dia pun berganti pakaian dan melihat bahwa rumah itu masih sunyi, agaknya penghuninya masih tidur, dia pun keluar melalui pintu belakang menuju ke taman bunga yang berada di belakang. Agaknya, setiap ru?mah gedung seorang bangsawan atau hartawan pasti mempunyai sebuah taman bunga yang indah. Taman bunga milik keluarga Gan itu pun luas dan indah sekali, terdapat kolam ikan yang lebar dan anak sungai buatan yang selalu mengalirkan air yang jernih. Ada beberapa buah jembatan yang cantik sekali, dibuat de?ngan seni indah dan dicat merah kuning. Ada pondok kecil tempat borteduh kalau hawa sedang panas. Yo Han mengagumi keindahan taman itu dan karena pada waktu itu musim bunga sedang mulai, maka sebagian besar tanaman di situ mulai berkuncup dan berbunga. Bahkan teratai merah dan putih di kolam ujung juga mekar meriah. Tiba-tiba Yo Han terkejut dari la?munannya ketika dia melihat seorang wanita berdiri di dekat kolam bunga teratai, membelakanginya. Tadi dia tidak melihatnya karena serumpun mawar me?nutupinya dan sekarang dia melihatnya, akan tetapi sudah terlampau dekat dan selagi dia hendak cepat membalikkan tubuh pergi dari situ, orang itu sudah membalikkan tubuh memandangnya dan menegur. ?Yo-twako (Kakak Yo)....? Yo Han merasa serba salah. Hendak pergi dapat menimbulkan kesan tidak ramah dan sombong, kalau tinggal di situ dapat dianggap kurang sopan karena bertemu dengan gadis puteri tuan rumah di pagi buta dalam taman. Apalagi me?ngingat bahwa semalam, nenek gadis itu menjodohkan dia dengan Bi Kim. Dia cepat merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk untuk memberi hormat. ?Kim-moi (Adik Kim), selamat pagi! Aku tidak tahu bahwa engkau berada di sini, maafkan aku kalau mengganggu ketenanganmu.? Wajah gadis itu berubah kemerahan dan ia menahan senyumnya sambil memandang dari bawah dengan kepala menunduk. Kerling matanya sungguh amat menarik, kerling sopan dan malu-malu. ?Ah, Yo-toako kenapa bersikap amat sungkan? Tentu saja tidak mengganggu. Akan tetapi, kulihat sepagi ini engkau sudah bangun, sudah mandi dan berpakaian rapi!? ?Benar, Kim-moi, karena aku hanya menanti sampai orang tuamu dan nenek?mu bangun untuk berpamit dari mereka.? Bi Kim mengangkat muka den mena?tap wajah Yo Han sepenuhnya dengan mata terbelalak. Diam-diam Yo Han ter?pesona. Mata itu demikian indahnya keti?ka terbelalak. Seperti lukisan! Nampak betapa sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu agak terangkat menjauhi mata betapa bulu mata yang halus lebat itu bergerak-gerak menimbulkan bayang-bayang gelap di sekitar mata, dan biji mata itu nampak lebih lebar dari biasa?nya, begitu bening dan lembut, mengkilat basah. ?Toako.... kau.... kau mau berpamit? Mau pergi....?? Sejenak dua pasang mata bertemu dan mata yang terbelalak itu akhirnya menunduk kembali, terbawa muka yang ditundukkan. Dalam suara itu terkandung getaran seperti orang yang menangis sehingga Yo Han menjadi terheran-heran. Dia menganggukkan muka dan kalau ga?dis itu masih memandangnya, tentu dia tidak akan mengeluarkan suara, cukup dengan mengangguk saja. Akan tetapi karena gadis itu menunduk dan tidak memandangnya, tentu saja anggukan ke?palanya sebagai jawaban itu tidak akan terlihat, dan sikap gadis itu jelas menun?tut jawaban. ?Benar, Kim-moi. Aku akan pergi me?lanjutkan perjalananku,? katanya lirih dan singkat. Gadis itu mengangkat mukanya dan Yo Han merasa semakin heran. Gadis itu jelas menangis, atau setidaknya ber?linang air mata! Sungguh aneh! ?Akan tetapi, semalam nenek....? Tiba-tiba ia menghentikan ucapannya dan me?nunduk makin dalam, agaknya baru ter?ingat bahwa ia telah mengeluarkan ucapan yang sama sekali tidak pantas. Ia tidak sengaja berkata demikian. Ucapan neneknya semalam yang menjodohkan ia dengan pemuda ini terngiang di telinganya sepanjang malam, membuat ia tidak dapat tidur dan pagi-pagi ini ia keluar ke taman dengan suara neneknya masih terus mengiang di telinganya. Oleh karena itulah, tanpa disadari dan tanpa di?sengaja, perasaannya itu terucapkan oleh mulutnya dan biarpun ditahannya, namun ia telah menyebut neneknya dan tentu pemuda itu dapat mengerti. Betapa me?malukan! Memang Yo Han mengerti dan dia pun tertegun. Kiranya seperti juga dia, usul nenek Ciu Ceng itu membuat gadis ini menjadi gelisah! ?Maksudmu, pernyataan nenek Ciu Ceng tentang.... perjodohan itu, Kim-moi? Mendengar betapa ucapan pemuda itu terdengar wajar dan santai, perlahan-lahan kecanggungan yang dirasakan gadis itu pun berkurang dan ia berani meng?angkat muka memandang wajah Yo Han. Bi Kim mengangguk dan bertanya lirih, ?Bagaimana pendapatmu tentang usul nenek itu?? Hemm, gadis ini cukup tabah, pikir Yo Han. Dan dia merasa girang sekali. Memang jauh lebih baik membicarakan urusan ini dengan hati terbuka, daripada harus menyimpannya dalam hati dan menjedi ganjalan kelak. Dia tahu bahwa Bi Kim adalah seorang gadis terpelajar dan mampu berpikir jauh dan berpan?dangan luas, tidak sempit seperti gadis?-gadis yang tiada pendidikan yang baik. ?Nanti dulu, Kim-taoi. Karena usul itu datang dari pihak keluargamu, maka aku ingin sekali mendengar dulu bagai?mana pendapatmu dengan pertanyaan nenek itu. Lebih baik kita bicara dengan terus terang, karena hal ini menyangkut kehidupan kita berdua di masa mendatang. Nah, katakan bagaimana pendapat?mu?" Kembali wajah gadis itu memerah. Biarpun dia bukan gadis dusun dan ber?pendidikan, namun bicara tentang urusan perjodohan tentu saja membuat ia mera?sa kikuk dan malu. Ia kembali menunduk dan suaranya terdengar gemetar dan canggung, juga lirih. ?Apa yang dapat kukatakan, Toako? Engkau telah menyelamatkan keluarga kami, kalau tidak ada bantuanmu, tentu Ayahku dihukum dan kami yang menjadi keluarganya juga tidak akan lolos dari hukuman. Lebih lagi, kalau tidak ada engkau yang menundukkan panglima jahanam itu, dia tentu akan terus merong?rong dan menggangguku. Kini kami bebas dan merasa lega. Semua ini karena pertolonganmu. Tentu saja aku.... aku.... ah, bagaimana aku akan dapat menolak? Aku.... eh setuju sekali.? Yo Han mengerutkan alisnya. Dia mengerti akan isi hati gadis itu. Tidak hanya karena ingin balas budi! Memang gadis itu agaknya suka kepadanya. Hal ini mudah diketahuinya dari pandang matanya dan sikapnya, dan jantungnya sendiri berdebar tegang. Betapa akan senangnya disayang oleh seorang gadis secantik jelita Bi Kim! Akan tetapi, kembali wajah seorang anak perempuan berpakaian merah mun?cul di benaknya, mengusir bayangan me?nyenangkan dari Bi Kim, wajah Sian Li! Dan teringatlah dia akan tugasnya yang penting, yaitu mencari mutiara hitam gurunya. Maka, dia pun diam saja, ter?mangu-mangu dan tidak tahu harus bicara apa. Karena pemuda itu tidak menanggapi pengakuannya tadi, Bi Kim memberanikan diri melawan rasa canggung dan malu, mengangat muka memandang. Ia melihat pemuda itu bengong saja, maka ia pun balik bertanya. ?Bagaimana dengan pendapatmu sendiri, Yo-toako?? suaranya terdengar penuh harap, matanya bersinar-sinar, mulutnya membayangkan senyum dikulum. Mulut gadis itu memang hebat, begitu penuh daya tarik, menggairahkan dan menantang. ?Aku....? Eh, pendapatku? Ah, bagimana, ya? Kim-moi, pemuda mana yang tidak akan bangga hati dan merasa bahagia sekali menjadi jodohmu? Engkau seorang gadis bangsawan yang cantik jelita dan orang tuamu berkedudukan tinggi, bangsawan dan hartawan. Di samping kecantikanmu, engkau pun berpendidikan dan berbudi baik sekali. Apalagi yang dikehendaki seorang pemuda dari seorang gadis? Sebaliknya, aku hanya seorang pemuda yatim piatu yapg tidak mempunyai apa-apa, tidak berpendidikan, bodoh dan miskin. Aku bagaikan seekor burung gagak di samping engkau seperti burung dewata! Bagaimana aku berani menjajarkan diriku yang hina dan papa ini dengan dirimu yang begitu mulia dan anggun?? ?Yo-toako!? Bi Kim berseru penuh penasaran dan alisnya yang hitam kecil panjang melengkung itu berkerut. ?Jangan engkau merendahkan diri seperti itu! Orang boleh rendah hati, itu baik sekali. Akan tetapi rendah diri? Tidak ada gu?nanya, Toako. Apalagi kenyataan menun?jukkan bahwa engkau seorang pemuda yang amat lihai, berilmu tinggi dan di dekatmu, orang akan merasa aman ten?teram, tidak takut menghadapi ancaman apapun juga. Dibandingken dengan engkau, aku seorang gadis yang lemah sekali dan sama sekali tidak berdaya menghadapi kejahatan yang merajalela di dunia ini. Aku hanya bertanya tentang pendapatmu, bukan keadaan dirimu yang kaurendahkan seperti itu, Toako? Yo Han tersenyum. Tepat dugaannya. Gadis ini memang pandai dan cerdik, pandai bicara. ?Maafkan aku, Kim-moi. Aku bukan merendahkan diri, melainkan menyatakan pendapatku berdasarkan ke?nyataan. Akan tetapi bukan keadaan itu yang membuat aku terpaksa tidak berani menerima usul nenekmu, melainkan kare?na aku masih harus melaksanakan tugas yang dipesankan mendiang Suhu kepadaku yaitu mencari sebuah benda pusaka milik Suhu yang hilang dicuri orang.? Gadis itu nampak kecewa, akan teta?pi menutupi perasaannya dengan bertanya serius. ?Pusaka apakah yang hilang itu, Toako?? ?Sebuah benda pusaka milik Suhu yang disebut mutiara hitam, kabarnya kini be?rada di tangan seorang kepala suku bangsa Miao. Karena itu, tugas ini harus kulaksanakan dulu sampai berhasil.? ?Dan kalau engkau sudah berhasil de?ngan tugas itu?? Bi Kim mengejar. ?Kalau sudah berhasil.... bagaimana nanti saja. Kelak masih banyak waktu untuk bicara tentang urusan pribadi, Kim-moi. Bukankah jodoh berada di ta?ngan Tuhan? Kalau Tuhan menghendaki, agar kita.... berjodoh, pasti hal itu akan terjadi. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menghendaki, direncanakan pun akan gagal. Karena itu, terus terang saja, se?belum aku selesai menunaikan tugas dari mendiang Suhu, aku tidak akan memikir?kan soal perjodohan. Maaf, Kim-moi,? katanya cepat menutup ucapannya dengan permintaan maaf karena dia tidak ingin menyinggung perasaan gadis itu. Apalagi melihat wajah gadis itu berubah agak muram. Sampai lama keduanya tidak bicara, kemudian gadis itu membalikkan tubuh?nya membelakangi Yo Han dan terdengar suaranya lirih, ?Seorang laki-laki akan mudah bicara seperti itu, Toako. Akan tetapi bagaimana mungkin seorang pe?rempuan berpendapat seperti itu? Kalau belum ada ikatan dengan seseorang, ma?ka setiap saat orang tua akan menjodohkan seorang gadis dengan pria mana saja yang dianggap baik dan cocok. Dan eng?kau tentu tahu, sebagai seorang anak yang berbakti, tidak mungkin aku dapat menolaknya. Berbeda halnya kalau seorang gadis sudah terikat, biarpun menan?ti sampai beberapa tahun pun tidak ada halangannya....? Yo Han merasa betapa jantungnya berdebar keras. Ucapan dari gadis ini saja sudah mengandung arti pengakuan bahwa gadis itu menginginkan mereka terikat! Ini berarti bahwa gadis ini mengharapkan menjadi calon jodohnya, bahwa gadis ini menaruh harapan kepa?danya dan cinta padanya! Yo Han merasa kasihan. Tidak boleh dia menyia-nyiakan harapan seorang gadis sebaik ini, tidak boleh menghancurkan hatinya. Dia harus dapat mencari alasan yang lebih tepat. Dan teringatlah dia akan Sian Li, akan ayah ibu anak itu, yaitu suhu dan subo?nya, guru-gurunya yang pertama sejak dia kecil sampai dia berusia dua belas tahun! Bukankah suhu dan subonya itu dahulu juga amat sayang kepadanya, bah?kan menganggapnya seperti anak mereka sendiri? Sudah lama, sejak menjadi murid Kakek Ciu Lam Hok, dia menyadari sikap suhu dan subonya yang tidak ingin meli?hat Sian Li ketularan sikapnya yang dulu sama sekali tidak suka belajar ilmu silat. Dia dapat merasakan kekhawatiran kedua orang suami isteri pendeker itu yang tentu saja prihatin sekali melihat murid mereka tidak mau belajar silat, dan me?lihat murid mereka tidak mau belajar silat, dan melihat betapa mungkin saja Sian Li juga mengikuti jejaknya, tidak mau belajar silat. Karena pengertian ini, sudah lama dia tidak pernah merasa ke?cewa atau menyesal. Dia meninggalkan suhu dan subonya itu bukan karena tidak suka, melainkan karena tidak ingin menyusahkan mereka, tidak ingin mengece?wakan mereka kerena Sian Li mencontoh dia, tidak suka belajar ilmu silat. ?Adik Bi Kim. Aku mengerti perasa?anmu. Dan ketahuilah bahwa aku akan berbohong kalau tidak mengatakan bahwa setiap orang pemuda akan berbahagia sekali menjadi calon jodohmu. Akan te?tapi untuk aku sendiri, aku tidak berani memutuskan, karena aku harus bertanya kepada mereka yang berhak menentukan. Aku pun ingin seperti engkau, menjadi seorang yang berbakti....? ?Yo-toako! Bukankah kau pernah me?ngatakan bahwa engkau yatim piatu, tidak mempunyai ayah dan ibu lagi? Dan gurumu, yaitu kakak dari Nenek juga sudah meninggal dunia, lalu siapa lagi yang berhak menentukan?? ?Belum kuceritakan semua tentang riwayatku kepadamu, Kim-moi. Sebelum menjadi murid mendiang Kakek Ciu Lam Hok, aku telah mempunyai guru-guru yaitu sepasang suami isteri yang bukan saja mendidikku, akan tetapi juga mera?watku sejak aku kecil ditinggalkan orang tuaku. Merekalah yang membesarkan aku, sejak aku berusia tujuh tahun ditinggal oleh ayah ibuku, sampai aku berusia dua belas tahun. Lima tahun aku seolah-olah menjadi anak mereka sendiri dan aku telah menerima budi yang berlimpah dari mereka. Oleh karena itu, sudah sepatut?nyalah kalau aku menganggap mereka sebegai pengganti orang tuaku dan me?nyerahkan kepada mereka untuk urusan perjodohanku. Nah, sekarang sudah kau ketahui semua, Kim-moi. Aku mohon diri, hari ini aku akan melanjutkan perjalanan mencari pusaka mendiang Guruku. Sela?mat tinggal dan semoga kelak kita dapat bertemu kembali.? ?Selamat jalan, Toako.? Gadis itu ce?pat membalikkan tubuh dan pergi me?ninggalkan Yo Han, akan tetapi pemuda itu masih sempat melihat tangisnya. Yo Han lalu berpamit kepada Nenek Ciu Ceng, Gan Seng dan isterinya. Gan Seng dan isterinya menyambut dengan ramah dan berterima kasih, akan tetapi Nenek Ciu Ceng tanpa sungkan lagi ber?tanya, ?Yo Han, engkau murid kakakku yang baik. Sebelum engkau pergi, engkau harus lebih dulu menyatakan kesediaanmu menerima permintaan kami.? Berdebar rasa jantung dalam dada Yo ,Han. Tadinya dia mengira bahwa nenek itu lupa akan ucapannya ketika bersem?bahyang di depan meja sembahyang untuk gurunya. Kiranya pada saat ini, nenek itu mengajukan desakan yang membuat dia merasa serba salah. Dia melirik ke?pada Bi Kim yang berdiri di sudut sam?bil menundukkan mukanya, karena baik dia dan gadis itu tahu apa yang dimak?sudkan oleh nenek itu. Akan tetapi, un?tuk memberi kesempatan baginya mene?nangkan hatinya yang terguncang karena tegang dia berkata, ?Permintaan apakah yang Nenek mak?sudkan?? ??Apalagi, Yo Han? Engkau telah me?nyelamatkan keluarga kami, dan kami tidak berani minta apa-apa lagi. Hanya satu, yaitu kami harap engkau suka me?nerima cucuku Bi Kim menjadi jodoh?mu....? ?Nenek....!? Bi Kim terisak dan lari ke dalam kamarnya. Melihat ulah gadis itu, Nenek Ciu Ceng terkekeh. ?Heh-heh-heh, malu-malu berarti mau. Bagaimana, Yo Han? Engkau harus memberi keputus?an dulu agar hati kami merasa lega.? Melihat pemuda itu termenung, Gan Seng yang merasa tidak enak melihat ibunya seperti mendesak dan memaksa, lalu berkata dengan suara lembut. ?Yo Han, tentu saja kami tidak memaksamu. Kami akan merasa berbahagia sekali kalau engkau suka menerima anak kami sebagai calon isterimu, akan tetapi an?daikata engkau tidak suka, kami pun tidak dapat memaksamu.? Justeru ucapan yang lembut dari pembesar ini lebih berat rasanya bagi Yo Han. Bagaimana mungkin dia mengatakan tidak suka dan menolaknya? Dia cepat memberi hormat kepada tiga orang itu. ?Nenek, Paman dan Bibi yang baik, harap maafkan saya. Sungguh saya tidak akan berani menolak, bahkan merasa ter?haru dan berterima kasih sekali atas kebaikan penghargaan Sam-wi (Anda Ber?tiga) yang sudi mencalonkan saya yang yatim piatu dan papa ini sebagai anggau?ta keluarga. Akan tetapi maaf, saya belum dapat memberi keputusan sekerang. Pertama, saya harus menyelesaikan tugas yang diberikan mendiang Suhu, yaitu menemukan kembali pusaka milik Suhu yang dicuri orang. Ke dua, mengenai perjodohan, saya harus menyerahkannya kepada Suhu dan Subo saya yang pertama yang telah menjadi seperti pengganti orang tua saya sebelum saya berguru kepada mendiang Suhu Ciu Lam Hok.? ?Baiklah, Yo Han,? kata Gan-taijin (Pembesar Gan) mendahului agar ibunya tidak sempat mengeluarkan ucapan yang sifatnya memaksa atau menyudutkan pemuda itu. ?Kami sekeluarga akan me?nanti berita darimu setelah engkau dapat membuat keputusan.? ?Terima kasih, Paman. Sekarang saya mohon diri untuk melanjutkan perjalanan saya.? Setelah memberi hormat lagi, Yo Han lalu melangkah keluar. Akan tetapi ter?dengar suara nenek Ciu Ceng, ?Ingat, Yo Han. Kami sudah menganggapmu se?bagai calon suami cucuku Bi Kim. Kami akan menolak pinangan dari manapun juga datangnya dan menunggumu!? Gan Seng dan isterinya tidak sempat mencegah dan ucapan itu berkesan dalam sekali di hati Yo Han. Mereka sudah menganggap dia tunangan Bi Kim dan ini berarti bahwa gadis itu tidak bebas lagi! Dia ingin membantah, akan tetapi merasa tidak enak, maka merasa lebih aman tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan rumah keluarga pembesar tinggi itu. Setelah Yo Han pergi, sampai dua hari lamanya Gan Bi Kim tidak mening?galkan kamarnya. Ia merasa semangatnya melayang ikut pergi bersama pemuda yang dikaguminya dan yang telah menja?tuhkan cinta hatinya itu. Ia merasa ke?hilangan, apalagi karena jawaban pemuda itu membuat ia tidak yakin akan perjo?dohannya dengan pemuda itu. Setelah dapat menenteramkan hatinya, ia lalu menghadap ayahnya dan merengek agar ia dicarikan guru-guru silat yang pandai karena ia ingin belajar ilmu silat. ?Ah, engkau ini aneh-aneh saja, A-kim,? kata ayahnya sambil mengerutkan alisnya. ?Engkau seorang puteri bangsa?wan, engkau sudah mempelajari semua ilmu kepandaian yang sepatutnya dimiliki seorang puteri. Apalagi yang hendak kau?pelajari? Apalagi dari seorang guru silat? Ilmu silat hanya akan membuat telapak tanganmu yang halus menjadi kasar, tu?buhmu yang lembut menjadi kaku!? ?Ayah, lupakah Ayah akan malapetaka yang baru saja menimpa keluarga kita? Semua itu terjadi karena kita lemah! Untung ada Han-ko datang menolong. Andaikata tidak, bagaimana? Coba andai?kata aku pandai ilmu silat, tentu sudah kuhajar Coan-ciangkun yang jahat itu. Ayah, kalau aku pandai ilmu silat, seti?daknya aku akan dapat menjaga keaman?an keluarga kita.? ?A-kim,? kata ibunya membujuk. ?Aku ingin anakku menjadi seorang wanita yang halus lembut dan bijaksana, bukan menjadi tokoh rimba persilatan yang kaku dan kasar!? ?Tapi Ibu agaknya lupa bahwa Koko Yo Han juga seorang tokoh rimba persi?latan, seorang pendekar yang memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Bagaimana kalau aku di jodohkan dengan dia aku lalu sama sekali tidak tahu ilmu silat, bahkan hanya seorang gadis yang amat lemah? Ingatlah, Ayah. Bukankah Uwa kakek Ciu Lam Hok adalah seorang sakti? Masa aku sebagai cucu keponakannya tidak me?ngerti ilmu silat? Ayah, carikan guru si?lat yang lihai untukku!? Alasan-alasan yang dikemukakan pu?teri mereka yang setiap hari merengek itu akhirnya menggerakkan hati Gan Seng. Sebagai seorang pejabat tinggi yang de?kat dengan istana, Gan-taijin mengenal para jagoan istana yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia lalu menghubungi para jagoan itu dan mulai hari itu, Gan Bi Kim belajar ilmu silat dan ternyata ga?dis ini memiliki bakat yang baik disam?ping ketekunan yang luar biasa. Ketekun?an itu timbul setelah keluarga tertimpa malapetaka, setelah dara ini bertemu dengan Yo Han yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dengan bayaran tinggi yang dapat di?penuhi oleh Gan Seng, guru-guru silat jagoan istana itu bertambah gembira melihat betapa gadis puteri bangsawan itu ternyata memiliki bakat yang amat baik dan dapat menjadi murid yang akan menambah tinggi derajat mereka. Bahkan banyak jagoan istana seperti berlumba untuk mengajarkan ilmu-ilmu mereka kepada gadis bangsawan yang berbakat dan amat rajin ini. *** Bangau Merah terbang di angkasa ?disengat terik matahari senja ???betapa ingin aku menjadi awan ?????untuk melindunginya, ???????dari sengatan! Bangau Merah melayang di angkasa ?hujan lebat datang menimpanya ???betapa ingin aku menjadi guha ?????tempat berteduh bangau jelita! Bangau Merah meluncur di angkasa ?letih dan lapar datang menggoda ???betapa ingin aku menjadi ranting ?????berbuah tempat ia istirahat ???????dengan makanan berlimpah Bangau Merah....? ? ?Heiiii! Engkau sedang mengapa di situ, Suheng? Dari tadi kudengar menye?but-nyebut nama samaranku. Engkau dari tadi menyebut Bangau Merah!? Gadis itu muncul dan memang ia berpakaian serba merah dengan garis-garis kuning dan biru. Pakaian itu ringkas, sederhana bentuknya akan tetapi terbuat dari sutera merah yang membuat penampilannya cerah dan wajahnya nampak lebih manis, kulitnya menjadi semakin mulus. Ia seorang gadis berusia tujuh belas tahun, baru manis?manisnya, bagaikan bunga mulai mekar dan bagaikan buah sedang meranum. Da?ra ini memang cantik jelita, dengan wa?jah yang berbentuk bulat telur, matanya lebar dan jeli, hidungnya mancung dengan ujung menantang, mulutnya yang kecil dengan bibir tipis lembut yang selalu kemerahan tanda sehat itu selalu terse?nyum mengejek sehingga sering kali le?sung kedua pipinya nampak memikat. Memang sejak kecil ia disebut Bangau Merah karena ia suka sekali memakai pakaian berwarna kemerahan dan ia pu?teri tunggal Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang amat terkenal itu. Kalau ayahnya hampir selalu mengenakan pa?kaian putih, dara ini selalu mengenakan pakaian berwarna merah. Namanya Tan Sian Li dan seperti telah kita ketahui Sian Li diminta oleh paman kakeknya, yaitu pendekar sakti Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, untuk mewa?risi ilmu silat mereka. Suma Ceng Liong adalah adik dari nenek Sian Li yang ber?nama Suma Hui, yaitu nenek dari ibunya. Biarpun ayah Sian Li sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat, bahkan tidak kalah dibandingkan ilmu kepandaian Suma Ceng Liong, na?mun dia dan isterinya merasa tidak enak untuk menolak niat baik paman mereka itu. Apalagi, Suma Ceng Liong merupa?kan keturunan dari keluarga Pendekar Pulau Es dan memiliki ilmu kepandaian yang khas, sedangkan isterinya juga seorang pendekar wanita sakti, puteri dari Pendekar Suling Emas Kam Hong. Telah lima tahun Sian Li digembleng oleh suami isteri itu di dusun Hong-cun, luar kota Cin-an di Propinsi Shantung. Setiap tahun sekali, jatuh pada hari ta?hun baru, ayah ibunya, yaitu Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, selalu datang berkunjung. Melihat bakat yang baik dari Sian Li, apalagi karena dara ini sejak kecil telah mendapat pendidikan dasar yang amat kuat dari ayah ibunya, maka suami isteri itu mengajarkan ilmu-ilmu silat simpanan mereka kepada dara itu sehingga selama belajar lima tahun lamanya, Sian Li telah menjadi seorang gadis yang amat lihai. Bahkan kelihaiannya melampaui tingkat yang dimiliki suhengnya, yaitu Liem Sian Lun. Pemuda berusia dua puluh tahun yang bersajak tadi adalah Liem Sian Lun, su?hengnya. Sian Lun kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi besar, gagah dan tampan. Wajah?nya selalu cerah dan dia pun pendiam tidak banyak bicara, kecuali kalau diajak bicara tentang sajak. Dia amat suka dan pandai membuat sajak. Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, memang ti?dak mengabaikan pendidikan sastra ter?hadap Sian Lun dan Sian Li. Mereka mengundang guru sastra yang pandai un?tuk mengajarkan ilmu sastra yang lebih mendalam kepada dua orang murid itu. Senja itu memang cerah dan indah. Sejak tadi sebelum Sian Li mancari, Sian Lun sudah duduk termenung seorang diri di lereng bukit yang berada di luar dusun Hong-cun itu. Tempat ini merupakan tempat kesayangannya, di mana dia dan sumoinya seringkali bermain-main sejak Sian Li berusia dua belas tahun dan da?tang ke tempat itu. Bukit yeng tidak besar, namun berada di lereng bukit itu, pemandangan alamnya amat indah. Mere?ka dapat melihat dusun Hong-cun di kaki bukit dan mereka dapat menikmati kein?dahan senjakala di situ karena lereng bukit itu berada di sebelah barat. Ketika tadi melihat keindahan senja yang cerah, melihat burung-burung ba?ngau terbang melayang di angkasa me?lintasi matahari senja, agaknya hendak pulang ke sarang, teringatlah Sian Lun kepada sumoinya. Sumoinya itu diberi julukan Bangau Merah oleh suhu dan su?bonya. Julukan yang tepat sekali karena sumoinya selalu berpakaian merah, sumoinya puteri Pendekar Bangau Putih dan kalau sudah bersilat, gerakan sumoinya demikian indah, seindah gerakan burung bangau yang sedang terbang. Ma?ka, keindahan dan lamunan membuat dia bersajak tentang bangau merah dan tentang keinginan hatinya untuk menjadi pelindung Sang Bangau Merah! Sajak ini merupakan cetusan hatinya karena diam-diam Liem Sian Lun telah jatuh cinta setengah mati kepada sumoinya, Si Ba?ngau Merah! Biarpun dia belum berani menyatakan isi hatinya secara berterang kepada Sian Li, namun dia sudah yakin bahwa sumoi?nya tentu tidak akan menolak cintanya. Dia bahkan sudah yakin bahwa kelak sumoinya pasti akan menjadi isterinya, dan diam-diam dia menganggap sumoinya telah menjadi tunangannya! Keyakinan ini diperkuat ketika secara tidak sengaja dia mendengar percakapan antara suhu dan subonya dari luar kamar mereka. Ketika itu, pada malam hari, dia lewat di depan kamar mereka dan suara mere?ka menembus jendela kamar, tertangkap oleh pendengarannya. ?Kebetulan nama mereka juga mirip. Sian Lun dan Sian Li! Akan tetapi bagai?mana kalau orang tuanya tidak setuju?? terdengar suhunya berkata. Mendengar namanya disebut, Sian Lun memperlam?bat langkahnya dan mendengarkan dengan penuh perhatian. ?Aku percaya keponakanku tentu akan setuju. Apalagi kalau kita jamin bahwa Sian Lun adalah seorang anak yang baik sekali. Kulihat mereka itu berjodoh.? ?Aih, jodoh di tangan Tuhan. Jangan mendahului kehendak Tuhan,? kata suhu?nya dan mereka pun tidak bicara lagi. Sian Lun tidak berani berhenti, hanya memperlambat jalannya sehingga andai?kata suhu dan subonya mendengar tang?kahnya, tentu tidak akan menduga bahwa dia ikut mendengarkan percakapan mere?ka. Dan semenjak mendengar percakapan itu, beberapa bulan yang lalu, dia merasa yakin bahwa Sian Li kelak pasti akan menjadi isterinya! Akan tetapi, Sian Li amat manja dan lincah galak. Apalagi ia tahu betapa suhengnya amat menyayangnya, juga ka?kek dan nenek yang menjadi gurunya. Terhadap Sian Li, Sian Lun agak takut dan penurut, dan hal ini membuat Sian Li semakin manja. Sikap manja yang dalam pandangan Sian Lun bahkan mem?buat dara itu menjadi semakin mengge?maskan dan menarik hati. Cinta berahi kalau sudah mencengke?ram hati seseorang, membuat orang itu menjadi badut. Ulah tingkah menjadi lucu dan tidak wajar lagi. Mulut cemberut seorang yang dicinta akan nampak sema?kin manis, bahkan ada kelakar yang ka?sar mengatakan bahwa kentut seorang kekasih berbau sedap! Sebaliknya, senyum ramah seorang yang dibenci akan nampak mencemoohkan dan dianggap senyum itu mengejek dan mentertawainya sehingga menimbulkan amarah! Sian Lun terkejut ketika dia sedang melamun dan membaca sajak yang tim?bul di saat yang romantis itu, dia dite?gur oleh Sian Li yang kemunculannya tidak diduga sebelumnya. Saking kagetnya dia hanya menoleh dan memandang kearah dara itu yang nampak lebih cantik daripada biasanya, segar habis mandi seperti setangkai bunga bermandikan embun. Melihat pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya dan hanya bengong memandangnya, Sian Li cemberut. ?Heii, Suheng, engkau ini kenapa sih? Tadi menyebut-nyebut Bangau Merah berulang kali, sekarang engkau hanya be?ngong tanpa menjawab pertanyaanku!? ?Sumoi.... aih, engkau.... engkau demi?kian cantik.... indah sekali, ah, pantasnya engkau seorang dewi kahyangan yang ba?ru turun melalui cahaya yang keemas?an....????? Kalau saja tidak timbul kebanggaan oleh pujian ini, tentu Sian Li sudah ter?tawa geli. ?Ahhh, yang benar, Suheng!? katanya memancing pujian lebih banyak. Sian Lun benar terpesona dan mata?nya menatap tak pernah berkedip, seolah takut kalau berkedip, keindahan di de?pannya itu akan lenyap. Dara itu berdiri menghadap matahari senja, sepenuhnya diselimuti cahaya keemasan. ?Sungguh, Sumoi.... rambutmu yang hitam itu kini dilingkari cahaya keku?ningan, wajahmu mencorong oleh cahaya keemasan, engkau nampak begitu segar, begitu hidup, berkilauan, matamu berca?haya, senyummu.... duhai, Sumoi, betapa cantik jelita engkau....? Sian Lun tidak biasa merayu, akan tetapi sekali ini dia terpesona dan seperti dalam mimpi rasa?nya. ?Ah, masa....?? Sian Li berseru manja, haus pujian selanjutnya. ?Sumoi, engkau laksana dewi yang bermandikan cahaya keemasan, cantik jelita mempesona dan....? ?Aiih, sudah-sudah! Bisa terbang melayang ke angkasa aku oleh pujianmu. Mengapa sih tiba-tiba engkau memuji-mujiku seperti ini? Engkau tadi bersajak tentang Burung Bangau Merah, sekarang engkau merayuku setengah mati. Apa engkau mabok Suheng?? Sian Lun menghel napas panjang. Sikap dan ucapan Sian Li membuyarkan suasana romantisnya, menariknya dengan kasar kembali ke bumi yang keras. Dia menarik napas panjang dan wajahnya berubah merah karena mengenangkan si?kap dan kata-katanya tadi membuat dia merasa rikuh dan malu. Kalau dia masih terpesona seperti tadi, tentu akan dija?wabnya bahwa dia memang mabok akan kecantikan sumoinya itu. Akan tetapi sekarang dia sudah sadar dan dia takut kalau-kalau sumoinya menjadi marah. ?Aku tidak mabok, Sumoi. Semua itu kulakukan saking sayangnya aku kepada?mu.? Sian Li tersenyum. Gadis berusia tu?juh belas tahun yang sejak kecil digem?bleng ilmu silat dan kurang pengalaman ini masih belum sadar dan belum me?ngerti akan cinta kasih antara pria dan wanita. Yang dikenalnya hanya rasa sa?yang kepada orang-orang yang dekat dan akrab dengannya. ?Tentu saja engkau sayang padaku, Suheng. Bukankah aku ini sumoimu? Ka?lau tidak sayang, percuma engkau menja?di Suhengku.? Jawaban ini demikian wajar dan Sian Lun merasa betapa kece?wa hatinya. Gadis ini belum tahu! Belum tahu bahwa sayangnya bukan seperti su?heng terhadap sumoi, bukan seperti ka?kak terhadap adik, melainkan sayang yang disertai dendam rindu, disertai be?rahi seorang pria terhadap wanita! ?Aku sangat sayang padamu, Sumoi, entah apakah engkau pun sayang padamu.? ?Tentu saja! Kenapa engkau masih bertanya lagi, Suheng? Kurasa engkau tidak begitu bodoh untuk mengetahui hal itu. Sejak lima tahun yang lalu kita ber?sama-sama latihan silat di sini, belajar sastra, dan bermain bersama-sama. Nah, sekarang kalau memang engkau sayang kepadaku....? ?Apa yang harus kulakukan? Katakan?lah, Sumoi,? kata Sian Lun dengan penuh gairah dan harapan. Untuk menunjukkan rasa sayang, disuruh apa pun dia mau, apalagi kalau disuruh memondong tubuh, biar sehari penuh pun dia bersedia. ?Aku haus dan ingin makan buah leci, Suheng. Kaucarikan untukku, di lereng utara sana banyak pohon lecinya.? ?Baik, akan kucarikan, Sumoi. ?Kau tunggu saja sebentar di sini.? Sian Lun lalu meloncat jauh dan berlari cepat melintasi bukit menuju ke utara di mana terdapat kebun pohon leci yang luas, milik seorang hartawan yang tinggal di kota Cin-an. Dia sudah mengenal baik penjaga kebun itu dan pasti akan diberi kalau dia minta buah leci sekedar dima?kan. Setelah pemuda itu pergi Sian Li duduk sambil termenung dan tersenyum-senyum. Hatinya merasa gembira oleh pujian-pujian tadi. Ia merasa bangga. Suhengnya memang seorang kakak seper?guruan yang amat baik kepadanya. Sejak ia berada di situ, lima tahun yang lalu, suhengnya selalu bersikap baik dan me?ngalah kepadanya. Suhengnya itulah yang membuat ia tidak merasa kesepian ting?gal di rumah paman kakeknya, membuat ia tidak merasa bosan mempelajari ilmu silat dari suami isteri yang sakti itu. Bersama suhengnya ia dapat berlatih si?lat, mempelajari sastra, dan bermain?main. Suhengnya seorang pemuda yang tinggi besar, gagah dan tampan, dan selalu melindunginya. Bahkan pernah suhengnya itu mengejar beberapa orang pemuda kota yang berkunjung ke dusun Hong-cun dan bersikap kurang ajar kepadanya. Ia sendiri tidak mau melayani mereka, akan tetapi suhengnya marah-marah dan menghajar lalu melempar-lemparkan tujuh orang pemuda kota itu ke dalam air Sungai Kuning! Ia sama sekali tidak tahu bahwa perbuatan Sian Lun itu terdorong oleh cemburu! Tiba-tiba perhatiannya tertarik kepada sesosok tubuh orang yang tertatih-tatih mendaki lereng itu. Seorang pria yang sudah tua sekali. Tadinya ia mengira paman kakeknya Suma Ceng Liong yang mencarinya. Akan tetapi setelah agak dekat, ternyata bukan. Dia seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih, pakaiannya model pakaian sastrawan akan tetapi pakaian itu penuh tambalan walaupun bersih. Dia mendaki lereng itu dibantu sebatang tongkat. Rambut dan cambang serta kumis jeng?gotnya sudah putih semua, membuat dia nampak tua dan lemah. Dalam jarak dua puluh meter, kakek itu berhenti, berdiri menekan tongkat dengan kedua tangan, mengangkat muka memandang ke arah Sian Li dan berkata dengan nada suara lembut gembira, ?Ahh, tidak salah lagi. Engkau tentu Ang-ho-li (Nona Bangau Merah)!? Sian Li mengerutkan alisnya. Tidak banyak orang tahu bahwa ia diberi nama julukan itu. Yang mengetahuinya hanya?lah ayah ibunya, paman kakeknya berdua, suhengnya. Bagaimana kakek ini begitu muncul menyebutkan nama julukannya itu? ?Kek, siapakah engkau dan dari mana engkau tahu bahwa aku disebut Bangau Merah?? Suaranya terdengar galak dan pandang matanya penuh selidik. ?Siancai....! Dahulu engkau seorang bo?cah yang mungil lincah, sekarang telah menjadi seorang gadis yang lincah dan galak! Hei, Dewi Baju Merah, apakah engkau benar telah lupa kepadaku? Bebe?rapa tahun yang lalu kita pernah saling jumpa di rumah kakekmu, di Pao-teng.? Sian Li memandang penuh perhatian dan wajahnya berubah seketika. Wajahnya kini cerah dan berseri, senyumnya meng?hias wajah yang manis itu, membentuk lesung mungil di kedua pipinya. ?Aihh, kiranya Locianpwe Yok-sian Lo-kai....!? Ia bangkit dan cepat membe?ri hormat kepada kakek tua renta yang pakaiannya penuh tambalan itu. ?Ha-ha-ha, memang aku adalah Lo-kai (Pengemis Tua) itu! Dan aku telah mencarimu ke rumah ayah ibumu di Ta?tung, lalu menyusul ke Hong-cun. Kakek dan nenekmu yang kini menjadi guru-gurumu mengatakan bahwa engkau tentu berada di lereng bukit ini. Aku segera menyusul ke sini. Siancai.... engkau, telah menjadi seorang gadis, yang lihai dan manis. Dan aku datang untuk menagih janji, ingat?? ?Tentu saja aku ingat, Locianpwe. Dan aku sudah siap sedia untuk meneri?ma pelajaran ilmu pengobatan dirimu.? Kakek itu tertawa gembira dan pada saat itu muncullah Sian Lun yang mem?bawa buah leci yang sudah masak dan cukup banyak. Melihat sumoinya tertawa-tawa dengan seorang kakek yang tidak dikenalnya, dia mengerutkan alisnya. ?Sumoi, siapakah kakek jembel ini?? tanyanya tak senang. Entah mengapa, setiap kali melihat sumoinya beramah tamah dengan seorang laki-laki, tidak peduli laki-laki itu tua atau muda, dia merasa tidak senang, merasa cemburu! ?Hushhh, Suheng, jangan sembarangan engkau memanggil orang! Locianpwe ini adalah guruku, tahu engkau?? bentak Sian Li marah. Sian Lun cepat memberikan buah-buah leci itu kepada sumoinya, lalu dia memberi hormat kepada kakek itu. Dia terkejut bukan main, juga heran mendengar ucapan sumoinya. ?Ah, harap Locianpwe suka memaaf?kan saya yang bersikap tidak so?pan,? katanya. Bagaimanapun juga, Sian Lun bukan hanya mempelajari ilmu silat, akan tetapi juga sastra dan tata susila. Kakek itu tersenyum dan mengang?guk-angguk. ?Siancai.... kiranya Taihiap (Pendekar Besar) Suma Ceng Liong dan isterinya yang gagah perkasa mempunyai seorang murid yang begini gagah. Tidak mengapa, orang muda. Hanya lain kali jangan terburu nafsu menyangka buruk kepada orang lain.? Wajah Sian Lun berubah merah dan sekali lagi dia memberi hormat. ?Maaf?kan saya, Locianpwe. Sumoi, engkau ti?dak pernah bercerita kepadaku tentang suhumu ini. Siapakah beliau ini?? Sian Li menyodorkan buah-buah leci itu kepada Yok-sian Lo-kai dan berkata, ?Suhu, silakan makan. Buah-buah leci ini baru saja dipetik, masih segar dan manis.? Kakek itu tanpa sungkan lagi meng?ambil beberapa butir buah leci. Sian Li lalu menghadapi suhengnya. ?Suheng, Suhuku ini adalah Yok-sian Lo-kai. Lima tahun yang lalu Suhu ini berjanji akan mengajarkan ilmu pengobatan kepadaku dan hari ini dia datang memenuhi janji?nya.? Kembali Sian Lun terkejut. Dia tentu saja pernah mendengar nama besar Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini, yang terkenal bukan hanya karena pandai ilmu pengobatan, akan tetapi juga karena ilmu silatnya, terutama ilmu to?tok jalan darah, yang amat lihai. ?Sekali lagi maaf, Locianpwe, atas sikapku tadi. Sumoi, harap kau maafkan aku dan jangan sampaikan kepada Suhu dan Subo tentang sikapku yang tidak benar tadi.? Sian Li cemberut. ?Tentu saja akan kuberitahukan kepada Kakek dan Nenek. Engkau telah berani menyebut Guruku kakek jembel!? Sian Li yang amat manja terhadap suhengnya itu mengancam. Yok?sian Lo-kai tertawa. ?Ha-ha-ha-ha, engkau keliru, Sian Li. Engkau tidak boleh melapor kepada siapa pun juga. Suhengmu sudah, mengakui ke?salahannya dan minta maaf, hal itu menunjukkan bahwa dia berani bertanggung jawab dan menyesali dan menyadari ke?salahannya. Selain itu, juga aku lebih suka disebut Jembel Tua daripada Dewa Obat, heh-heh-heh! Memang julukanku Jembel Tua, kenapa engkau harus marah mendengar aku disebut Jembel Tua oleh suhengmu? Ha-ha-ha!? ?Baiklah, melihat muka Suhu, aku mau menyudahi perkara ini sampai di sini saja. Nah, sekarang cepat kauberita?hukan kepada Kakek dan Nenek bahwa aku sudah bertemu Suhu Yok-sian Lo-kai dan akan pulang belakangan.? ?Baik, Sumoi. Locianpwe, saya pergi dulu,? kata Sian Lun dengan hati lega. Kalau sumoinya mengadu kepada suhu dan subonya, tentu dia akan mendapatkan teguran keras. Dia lalu berlari cepat turun dari lereng bukit, diikuti pandang mata kakek itu yang masih tersenyum. ?Suhengmu sudah memiliki kepandaian tinggi, ilmunya berlari cepat cukup he?bat,? kakek itu memuji. ?Ah, dia masih terlalu lambat,? kata Sian Li. Jawaban ini menunjukkan bahwa gadis ini tentu dapat berlari lebih cepat dibandingkan suhengnya dan diam-diam kakek itu kagum. Dia percaya bahwa di bawah gemblengan suami isteri sakti se?perti Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, apalagi mengingat bahwa ia puteri Pendekar Bangau Putih, tentu gadis berpakaian merah ini menjadi lihai bukan main. Dia pun bangga kalau dapat menurunkan ilmu-ilmunya kepada dara ini. ?Sian Li, aku ingin memberitahu sedi?kit kepadamu tentang suhengmu itu.? Sian Li yang sedang makan leci, menghentikan gerakan mulutnya dan ia menoleh, memandang kepada kakek itu. ?Apa yang Suhu maksudkan? Suheng telah bersikap kasar, dan dia memang pantas ditegur dan....? ?Hal itu sudah lewat dan tidak perlu dibicarakan lagi, Sian Li. Hanya satu hal ingin kuperingatkan kepadamu tentang suhengmu itu. Engkau berhati-hatilah dengan sikapmu, karena dia amat sayang kepadamu.? ?Tentu saja dia sayang padaku, Suhu. Bukankah dia itu Suhengku? Kenapa aku harus berhati-hati dengan sikapku?? ?Dan bagaimana dengan engkau sendi?ri? Sayangkah engkau kepada suhengmu?? Dara itu memandang Yok-sian dengan sinar mata heran. Pertanyaan yang aneh, pikirnya. ?Tentu saja aku sayang kepada Suheng, Suhu. Bukankah hal itu sudah sewajarnya? Dia berlatih bersamaku, be?lajar bersamaku dan bermain bersamaku sejak lima tahun yang lalu dan dia amat baik kepadamu.? Kakek itu tersenyum maklum. Dara ini masih hijau, masih polos dan belum pernah mengalami cinta berahi, maka kasih sayangnya terhadap suhengnya itu adalah kasih sayang seorang adik terhadap kakaknya.? ?Maksudku, dia pencemburu besar, Jangan bersikap terlalu ramah kepada laki-laki lain kalau tidak ingin melihat dia marah-marah.? ?Aih, itulah yang aneh, Suhu! Pernah ada beberapa orang pemuda menggodaku dan Suheng demikian marahnya sampai dia mengamuk dan hampir saja membu?nuhi orang-orang itu kalau tidak kula?rang....? Kakek itu merasa heran. Dari sikap pemuda itu tadi saja dia sudah mengerti bahwa pemuda itu telah jatuh????cinta pada sumoinya, dan agaknya cintanya berkobar-kobar panas sekali, membuat dia menjadi seorang pencemburu besar sehingga melihat sumoinya beramah tamah dengan seorang kakek seperti dia pun pemuda tadi sudah tidak senang. Itu namanya cemburu, maka engkau harus dapat menjaga sikapmu.? Sian Li mengangguk, padahal ia tidak mengerti mengapa suhengnya bersikap seperti itu. ?Mari kita pulang, Suhu.? Mereka lalu menuruni lereng dan agaknya Yok-sian sengaja hendak mengu?ji ilmu berlari cepat muridnya. Dia sen?diri mengerahkan tenaganya, mengguna?kan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan larinya cepat sekali, sungguh tidak sesuai dengan usianya yang sudah demi?kian lanjut. Namun, biar ia baru berusia tujuh belas tahun, Sian Li sejak kecil digembleng dan ditangani orang-orang sakti, mula-mula oleh ayah ibunya sendi?ri, kemudian oleh Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, suami isteri yang pernah menggegerkan dunia persilatan dengan kelihaian mereka. Maka tidak terlalu mengherankan kalau dara itu bukan saja mampu mengimbangi kecepatan lari Yok-sian Lo-kai, bahkan setelah tiba di ru?mah kakeknya, Dewa Obat itu tertinggal beberapa ratus meter di belakangnya! Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng menyambut mereka di depan rumah sam?bil tertawa melihat dara dan kakek itu berlari-larian, juga Sian Lun telah berada di dekat gurunya. Yok-sian Lo-kai ter?kekeh sambil terengah ketika tiba di depan mereka. ?Aihhh.... aku sudah tua, bagaimana mungkin dapat menandingi kecepatan Si Bangau Merah?? ?Aih, jangan merendahkan diri, Suhu!? kata Sian Li. ?Suhu datang bukan untuk mengajarkan ilmu lari kepadaku, melain?kan ilmu pengobatan!? Semua orang tertawa mendengar ini, juga Sian Lun tersenyum. Baru terasa olehnya betapa dia tadi telah terburu nafsu, merasa iri hati atau cemburu me?lihat sumoinya beramah tamah dengan kakek itu. Demikian, mulai hari itu, Yok-sian Lo-kai mulai mengajarkan ilmu pengobat?an kepada Sian Li. Bukan saja pengeta?huan tentang ramuan obat untuk berba?gai penyakit, juga kakek itu mengajarkan pengobatan dengan tusuk jarum, dengan totokan dan pijatan, dan yang amat menggembirakan hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, juga tentu saja Sian Li sendiri, kakek itu bahkan mengajarkan It-yang Sin-ci, yaitu ilmu totok dengan sebuah jari yang pernah membuat nama kakek itu terkenal di dunia persilatan. Sian Li amat berbakat, dan sudah meml?liki dasar yang kuat, maka dalam waktu tiga bulan saja dara ini telah dapat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan Yok-sian Lo-kai kepadanya. Kakek itu merasa kagum dan juga girang bukan main melihat kecerdasan muridnya. Dia merasa puas bahwa akhir?nya ada seorang murid yang cocok untuk mewarisi ilmunya. Setelah memesan ke?pada muridnya kelak mempergunakan ilmu-ilmunya itu untuk kebaikan, meno?long orang sakit di samping tugasnya sebagai pendekar wanita penentang keja?hatan, Yok-sian Lo-kai lalu meninggalkan rumah Suma Ceng Liong untuk pergi bertapa ke Liong-san dan menghabiskan sisa hidupnya dalam ketenangan. Dia memberikan jarum emas dan peraknya kepada Sian Li. Suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng mengantar keper?gian Dewa Obat itu dengan perjamuan sederhana namun meriah, dan atas nama cucu keponakan mereka, suami isteri ini mengucapkan terima kasih mereka. Biarpun ia sudah menguasai ilmu totok It-yang Sin-ci, namun tentu saja Sian Li hanya baru menguasai cara dan teori penggunaan ilmu itu saja, belum matang karena ia harus banyak berlatih untuk mematangkan ilmu totokan yang dahsyat itu. Demikian pula ilmu pengobatan de?ngan tusuk jarum dan pijatan jari tangan, harus ia latih. Namun, ia telah mengua?sai cara berlatih untuk ilmu-ilmu itu. ? *** ? Liem Sian Lun harus mengerahkan seluruh tenaga, kecepatan gerak dan mengeluarkan semua kemampuannya untuk dapat mengimbangi sumoinya. Gerak?an Sian Li luar biasa cepatnya, bagaikan seekor burung merah yang cekatan sekali berkelebatan bahkan kadang lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah yang diselimuti gulungan sinar pedangnya. Kalau orang lain melihat pertandingan pedang itu, dia tentu akan mengira bah?wa pemuda dan dara itu berkelahi mati-matian. Demikian cepat permainan pe?dang mereka, dan kadang nampak bunga api berpijar kalau dua batang pedang itu bertemu di udara. Namun, sesungguhnya mereka hanya berlatih ilmu pedang sete?lah tadi dalam berlatih silat tangan ko?song Sian Lun terpaksa mengakui keung?gulan sumoinya. Dalam ilmu pedang Sian Lun memang berbakat sekali maka dia mampu mengimbangi permainan pedang sumoinya. Bagi dua orang muda yang sudah me?nguasai benar ilmu pedangnya, tidak mungkin mereka akan saling melukai. Pedang yang mereka pegang itu seolah telah menjadi satu dengan tangan, seper?ti anggauta badan sendiri sehingga mere?ka sudah menguasai sepenuhnya. Setiap detik mereka akan mampu menghentikan tusukan atau bacokan pedang mereka sehingga tidak akan melukai lawan ber?latih. Keduanya berlatih ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Na?ga), yaitu gabungan ilmu pedang Suling Emas dan Naga Siluman yang mereka pelajari dari Kam Bi Eng. Ilmu pedang ini memang hebat. Dari gerakan-gerakan pedang di tangan mereka ternyata bahwa di situ terkandung gerakan yang lembut seperti tiupan suling namun dahsyat dan ganas seperti seekor naga mengamuk. Karena senjata suling adalah senjata yang khas dari keluarga Suling Emas, maka Kam Bi Eng mengganti suling de?ngan pedang dan mengajarkan mereka memainkan ilmu itu dengan sebatang pedang. Kini Sian Li dalam kelebihannya da?lam kecepatan gerakan, mulai mendesak suhengnya. Andaikata mereka itu bertan?ding sungguh-sungguh dalam sebuah per?kelahian, tentu Sian Li akan dapat mero?bohkan suhengnya karena ia memiliki beberapa ilmu yang tidak dipelajari Sian Lun, seperti ilmu totok It-yang Sin-ci dari Yok-sian Lo-kai, dan terutama seka?li Ilmu Silat Bangau Putih yang sejak kecil dipelajarinya dari ayahnya, dan lain-lain. Kini, karena mereka sengaja berlatih ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut, mereka menggunakan ilmu itu saja dan karena keduanya sudah menguasai ilmu pedang itu dengan baik, maka su?karlah untuk suling mengalahkan. Sian Li berhasil mendesak hanya mengandal?kan kecepatannya, dan memang ia lebih cekatan sehingga akhirnya Sian Lun menjadi repot sekali, dan hanya mampu menangkis saja, tidak ada kesempatan lagi untuk membalas. Akan tetapi, dia mengenal semua jurus yang dlpergunakan sumoinya untuk menyerangnya, maka tentu saja dia tahu bagaimana caranya untuk menghindarkan diri. ?Cukup, Sumoi. Engkau terlalu cepat bagiku!? Akhirnya Sian Lun mengakui kekalahannya. Pemuda ini tidak merasa iri atau malu, bahkan merasa bangga bahwa sumoinya demikian hebatnya. ?Suheng, engkau memang kalah cepat akan tetapi kalau engkau mengerahkan seluruh tenagamu, tentu engkau akan dapat mengimbangi aku karena dalam hal penggunaan tenaga tulang dan otot, aku masih kalah.? ?Bagus sekali! Ilmu pedang yang he?bat, orang-orang muda yang mengagum?kan!? Tiba-tiba terdengar pujian orang dan cepat Sian Lun dan Sian Li memba?likkan tubuh dan mereka melihat dua orang yang tahu-tahu telah berada di situ, di dalam taman di mana mereka berlatih ilmu pedang tadi. Kalau dua orang itu dapat muncul demikian tiba-tiba tanpa mereka ketahui, hal ini menunjukkan bahwa dua orang ini tentu bukan orang sembarangan. Sian Li me?mandang dengan teliti. Seorang kakek dan seorang nenek. Kakek itu tentu su?dah enam puluh tahun lebih usianya, namun masih tampak tampan dan jantan dengan kulit agak gelap dan muka bulat yang tidak asing bagi Sian Li. Di pung?gung kakek ini terdapat sepasang pedang dengan ronce biru. Nenek itu yang sama sekali asing bagi Sian Li. Seorang nenek yang usianya juga sekitar enam puluh, namun masih cantik dan anggun. Ia ber?pakaian serba kuning, dengan kerudung kepala kuning pula. Rambutnya yang sudah bercampur uban itu terhias burung merak dari emas yang masih nampak di bawah kerudung suteranya yang tipis. Wajah wanita ini asing,bukan wajah seorang bangsa Han. Biarpun wajah kakek itu tidak asing bagi Sian Li, namun ia tidak tahu siapa kakek itu. ?Kakek dan Nenek yang baik, siapa?kah Jiwi (Anda Berdua)? Dan ada kepen?tingan apakah jiwi masuk ke dalam taman kami ini?? Sian Li bertanya de?ngan lembut. Kakek itu menoleh kepada nenek di sebelahnya sambil tersenyum gembira. ?Kaulihat, bukankah ia mirip sekali de?ngan ibunya?? Lalu dia menghadapi Sian Li lagi dan berkata, ?Aku yakin bahwa engkau tentu Tan Sian Li, bukan? Engkau Si Bangau Merah, bukan?? Sian Li membelalakkan mata. ?Bagaimana engkau bisa mengenalku, Kek? Siapakah engkau? Dan siapa pula Nenek ini?? ?Ha-ha-ha-ha,? kakek itu tertawa. ?Pernah aku berkunjung ke rumah orang tuamu ketika engkau masih kecil, pernah pula engkau membasahi bajuku, ha-ha-ha. Engkau tentu lupa, Sian Li. Aku ada?lah Suma Ciang Bun dan ini isteriku, Gangga Dewi.? Sian Li membelalakkan matanya lagi dan mukanya berubah kemerahan meng?ingat ucapan kakek tadi bahwa ia pernah ngompol ketika masih kecil dipondong kakek itu sehingga membasahi bajunya. Kini ia teringat. Kakek ini adalah adik kandung neneknya, Suma Hui. Berbeda dengan paman kakeknya yang kini men?jadi gurunya. Suma Ceng Liong yang hanya adik sepupu neneknya, kakek yang berada di depannya ini adalah adik kan?dung neneknya. ?Aih, kiranya Ku-kong (Paman Kakek) Suma Ciang Bun!? Sian Li berseru gem?bira. ?Selamat datang, Kakek. Dan Nenek ini, isteri Kakek.... namanya aneh. Nenek Gangga Dewi? Tentu bukan orang Han....? Sian Li lalu memberi hormat kepada dua orang tua itu. ?Suheng, ini adalah kakak sepupu dari Kakek Suma Ceng Liong!? Dara yang lincah itu memberi tahu Sian Lun yang cepat mengangkat tangan memberi hormat kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Gangga Dewi mendekati dan memeluk Sian Li. ?Anak manis, engkau cantik bukan main, Aku memang datang dari Bhutan, dan aku bukanlah orang lain. Seorang di antara guru ayahmu yang bernama Wan Tek Hoat atau Tiong Khi Hwesio adalah mendiang Ayah kandung?ku.? Sian Li menjadi semakin gembira dan balas merangkul sambil memandang ka?gum. Tentu saja ia pernah mendengar cerita ayahnya tentang pendekar Wan Tek Hoat yang berjuluk Si Jari Maut itu, yang telah menikah dengan seorang pute?ri Kerajaan Bhutan. ?Aih, Nenek yang baik. Pantas saja engkau masih kelihatan begini cantik dan anggun. Kiranya engkau adalah seorang puteri Kerajaan Bhutan!? Karena Sian Li memang lincah jenaka dan gembira, maka sebentar saja ia su?dah akrab dengan kakek dan nenek itu, dan mereka lalu memasuki rumah untuk bertemu dengan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Pertemuan itu tentu saja amat menggembirakan. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi pernah satu kali ber?kunjung ke situ sebelum Sian Li tinggal bersama Suma Ceng Liong dan isterinya, bahkan sebelum Sian Lun menjadi murid mereka. Setelah makan bersama, dua orang tamu itu lalu menceritakan pengalaman mereka yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Liem Sian Lun dan terutama sekali Tan Sian Li. Ketika Suma Ciang Bun mengatakan bahwa dia bersama Gangga Dewi akan pergi ke Bhutan, Sian Li segera berkata penuh gairah. ?Ku-kong aku ikut!? Semua orang terkejut. Suma Ceng Liong memandang cucu keponakan itu. ?Aih, Sian Li, kaukira Bhutan itu dekat? Perjalanan ke sana berbulan-bulan!? ?Aku tidak takut perjalanan jauh, Ku-kong! Aku sudah sering mendengar dari Ayah dan Ibu tentang Bhutan yang indah, dan dari Kong-kong Kao Cin Liong aku sering mendengar ceritanya tentang dunia bagian barat. Aku ingin meluaskan pe?ngetahuan dan pengalaman, Ku-kong. Kebetulan sekali ada Ku-kong Suma Ciang Bun dan Nenek Gangga Dewi yang akan menjadi penunjuk jalan. Aku ingin sekali, Ku-kong!? Suma Ceng Liong diam-diam terse?nyum dalam hatinya. Dia tidak merasa heran akan sikap cucu keponakan ini. Memang keluarga mereka semua berdarah pendekar, berdarah petualang. Dia sendi?ri pun dahulu merupakan seorang petua?lang, demikian pula isterinya. Ayah dan ibu Si Bangau Merah ini pun petualang-petualang besar. ?Akan tetapi, bagaimana kalau ayah ibumu datang, Sian Li? Kami tentu akan merasa tidak enak kalau mereka datang dan engkau tidak berada di sini,? kata Kam Bi Eng. ?Akan tetapi Ayah dan Ibu masih enam bulan lagi baru akan datang ke si?ni, seperti biasa setiap tahun baru mere?ka datang. Dan aku akan berusaha agar sebelum tahun baru dapat pulang ke sini. Aku ingin sekali pergi, kebetulan ada Ku-kong dan isterinya yang akan mene?maniku. Tentu saja kalau mereka ini tidak keberatan aku ikut....? Ia meman?dang kepada Suma Ciang Bun dan Gang?ga Dewi yang saling pandang dan terse?nyum. Gangga Dewi mendekat dan merangkulnya. ?Tentu saja aku akan senang se?kali kalau engkau ikut ke Bhutan, Sian Li. Akan tetapi, tanpa perkenan Adik Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, kami tidak akan berani.? Suma Ciang Bun berkata, ?Kami telah membeli sebuah kereta. Kalau kami mempergunakan perjalanan dengan kereta atau berkuda, tentu akan lebih cepat dan kiranya sebelum tahun baru Sian Li akan dapat pulang ke sini.? Suma Ceng Liong memandang kepada kakaknya. Kalau dia membolehkan Sian Li pergi, andaikata dara itu belum pulang ketika ayah ibunya datang, dia merasa tidak enak kepada mereka. Akan tetapi, kalau dia melarangnya, dia akan merasa tidak enak kepada Sian Li, juga kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Se?olah-olah dia tidak percaya kepada me?reka. ?Ku-kong Suma Ceng Liong, kalau aku tidak diberi ijin, aku akan pergi sendiri, tidak bersama Ku-kong Suma Ciang Bun juga tidak apa-apa. Aku ingin merantau ke barat.? Sian Li berkata dan Suma Ceng Liong tertawa. ?Hemm, engkau memang memiliki ha?ti membaja dan kepala membatu. Orang seperti engkau ini mana mungkin bisa dilarang? Sian Lun, engkau temani su?moimu pergi ke barat.? ?Baik, Suhu!? kata Sian Lun dengan tidak menyembunyikan suaranya yang mengandung kegembiraan besar. ?Sian Li kami membolehkan engkau pergi akan tetapi harus ditemani suheng?mu agar kalau engkau pulang, ada yang menemani. Selain itu, kalau orang tuamu datang sebelum engkau pulang, kami dapat menggunakan alasan bahwa Sian Lun juga pergi menemanimu.? Sian Li girang sekali. Ikut sertanya Sian Lun bahkan makin menggembirakan hatinya karena suhengnya itu dianggap sebagai kawan seperjalanan yang akan amat menyenangkan dan juga amat membantu. Ia bersorak, lalu menghampiri Kam Bi Eng dan merangkul nenek itu. ?Terima kasih! Aku tahu bahwa kalian tentu akan memperkenankan, karena ka?lian adalah orang-orang tua yang terbaik di dunia ini!? Suma Ceng Liong dan isterinya hanya tersenyum. Suma Ciang Bun menggeleng-geleng kepalanya melihat sikap Sian Li. Mereka lalu berkemas dan tiga hari ke mudian, berangkatlah mereka berempat meninggalkan dusun Hong-cun. Suma Ciang Bun menjual keretanya dan seba?gai gantinya, dia membeli empat ekor kuda yang baik dan mereka berempat melakukan perjalanan menunggang kuda. Suma Ceng Liong dan isterinya yang mengantar mereka sampai ke luar dusun, diam-diam ikut girang dan terharu meli?hat betapa Sian Li, seperti anak kecil, kelihatan gembira bukan main, melambai-lambaikan tangan kepada mereka. Dara itu memang berbakat sekali menjadi se?orang pendekar. Baru dua hari ia diajar menunggang kuda oleh Gangga Dewi dan sekarang sudah pandai dan berani membalapkan kudanya! Bahkan Sian Lun juga kalah sigap. Mereka yakin bahwa Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, tidak akan marah andaikata mereka datang dan Sian Li belum kembali. Me?reka pun merupakan pendekar-pendekar yang biasa bertualang. Apalagi kepergian Sian Li ini bersama kakeknya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, dan bahkan ditemani pula oleh Liem Sian Lun. Gangga Dewi menjadi penunjuk jalan dan memimpin rombongan itu. Mereka melakukan perjalanan cepat dan hanya berhenti di tempat yang cukup indah untuk mereka nikmati. Karena mereka berempat adalah orang-orang yang ber?kepandaian tinggi dan bertubuh kuat, maka perjalanan itu dapat dilakukan de?ngan cepat. Kalau kuda mereka sudah terlalu lelah, Suma Ciang Bun menukar?kan kuda mereka dengan kuda yang ma?sih segar dengan menambah uang. De?ngan cara demikian, mereka dapat melakukan perjalanan lebih cepat lagi. ? *** ? Pada waktu itu, Kerajaan Mancu atau Dinasti Ceng yang dipimpin Kaisar Kian Liong telah berhasil mengamankan selu?ruh negara.. Di mana-mana terdapat pasukan keamanan yang menjaga tapal batas, dan di semua kota besar terdapat pula benteng pasukan. Pemberontakan-pemberontakan telah dapat dipadamkan, dan biarpun masih terdapat banyak go?longan yang anti pemerintah Mancu, na?mun gerakan mereka hanya di lakukan secara sembunyi, tidak ada yang berani berterang karena pada waktu itu kekuat?an pasukan Mancu amat besar. Apalagi karena Kaisar Kian Liong pandai meng?ambil hati dan banyak menerima orang-orang Han yang pandai, diberi kedudukan tinggi dan bahkan pasukannya diperkuat oleh orang-orang Han yang menganggap bahwa Kaisar Kian Liong, biarpun seo?rang Mancu, namun mementingkan rakyat jelata. Kaisar Kian Liong sudah semakin tua, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, dan dia telah menjadi Kaisar selama li?ma puluh tahun lebih! Belum pernah ada Kaisar yang memegang tampuk kerajaan selama itu dengan berhasil baik. Hal ini adalah karena Kaisar Kian Liong bukan seorang Kaisar yang mabok kedudukan sehingga hanya menjadi pengejar kese?nangan sendiri saja. Sejak muda, Kaisar ini memang terkenal sebagai seorang yang pandai bergaul, bahkan akrab de?ngan para pendekar, dengan rakyat jelata seringkali melakukan perjalanan secara menyamar dan menyusup di kalangan rakyat jelata sehingga namanya dikenal sebagai seorang yang bijaksana dan ra?mah tamah. Bukan hanya karena kekuat?an angkatan perangnya saja Kaisar Kian Liong dapat mempertahankan kedudukan?nya, akan tetapi terutama sekali karena nama baiknya itulah. Pribadi seorang pemimpin memang menentukan kelancar?an pemerintahannya, karena kalau priba?di itu tidak disukai rakyat, sudah pasti menimbulkan pemberontakan di mana-mana. Kaisar Kian Liong pandai meng?ambil hati rakyat, bahkan menundukkan hati orang-orang pribumi Han dengan sikapnya yang menerima kebudayaan, bahkan bahasa Han menjadi bahasa orang-orang Mancu yang memegang ken?dali pemerintahan. Dengan para negara tetangga, biar yang kecil seperti Bhutan, Nepal dan di bagian selatan, Kaisar Kian Liong meng?adakan hubungan yang baik dan menghargai kedaulatan masing-masing. Ini pun mengurangi gerakan gangguan di tapal batas dan perdagangan dengan negara lain berjalan lancar. Kalau pun terdapat pemberontakan, maka hanya terjadi kecil-kecilan dan tersembunyi, seperti yang dilakukan oleh perkumpulan Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang. Akan tetapi kini kedua perkumpulan itu bahkan bermusuh?an, karena Thian-li-pang merupakan per?kumpulan pejuang yang gagah dan sung?guh membela rakyat, sedangkan Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang tidak segan melakukan kejahatan berkedok aga?ma, bahkan dari Agama Buddha yang sudah menyeleweng daripada agama ase?linya, bercampur dengan segala macam tahyul dan ilmu sihir ke arah sesat. Karena kebesaran kerajaan atau Di?nasti Ceng di bawah pimpinan Kaisar Kian Liong, bahkan negara-negara seper?ti Birma, Annam, Nepal, Bhutan, dan Korea merendahkan diri mengirim upeti setiap tahun kepada Kaisar Kian Liong sebagai tanda persahabatan, sebutan yang diperhalus dari keadaan sebenarnya, yaitu taluk tanpa diserang lagi. Hanya Keraja?an Nepal sajalah yang pernah menentang, akan tetapi negara itu diserbu pasukan besar dan ditundukkan, akan tetapi tidak dijajah dan hanya diharuskan mengirim upeti setiap tahun. Karena keadaan yang aman itulah, maka perjalanan Suma Ciang Bun, Gang?ga Dewi, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun berlangsung lancar tanpa ada gangguan di tengah perjalanan. Sian Li merasa gembira bukan main dapat melihat daerah-daerah yang belum pernah dilihat sebelumnya, melihat per?kampungan suku-suku bangsa yang diang?gapnya aneh dan amat menarik. Perkam?pungan-perkampungan yang dilaluinya itu berbeda sama sekali dengan daerah timur berbeda segalanya, dari rumahnya, pakai?annya, bentuk wajah dan bahasa, bahkan makanan pun berbeda! Akan tetapi setelah Gangga Dewi memperkenalkan ia dengan orang-orang asing itu, menterjemahkan percakapannya, mengenal mereka lebih dekat, Sian Li mendapat kenyataan yang amat menyenangkan hatinya. Yaitu bahwa semua perbedaan itu hanya kulitnya saja, hanya lahiriah, hanya kebiasaan hidupnya. Pada hakekatnya, jauh di lubuk hati mereka, mereka itu tidak ada bedanya dengan ia atau seluruh bangsa di timur. Mereka suka bersahabat, suka tertawa membutuhkan kebahagiaan dan menjauhi hal-hal yang tidak enak. Biarpun masakan mereka itu aneh, namun yang berbeda pun hanya cara dan campurannya saja. Pada hakekatnya mereka pun sama dengannya, yaitu tidak menyukai pahit dan getir. Yang disuka seperti juga di timur, manis asin sedikit asam dan pedas. Mereka pun sama saja, tidak suka disakiti lahir batin, ingin disenangkan, sama seperti dirinya juga. Karena merasa bahwa pada hakekatnya sama, Sian Li cepat dapat akrab dengan mereka walaupun kadang-kadang kedua pihak tertegun heran melihat kebiasaan yang amat berbeda diantara mereka. Dengan adanya Gangga Dewi sebagai orang yang berpengalaman, dan juga sebagai penunjuk jalan, pemberi keterangan dan bahkan penerjemah, perjalanan itu terasa amat menyenangkan bagi tiga orang yang lain, terutama sekali bagi Sian Li dan Sian Lun yang baru sekali itu selama hidup mereka lewat di tempat-tempat seperti itu. Biarpun Sian Li amat tertarik dan senang sekali, akan tetapi Gangga Dewi tidak pernah lupa bahwa sebelum tahun baru tiba, Sian Li sudah harus kembali ke rumah Suma Ceng Liong. Oleh karena itu, ia mengajak mereka melakukan perjalanan cepat menuju ke Bhutan. Pada suatu siang, tibalah mereka di perbatasan Bhutan seelah menyeberangi sungai besar yang amat terkenal di Tibet yaitu sungai Yarlung Sangbo atau terkenal pula dengan nama Brahmaputra. Mereka melintasi pegunungan yang paling besar, tinggi dan panjang di seluruh dunia, yaitu Pegunungan Himalaya yang menjadi tapal batas antara Bhutan dan Tibet. Di pegunungan yang amat terkenal ini. Sian Li merasa kagum bu?kan main. Walaupun perjalanan amat sukar, melalui gunung es yang teramat dingin, namun dara itu selalu nampak gembira dan kagum. Siang itu, mereka menuruni lereng bukit terakhir dari Himalaya dan mulai nampak dusun-dusun yang termasuk wila?yah Bhutan. Menjelang senja, mereka bertemu dengan pasukan kecil terdiri dari belasan orang. Ketika pasukan itu melihat Gangga Dewi, mereka cepat turun dari atas kuda mereka dan mem?beri hormat dengan setengah berlutut. Kiranya mereka adalah pasukan keaman?an yang menyamar dengan pakaian biasa, melakukan perondaan di daerah perbatas?an itu. Setelah menerima penghormatan me?reka Gangga Dewi bertanya. ?Apakah yang terjadi? Kenapa kalian melakukan perondaan sampai di sini dan tidak ber?pakaian seragam pula?? Pemimpin pasukan melaporkan kepada Puteri Gangga Dewi bahwa akhir-akhir ini daerah perbatasan itu tidak aman karena diketahui bahwa ada penyelundup dari Nepal memasuki daerah itu. Mereka adalah mata-mata Kekuasaan Nepal, dari pihak keluarga raja yang tidak mau tun?duk kepada Kerajaan Ceng di Cina. Me?reka ini menghasut rakyat di perbatasan Bhutan dan Tibet, untuk bersama-sama menentang dan melakukan perlawanan terhadap orang-orang di perbatasan Pro?pinsi Secuan untuk merong-rong Kerajaan Ceng. ?Ah, kalau begitu kalian harus melak?sanakan tugas dengan baik. Kita tidak ingin terseret oleh pemberontakan orang-orang Nepal itu, apalagi mereka juga menjadi musuh Kerajaan Nepal yang sah. Mereka bahkan pemberontak pula di Ne?pal, petualang-petualang yang ingin men?dapatkan keuntungan pribadi dari pergolakan dan kekacauan,? pesan Gangga Dewi. Dua orang di antara pasukan itu lalu mendahului untuk mengirim berita ke kota raja Thim-phu di Bhutan, se?dangkan pasukan lainnya melanjutkan tugas mereka melakukan penyelidikan. Gangga Dewi mengajak rombongannya melanjutkan perjalanan karena hari telah sore. Mereka akan terpaksa bermalam di sebuah dusun di luar kota Tong-sa-jang karena tentu malam segera tiba, dan mereka pun sudah cukup lelah. Memang hari telah remang-remang, petang telah menjelang ketika mereka memasuki dusun itu. Sian Li dan Sian Lun tertegun kagum ketika melihat be?tapa mereka disambut oleh penghuni dusun yang berduyun menunggu di luar dusun dan bahkan ada tari-tarian yang menyambut kedatangan Sang Puteri! Ki?ranya dua orang perajurit tadi telah memberi kabar ke dusun itu, dan kepala dusun segera mengerahkan orang-orang?nya untuk menyambut. Demi menyenangkan rakyatnya, Gang?ga Dewi segera turun dari atas kuda, diikuti oleh Suma Ciang Bun, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun. Rakyat bersorak gembira ketika Gangga Dewi merangkul dan mencium anak perempuan yang ber?tugas menyerahkan seikat bunga kepada Sang Puteri. Sian Li memandang dengan wajah berseri dan Sian Lun mengagumi belasan orang penari yang terdiri dari gadis-gadis Bhutan yang manis, dengan tarian yang lemah gemulai, tubuh mereka meliak-liuk dengan amat lemas dan len?turnya, diiringi musik yang sederhana, suling dan siter dan tambur, namun ter?dengar demikian asyik dan membuat orang ingin berlenggang-lenggok karena bunyi tambur yang berirama riang itu. Ketika mereka memasuki dusun, me?reka disambut oleh kepala dusun dan semua sesepuh dan pemuka dusun itu dengan segala kehormatan. Disediakan air panas untuk para tamu agung itu mencuci badan, kamar-kamar terbaik di rumah kepala dusun dipersiapkan untuk mereka. Apalagi ketika Puteri Gangga memperkenalkan Suma Ciang Bun seba?gai suaminya, para penduduk semakin gembira. Bagi mereka, puteri mereka yang sudah lama menjanda itu menikah dengan seorang pria Han, bukan merupa?kan halangan, bahkan merupakan kebang?gaan. Bahkan dahulu, Ibu dari Gangga Dewi yang bernama Syanti Dewi, yang mereka puja-puja dan kasihi, juga meni?kah dengan seorang pria Han yang kemu?dian bahkan menjadi panglima yang amat gagah perkasa di Bhutan, yaitu Wan Tek Hoat, ayah Gangga Dewi. Malam itu, seluruh dusun bergembira dan sebuah pesta besar diadakan di pen?dapa rumah kepala dusun yang cukup luas. Para sesepuh dan orang terkemuka di dusun itu hadir sebagai tamu di pang?gung, sedangkan di bawah panggung, di sekeliling pendapa, hampir seluruh penghuni dusun itu berjejal memenuhi tempat itu untuk nonton keramaian, pertunjukan dan untuk melihat puteri mereka, Gangga Dewi yang mereka kagumi sebagai seo?rang puteri yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian seperti seorang dewi! Serombongan penari yang cantik ma?nis, gadis-gadis remaja, belasan orang banyaknya, menari-nari diiringi musik yang sederhana namun menggairahkan seperti musik di daerah itu, yang mem?punyai pukulan gendang dan tambur se?olah-olah menghidupkan semua syaraf di tubuh untuk bergerak dan menari. Puteri Gangga Dewi, Suma Ciang Bun Tan Sian Li dan Liem Sian Lun duduk sebagai tamu kehormatan dan para pena?ri menghadap tamu-tamu agung ini. Para gadis penari itu merasa bangga mendapat kesempatan menari di depan Sang Puteri. Biasanya, hanya penari istana saja yang menari di depan puteri! Mereka hanya penari dusun yang tentu saja tidak pan?dai menari sehalus dan seindah penari istana, namun gerakan mereka wajar dan polos sehingga bagaikan bunga-bunga hutan yang segar. Beberapa orang di an?tara mereka mengerling ke arah Sian Lun dengan kerling tajam dan senyum memikat karena memang pemuda itu nampak gagah perkasa dan tampan, apalagi dia adalah anggauta rombongan Sang Puteri! Sebaliknya, para penabuh musik, para penonton, mengagumi Sian Li yang berpakaian serba merah sehingga secara bisik-bisik para pemuda menyebut Sian Li ?Dewi Merah?! Sian Li sendiri dengan wajah berseri memperhatikan gerak-gerik para penari. Hidangan yang disuguhkan juga aneh-aneh akan tetapi agaknya Gangga Dewi telah memesan kepada kepada dusun agar membuat lauk pauk yang sesuai dengan selera orang Han. Hal ini mudah dilaku?kan oleh para koki bangsa Bhutan karena memang hubungan antara Bhutan dengan Cina sudah terjalin sejak ratusan tahun yang lalu. Banyak pula keturunan orang Cina atau yang disebut Han-Bhutan se?perti Gangga Dewi kini berada di Bhutan seperti juga banyak di situ keturunan Nepal, Tibet, dan India. Sebagai negara kecil yang terkepung negara-negara besar Bhutan mempunyai banyak orang-orang berdarah campuran atau peranakan. Ba?nyak pula orang Han berdatangan ke Bhutan sebagai pedagang, sehingga para koki bangsa Bhutan selain pandai mem?buat masakan khas Bhutan, pandai pula membuat masakan model Nepal, India, Tibet atau Han. Minuman anggur yang disuguhkan juga manis dan lembut, tidak terlalu menyengat seperti arak, dan membuat orang mabok secara perlahan dan tidak dirasakan. Sian Li juga mengagumi para penabuh musik. Mereka itu semua pria, dan masih muda-muda. Pakaian mereka yang khas juga amat menarik, membuat mereka nampak gagah. Mereka lebih pantas men?jadi penari atau ahli silat karena mereka semua membawa golok khas Bhutan di pinggang mereka, dan mereka menabuh musik dengan lagak penari-penari yang lincah. Apalagi penabuh tamburnya. Dia seorang pemuda yang tinggi tegap. Dia menggulung lengan baju ke atas dan nampaklah sepasang lengan yang kokoh dan berotot. Cara dia menabuh tambur sungguh menarik dan gagah, seperti orang bermain silat saja. Kadang-kadang dia melontarkan dua buah kayu pemukul tambur ke atas dan melanjutkan memu?kul tambur dengan jari tangannya, lalu menyambut lagi dua batang pemukul yang meluncur turun. Semua ini dilaku?kan secara berirama. Sian Li kagum. Hebat memang pemu?da yang usianya kurang leblh dua puluh tahun itu. Cara dia melempar pemukul ke atas, lalu menyambutnya kembali tan?pa melihat karena matanya terus mena?tap tamburnya, seolah kedua tangannya bermata, sungguh mengagumkan. Dan pukulan tambur itu pun menggetar penuh kekuatan. Rasanya tidak mungkin dia itu tidak memiliki kepandaian silat dan tenaga sin-kang, pikir Sian Li. Akan tetapi kini perhatian Sian Li terhadap Si Penabuh tambur itu teralih. Tarian gadis-gadis cantik itu sudah sele?sai dan kini muncullah seorang kakek berusia enam puluhan tahun. Kakek ini tinggi besar seperti raksasa dan bermuka hitam, kepalanya gundul atau botak licin dan pakaiannya serba longgar dengan jubah berwarna hitam pula! Menyeramkan sekali kakek ini, terutama sepasang ma?tanya yang bulat besar dengan alis yang terlalu tebal sehingga tidak wajar lagi! Kepala dusun memperkenalkan kakek ini sebagai Lulung Ma, seorang peranakan Tibet yang memiliki keahlian sulap dan bermain ular! Biarpun tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, namun ketika kakek bernama Lulung Ma itu memberi hormat dengan sembah kepada Gangga Dewi, dia dapat bergerak demikian lentur seperti seekor ular besar! Gangga Dewi mengangguk dan tersenyum, lalu berkata, ?Mulailah dengan pertunjukanmu dan lakukan sebaik mungkin.? Para penari dan bahkan para penabuh musik semua mengundurkan diri kecuali pemuda pemukul tambur tadi! Kiranya hanya pemuda itu seorang yang akan membantu Lulung Ma menunjukkan ke?ahliannya. Pemuda itu tetap menahadapi sebuah tambur dan sebuah gendang, dan dengan kedua tangannya, dia mengangkat dua alat musik itu dan mendekati Lulung Ma, lalu duduk bersila di tengah ruangan pertunjukan. Lulung Ma sudah siap. Ketika dia bangkit berdiri, tubuhnya nampak tinggi besar menyeramkan, bahkan pemuda yang tinggi tegap itu pun hanya setinggi dagu?nya! Padahal, pemuda tampan itu sudah termasuk tinggi untuk ukuran biasa. Kini, pemuda itu memperlihatkan kemahirannya memainkan tambur. Suara tambur ber?dentam-dentam dan berirama, kemudian diimbangi suara suling yang bentuknya aneh, ada kepalanya yang sebesar kepal?an tangan. Suling seperti itu disebut suling ular yang biasa dipergunakan oleh ahli-ahli ular di India untuk menjinakkan ular yang liar dan berbisa. Akan tetapi, kakek muka hitam itu tidak bermain ular seperti diduga orang, dia hanya mengimbangi pukulan tambur itu dengan suara sulingnya yang melengking-lengking, memainkan sebuah lagu rakyat Bhutan yang membuat Gangga Dewi dan orang-orang Bhutan di situ mengangguk-angguk mengikuti iramanya. Bagi Sian Li, lagu itu lembut akan teta?pi terasa aneh bagi pendengarannya. Suara suling berhenti dan kini pemuda itu memainkan gendangnya, tidak dipukul keras-keras, melainkan lirih dan sebagai pengantar saja agaknya, walaupun dari suara gendang dapat diketahui bahwa pemuda itu memang ahli menabuh gen?dang. Suara gendang itu bisa terdengar seperti halilintar, bisa seperti riak air atau rintik hujan. Kini, kakek muka hitam itu mulai bermain sulap. Dia bicara dalam bahasa Bhutan yang tidak dime?ngerti oleh Sian Lun dan Sian Li. Akan tetapi Suma Ciang Bun yang sejak men?jadi suami Gangga Dewi telah mempela?jari bahasa daerah isterinya itu, menter?jemahkan kepada mereka. ?Dia berkata bahwa dia akan membagi-bagi bunga kepada para tamu dari kedua tangannya yang kosong.? Sian Li memandang dengan wajah berseri. Selama hidupnya, baru dua kali ia menonton tukang sulap, yaitu ketika ia masih kecil. Melihat tukang sulap mampu mengambil benda-benda dari udara, ia dahulu merasa amat kagum. Akan tetapi ayah bundanya mengatakan bahwa tukang sulap itu mempergunakan alat yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu, dibantu pula oleh kecepatan ke?dua tangannya yang sudah terlatih baik. Sebenarnya tidak ada yang aneh dalam sulapan. ?Jangan-jangan dia hanya menipu kita dengan alat-alat yang sudah dia persiap?kan lebih dulu!? katanya, suaranya cukup kersa karena dianggapnya bahwa yang mengerti bahasanya tentu hanya mereka berempat. Akan tetapi wajahnya berubah kemerahan ketika tukang sulap itu mene?ngok kepadanya dan berkata dengan suaranya yang bersih dan dalam, khas suara raksasa! ?Jangan khawatir, Dewi Merah, aku tidak mempergunakan alat apa pun ke?cuali kedua tanganku yang kosong ini! Maafkan, Nona cantik seperti dewi, dan suka berpakaian merah, maka aku me?nyebut Nona Dewi Merah!? Kiranya rak?sasa muka hitam itu pandai bahasa Han, dengan lancar pula! Dan lebih membuat Sian Li terheran lagi, banyak di antara para tamu dan mereka yang menonton di sekeliling ruangan itu, pendapa yang terbuka menyambut ucapan rakasasa mu?ka hitam itu dengan tawa riuh seolah mereka itu mengerti apa yang diucapkan dalam bahasa Han. Sian Li tidak tahu bahwa demikian baiknya hubungan orang-orang di situ dengan bangsa Han sehing?ga bahasa Han bukan merupakan bahasa yang asing bagi kebanyakan dari mereka. Apalagi di antara mereka ba?nyak pula terdapat keturunan Han. Sege?ra terdengar seruan-seruan dari para pemuda yang tadi kagum kepada Sian Li. ?Dewi Merah....! Dewi Merah....!? Gangga Dewi ikut pula bergembira dan ia mengangkat kedua tangan ke atas untuk menghentikan keributan itu. Sete?lah reda, ia pun memperkenalkan cucu keponakan suaminya itu, ?Ini adalah cucu keponakan kami, julukannya bukan Dewi Merah, melainkan Si Bangau Merah? Banyak orang bersorak dan bertepuk tangan, dan di sana sini terdengar seruan ?Dewi Bangau Merah! Dewi Bangau Me?rah!? Suma Ciang Bun terseret dalam ke?gembiraan itu dan dia pun mengumumkan ?Sebutan itu memang tepat sekali. Na?manya memang Dewi (Sian-li)!? Kembali orang bersorak. Ketika Gangga Dewi melirik dan melihat betapa Sian Lun ti?dak ikut bertepuk tangan, bahkan wajah pemuda itu nampak muram, ia pun me?nahan senyumnya. Ia segera mengenal pemuda ini sebagai pemuda yang jatuh cinta kepada sumoinya, akan tetapi juga amat pencemburu sehingga kalau ada orang lain, terutama pria, yang memuji Sian Li, dia akan merasa tidak senang dan cemburu! Gangga Dewi kembali memberi tanda dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan suara bising itu pun terhenti. ?Lu?lung Ma, harap kau suka memulai dengan janjimu akan memberi hadiah bunga-bu?nga kepada kami semua!? Lulung Ma, Si Raksasa Muka Hitam itu, menjura dan dia membuat gerakan-gerakan seperti biasa diperlihatkan tu?kang sulap, lalu kedua tangan seperti memetik sesuatu dari udara dan.... tiba-tiba saja di kedua tangannya telah me?megang masing-masing setangkai bunga yang segar berikut beberapa batang daunnya, seolah-olah baru saja dia me?metiknya dari udara! Akan tetapi, ketika semua penonton bersorak memuji, Sian Li, Sian Lun, Suma Ciang Bun dan juga Gangga Dewi, hanya tersenyum. Mereka berempat adalah ahli-ahli silat yang me?miliki penglihatan tajam, berbeda dengan orang biasa, dan mereka tadi melihat gerak cepat dari tukang sulap itu yang mengeluarkan dua tangkai bunga itu dari dalam lengan baju hitamnya yang longgar. Memang benar, Lulung Ma tidak mem?pergunakan alat yang sudah dipersiapkan seperti ucapannya tadi, melainkan meng?gunakan kedua tangannya yang dapat bergerak cepat bukan main sehingga ti?dak nampak oleh mata biasa. Jari-jari tangan yang panjang itu ditekuk ke da?lam dan menjepit dua tangkai bunga dari dalam lubang lengan bajunya. Sambil menjura ke kanan kiri me?nyambut tepuk tangan itu, Lulung Ma melangkah ke panggung kehormatan dan menyerahkan dua tangkai bunga itu ke?pada Gangga Dewi dan Sian Li sambil berkata lantang. ?Bunga-bunga yang paling indah dan paling segar untuk Yang Mulia Puteri Gangga Dewi dan Dewi Bangau Merah!? Dua orang wanita itu tersenyum dan menerima bunga itu disambut tepuk ta?ngan para penonton. Sian Lun yang duduk dekat Sian Li, menjadi merah mukanya melihat betapa raksasa hitam itu menyerahkan bunga kepada Sian Li sambil matanya yang lebar memandang tajam dan menyapu seluruh tubuh dara itu. Teringat dia be?tapa tadi Si Hitam ini juga memuji Sian Li cantik seperti dewi. Maka dengan hati panas dia menggunakan kesempatan itu untuk berkata sambil memandang kepada raksasa hitam itu. ?Engkau hanya mengambil bunga-bu?nga itu dari dalam lengan baju. Apa anehnya itu?? Sepasang mata yang bulat dan besar itu kini memandang kepada Sian Lun dengan sinar mata tajam mencorong, membuat Sian Lun agak terkejut akan tetapi tidak melenyapkan rasa tak se?nangnya. Lulung Ma lalu bangkit berdiri, me?mandang kepada seluruh penonton baik yang di atas panggung maupun yang di bawah. ?Saudara sekalian, pemuda ini menuduh aku mengambil bunga-bunga itu dari lengan baju. Apakah kalian melihat aku mengambil sesuatu dari lengan baju? Serentak terdengar jawaban, ?Tidak....! Tidak....!? Lulung Ma lalu tersenyum dan me?mandang lagi kepada Sian Lun. ?Kongcu (Tuan Muda), apakah engkau mampu menyulap bunga seperti yang kulakukan tadi?? Sian Lun diam saja. Andaikata di le?ngan bajunya ditaruhkan bunga lebih da?hulu sekalipun, dia tentu tidak akan mampu mengambil secara cepat sehingga tidak terlihat orang. Untuk pekerjaan itu dibutuhkan latihan yang lama sampai menjadi ahli benar. Dia menggeleng kepala. ?Suheng, jangan mencari keributan!? Sian Li tak senang mendengar celaan Sian Lun itu. Gangga Dewi yang maklum apa yang terjadi di hati pemuda itu, tersenyum dan berkata, ?Memang dia tukang sulap, Sian Lun! Sudahlah, Lulung Ma, harap lanjutkan pertunjukanmu yang menarik ini!? Lulung Ma menjura ke arah Gangga Dewi, lalu mundur kembali ke tengah ruangan mendekati tukang gendang yang masih asyik memukul gendangnya dengan irama lambat dan lirih. Akan tetapi Sian Li tadi sempat melihat betapa pemuda jangkung yang tampan itu memandang ke arah Sian Lun dengan sinar mata mencorong seperti orang marah. Lulung Ma kini menggerak-gerakkan kedua ta?ngannya, memetik dari udara, menjambak rambut sendiri, mengambil dari lubang telinga dan lain gerakan, akan tetapi setiap kali tangannya bergerak, nampak setangkai bunga di tangan itu. Akan te?tapi sekali ini bukan dua batang bunga segar seperti tadi melainkan berpuluh-puluh bunga kertas yang dia bagi-bagikan dan lampar-lemparkan kepada para tamu dan penonton yang menyambut permainan sulapnya ini dengan tepuk tangan meriah dan seruan-seruan keheranan. Sian Li melihat betapa raksasa hitam itu sesungguhnya mempergunakan kece?patan kedua tangannya untuk mengambil bunga-bunga kertas yang disembunyikan di dalam lengan baju dan saku jubah hitamnya. Namun gerakannya memang amat cepat sehingga tidak nampak oleh mata orang biasa yang tidak terlatih. Setelah membagikan semua bunga kertas yang disulapnya secara amat me?ngesankan itu, Lulung Ma lalu memberi hormat ke arah Gangga Dewi dan dia berkata, ?Sekarang hamba hendak menco?ba untuk mengubah kepala hamba men?jadi kepala naga, harap Paduka memaaf?kan hamba.? Mendengar ini, Gangga De?wi mengangguk. Diam-diam puteri ini kagum juga kepada raksasa hitam yang ternyata pandai itu, dan mendengar orang itu hendak mengubah kepalanya menjadi kepala naga, ia pun dapat men?duga bahwa Lulung Ma tentu seorang ahli ilmu sihir. Dan melihat sikap Lulung Ma yang sebelumnya minta maaf kepada?nya, hal itu menunjukkan bahwa raksasa hitam itu tentu sudah tahu akan kepan?daiannya maka sebelumnya minta maaf. Kini Lulung Ma menghadapi para ta?mu dan penonton. ?Saudara sekalian ha?rap suka tenang, sekarang aku ingin me?ngubah kepalaku menjadi kepala naga!? Lalu dalam bahasa Han dia berkata sam?bil memandang ke arah Sian Li dan Sian Lun, ?Dewi Bangau Merah, saya akan mengubah kepala saya ini menjadi kepala naga!? Dan dia memberi isarat kepada pemuda penabuh gendang yang segera mengganti gendangnya dengan tambur dan terdengarlah derap bunyi tambur yang meledak-ledak dan bergemuruh se?perti ada badai dan halilintar mengamuk! Lulung Ma menggerakkan kaki ta?ngannya mengikuti suara tambur, dan makin lama tubuhnya bergetar makin kuat, lalu dia mengeluarkan suara teriak?an melengking, ?Saudara lihat baik-baik, kepalaku adalah kepala naga, hitam!? Kembali dia mengeluarkan suara meleng?king nyaring tinggi yang semakin meren?dah menjadi gerengan yang menggetarkan seluruh ruangan itu, diikuti suara tambur yang menggelegar. Semua orang terbelalak, ada yang mengeluarkan teriakan, bahkan banyak wanita menjerit dan Sian Li merasa be?tapa lengannya dipegang Sian Lun dengan kuat. Ia menoleh dan melihat betapa Sian Lun terbelalak memandang ke arah Lulung Ma. Sian Li tersenyum dan mengerti. Suhengnya itu memang telah me?miliki ilmu silat tinggi dan sin-kang yang kuat, akan tetapi tidak pernah mempela?jari ilmu yang dapat menolak pengaruh sihir seperti Ia. Ia sejak kecil telah di?latih untuk membangkitkan tenaga sakti dari ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Sak?ti Bangau Putih) dan perlahan-lahan sekali, kekuatan itu tumbuh dalam dirinya dan ia pun seperti memiliki kekebalan terhadap sihir. Tadi ia sudah menduga bahwa kakek raksasa hitam itu tentu mempergunakan hoat-sut (sihir), maka ia pun sudah mengerahkan tenaga sakti Pek-ho Sin-kun sehingga ia pun tidak terpengaruh dan melihat bahwa kepala Lulung Ma itu tetap kepala yang tadi, tidak berubah menjadi kepala naga. Dan memang Sian Lun menjadi terkejut dan tegang ketika seperti para penonton lain dia melihat bahwa kepala raksasa hitam itu benar-benar berubah menjadi kepala naga hitam yang amat menyeramkan. Tentu saja bentuk kepala naga itu tidak sama di antara para penonton, tergan?tung dari khayal mereka masing-masing. Ketika Sian Li mengerling ke arah Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, ia melihat dua orang tua ini memandang ke arah Lulung Ma sambil tersenyum tenang, tanda bahwa mereka pun tidak terpenga?ruh. Hal ini tidaklah mengherankan. Suma Ciang Bun adalah keturunan langsung dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es yang merupakan seorang sakti dan ahli sihir pula, maka Suma Ciang Bun yang sudah menguasai tenaga sakti Im dan Yang dari keluarga sakti itu, tidak ter?pengaruh. Demikian pula Gangga Dewi. Ia mewarisi ilmu dari mendiang ayahnya, yaitu Si Jari Maut Wan Tek Hoat, maka begitu melihat kepala itu berubah menja?di kepala naga, dengan cepat wanita ini mengerahkan sin-kangnya dan buyarlah pengaruh sihir itu dari pikirannya. ?Suheng,? bisik Sian Li kepada su?hengnya yang masih memegang lengannya dalam keadaan tegang itu. ?Tenanglah dan kerahkan sin-kangmu untuk meme?cahkan pengaruh yang mencengkeram pendengaran dan penglihatanmu. Semua itu hanya ilmu sihir.? Mendengar bisikan ini, Sian Lun me?lepaskan pegangannya dan dia nampak memejamkan kedua mata, menahan napas lalu mengatur pernapasan dan setelah dia membuka matanya lagi, dia melihat bahwa kepala Lulung Ma kembali seperti biasa. ?Hemm, kiranya ilmu setan untuk menakut-nakuti anak kecil!? Sian Lun berkata untuk melampiaskan kedongkolan hatinya bahwa tadi dia pun sampai terpengaruh dan sempat terkejut dan gentar. Lulung Ma memiliki pendengaran yang amat tajam dan dia dapat menangkap ucapan Sian Lun itu. Dia mengeluarkan suara meraung dan bersamaan dengan bunyi tambur yang semakin menurun, orang-orang melihat asap mengepul me?nutupi kepala naga itu dan ketika asap lenyap, kepala itu sudah kembali menjadi kepala Lulung Ma. Para penonton ber?tepuk tangan dan bersorak menyambut sulapan itu penuh kekaguman. Kembali Sian Li melihat betapa pemuda penabuh tambur itu mengirim pan?dang mata penuh kemarahan kepada Sian Lun sehingga hatinya merasa tidak enak. ?Suheng, kuminta engkau jangan menge?luarkan ucapan yang bukan-bukan. Ingat, kita ini tamu, dan mereka itu hanya menyuguhkan pertunjukan untuk menghi?bur. Sekali lagi engkau bersikap seperti itu, aku akan marah padamu,? bisiknya. Sian Lun memandang kepadanya dan mengangguk. Dia pun merasa betapa kepanasan hatinya tidak beralasan sama sekali dan dia merasa malu sendiri. Kini Lulung Ma sudah memberi hor?mat lagi kepada Gangga Dewi, lalu ke?pada para penonton. ?Sekarang, kami hendak mempersembahkan hiburan berupa permainan dan tari ular!? Kakek raksasa hitam itu mengeluar?kan suling ularnya dan mulai meniup suling dengan suara melengking-lengking. Pemuda penabuh tambur tadi bangkit, menghampiri belasan buah keranjang dan membuka tutup semua keranjang itu, kemudian kembali dia menabuh tambur perlahap-lahan seperti suara rintik hujan. Suara suling melengking-lengking lembut dan para penonton menjadi tegang dan tidak berani mengeluarkan suara atau bergerak ketika dari belasan buah keran?jang itu muncul kepala ular-ular yang besar! Ular-ular itu mengangkat kepala tinggi-tinggi, seperti menjenguk keluar, mengembangkan leher dan mendesia-desis, lidah menjilat-jilat keluar masuk, kemu?dian mereka keluar dari dalam keranjang. Melihat ini, para penonton yang berada paling depan, mundur ketakutan, bahkan para tamu yang duduk di panggung juga mengangkat kaki dengan gentar. Ular-ular itu bukanlah ular biasa, melainkan ular kobra yang berbisa! Sekali saja di?gigit ular berbisa itu, nyawa dapat me?layang! Kini belasan ekor ular itu sudah ke?luar dari dalam keranjang masing-masing dan merayap menghampiri Lulung Ma. Panjang ular itu dari satu sampai satu setengah meter. Mereka merayap dengan kepala terangkat tinggi, kemudian tiba di depan Lulung Ma, belasan ekor ular itu berhenti, masih mengangkat kepala tinggi-tinggi. Lulung Ma menggerak-gerakkan lengan kirinya yang menjadi lemas seperti ular, dengan tangan membentuk kepala ular, dan tangan kanannya memegang suling yang masih ditiupnya. Pemuda itu juga memukul tambur dengan irama lirih dan lambat. Kini, ular-ular itu mulai menari-nari, dengan kepala dilenggang-lenggok?kan, menoleh ke kiri kanan dan nampak seperti belasan orang penari yang me?miliki gerakan lemah gemulai! Para penonton memandang kagum, akan tetapi tidak berani bersorak atau bertepuk tangan, takut kalau mengejutkan ular-ular itu. Suma Ciang Bun pernah mempelajari ilmu menguasai ular dari mendiang ibu?nya. Ibunya yang bernama Kim Hwee Li adalah seorang yang memiliki ilmu pa?wang ular, bahkan Suma Ciang Bun per?nah mempelajari cara memanggil ular bukan dengan suling lagi, melainkan dengan suara yang dikeluarkan dari bibir?nya seperti suitan panjang. Akan tetapi, kini dia kagum menyaksikan kelihaian Lulung Ma mengatur ular-ularnya untuk menari seperti itu. Hanya ular-ular peli?haraan yang sudah dilatih saja yang da?pat disuruh menari seperti itu. Belum tentu raksasa hitam itu mampu mengua?sai dan mengendalikan ular-ular yang liar pikirnya. Agaknya raksasa hitam itu seperti dapat membaca pikiran Suma Ciang Bun karena kini dengan tangan kirinya, dia memberi isarat kepada tukang tambur. Pemuda itu lalu bangkit meninggalkan tamburnya sehingga tinggal suara suling saja yang melengking dan mengendalikan belasan ekor ular itu. Pemuda itu lalu menuruni tangga panggung dan dengan suara lantang minta kepada penonton di bawah agar ?membuka jalan? untuk barisan ular. ?Harap minggir dan membuka jalan. Semua ular di sekitar sini akan dipanggil untuk mengadakan pesta ular!? katanya. Tentu saja orang-orang menjadi ketakutan dan membuka jalan yang cukup lebar seperti dikehendaki pemuda itu. Si Pe?muda Jangkung kembali ke atas panggung dan dia lalu menangkapi belasan ekor ular itu dangan tangannya den mengem?balikan mereka ke dalam keranjang ma?sing-masing. Cara dia menangkap ular-ular itu saja sudah membuat Suma Ciang Bun, Sian Li dan Sian Lun tahu bahwa pemuda itu dapat menggerakkan tangan dengan amat cepatnya. Bahkan ketika ular terakhir hendak ditangkap, ular itu mematuk dengan serangan cepat sekali. Akan tetapi, dengan sikap amat tenang, pemuda itu sudah dapat mendahului, jari tangannya menjepit leher ular dengan amat cekatan dan memasukkan ular itu ke dalam keranjangnya. Diam-diam Sian Li kagum. Gerakan mengelak dan menje?pit leher ular dengan telunjuk dan ibu jari itu tadi jelas merupakan gerakan seorang ahli silat yang pandai. Dengan jepitan seperti itu, pemuda itu agaknya akan mampu menangkap senjata rahasia yang menyambar ke arahdirinya. Ia me?rasa yakin bahwa pemuda jangkung itu tentu pandai ilmu silat. Kini pemuda jangkung itu sudah me?nabuh tamburnya kembali, mengiringi bunyi suling yang melengking begitu tinggi sehingga hampir tidak terdengar, namun terasa getarannya. Suma Ciang Bun terkejut. Itulah lengking tinggi me?manggil ular yang amat kuat dan berpe?ngaruh. Baru dia tahu bahwa tadi dia memandang rendah. Kiranya raksasa hi?tam ini bukan saja mampu memanggil ular-ular liar. Jantungnya berdebar te?gang. Sungguh berbahaya permainan ini, apalagi di situ berkumpul banyak orang. Bagaimana kalau ular-ular itu tidak da?pat dikendalikan dan menyerang orang? Semua orang juga memandang tegang dan tiba-tiba mulailah terdengar suara mendesis-desis dan tercium bau amis. Segera terjadi kekacauan ketika para penonton di bawah ada yang berteriak-teriak. ?Ular....! Ular....!? Pemuda itu sambil terus memukul tamburnya, berteriak dengan suara lan?tang, ?Harap tenang! Jangan ada yang bergerak, dan ular-ular itu tidak akan mengganggu!? Kini nampaklah ular-ular itu. Memang benar, ketika para penonton tidak ber?gerak, ular-ular itu tidak mengganggu. Memang mereka datang dari empat pen?juru, bahkan melalui dekat kaki para penonton, akan tetapi mereka semua seperti tergesa-gesa menuju ke tangga dan naik ke panggung, menghampiri ka?kek raksasa hitam yang meniup suling! Banyak sekali ular-ular itu, puluhan ekor, bahkan ratusan ekor banyaknya, ada yang besar sekali, banyak yang kecil namun amat berbisa! Banyak di antara para tamu bangkit dari tempat duduk mereka karena mera?sa ngeri dan takut kalau-kalau kaki me?reka akan diserang ular. Juga Sian Li dan Sian Lun bangkit berdiri, bukan ta?kut diserang ular, melainkan khawatir kalau ada tamu yang dipatuk ular. Se?orang gadis remaja, puteri kepala dusun yang duduk tak jauh dari mereka, nam?pak pucat sekali dan gadis remaja itu agaknya memang takut ular. Tubuhnya menggigil dan ketika ada dua ekor ular yang panjangnya hanya dua kaki akan tetapi ular-ular itu amat berbisa, lewat di dekat kakinya, gadis remaja itu men?jerit. Dua ekor ular itu kaget dan mem?balik. Melihat itu, seperti berebut saja Sian Li dan Sian Lun meloncat, mende?kati gadis itu. Gerakan mereka ini mem?buat dua ekor ular yang sudah marah dan tadinya hendak menyerang gadis yang menjerit, membalik dan menyerang ke arah Sian Li dan Sian Lun. Ular yang menyerang Sian Lun dan Sian Li itu ada?lah semacam ular yang suka melompat tinggi. Kini mereka pun meloncat dan menyerang dengan kecepatan anak panah. Akan tetapi dengan tenang saja Sian Li menggerakkan tangannya, dan sekali jari-jari tangannya menghantam, ular yang menyerangnya itu terbanting dengan kepala remuk dan tewas seketika! Ada?pun ular yang menyerang Sian Lun, di?sambut oleh pemuda itu dengan cengke?raman ke arah leher ular itu. Sekali dia meremas, leher ular itu hancur dan ular itu pun mati seketika. Lulung Ma, melihat hal itu dan alisnya berkerut. Alis yang tebal sekali itu kini seperti bersambung menjadi satu. Tiupan sulingnya menjadi kacau karena hatinya panas melihat dua ekor ularnya mati, dan hal ini membuat ular-ular itu menja?di panik dan kacau pula! Orang-orang menjerit ketika ular-ular itu mulai lari ke sana sini dengan kacau. Melihat hal ini, Suma Ciang Bun ce?pat bertindak. Terdengar suara meleng?king aneh dan meninggi, dan ular-ular itu menjadi ketakutan. Lenyap semua kemarahan mereka dan mereka pun tidak ganas lagi, melainkan ketakutan dan me?reka lari secepatnya meninggalkan tempat itu seperti dikejar-kejar sesuatu yang membuat mereka ketakutan! Lulung Ma menghentikan tiupan sulingnya. Dia dan pemuda jangkung tukang tambur itu menoleh ke arah Suma Ciang Bun, memandang dengan mata terbelalak. Kemudian, setelah se?mua ular pergi, hanya tinggal dua ekor bangkai ular, Lulung Ma lalu memberi isarat kepada Si Pemuda Jangkung yang segera mengambil dua bangkai ular dan menyimpannya dalam sebuah keranjang. Kemudian Lulung Ma menjura ke arah Gangga Dewi, tentu saja otomatis ke arah Suma Ciang Bun. ?Harap dimaafkan, karena ada yang menjerit ketakutan, ular-ular itu menjadi panik. Masih untung ada Enghiong (Orang Gagah) yang membantu kami mengusir ular-ular itu sehingga tidak ada korban gigitan. Untuk menyatakan maaf, biarlah murid saya ini bermain silat, dan kami akan memperlihatkan tari silat yang je?lek dan hanya sekedar menghibur anda sekalian.? Akan tetapi sebelum Si Jangkung itu bangkit berdiri, dari tempat para penari yang tadi minggir, berlompatan dua orang yang tadi juga menjadi pemain musik. Mereka berusia kurang lebih tiga puluh tahun, yang seorang bertubuh ge?muk, yang ke dua kurus, akan tetapi keduanya tinggi, setinggi raksasa hitam itu dan nampak mereka itu memiliki tenaga otot yang kuat.? Melihat mereka, Lulung Ma tersenyum dan kembali menjura kepada para tamu. ?Agaknya dua orang pembantu kami ini ingin pula memperlihatkan kepandaian mereka untuk menghibur para tamu. Badhu dan Sagha, silakan!? Dua orang itu memberi isarat kepada kawan-kawan mereka dan beberapa orang datang menggotong sebuah keranjang terisi batu-batu sebesar kepala orang. Setelah meletakkan keranjang itu di de?pan Badhu dan Sagha, mereka turun kembali. Badhu yang gemuk dengan perut gen?dut itu berdiri tegak dengan kedua lutut agak ditekuk, memasang kuda-kuda dan memberi isarat kepada kawannya yang tinggi kurus bernama Sagha. Orang ini lalu mengambil sebongkah batu dari ke?ranjang, lalu sekuat tenaga dia menghantamkan batu itu ke arah perut temannya. Perut yang gendut itu menerima hantam?an batu. ?Bukkk!? Pukulan itu membalik. Sa?gha mundur sejauh dua meter lebih, lalu sekuat tenaga dia melontarkan batu itu ke arah perut kawannya. ?Bukk!!? Batu itu mengenai perut dan mental kembali ke arah Sagha yang me?nyambut dengan kedua tangan. Kemudian, Sagha melemparkan batu itu menghantam ke arah dada, paha, pundak, bahkan dari belakang mengenai punggung dan pinggul. Akan tetapi batu itu selalu mental kem?bali. Tentu saja semua orang menjadi kagum. Tubuh Si Gendut itu memang kebal. Kemudian, Badhu juga mengambil sebongkah batu dan menghantamkan batu ke arah Sagha yang kurus. Si Kurus ini menyambut dengan batu di tangannya. ?Darr....!? Dua buah batu itu pecah berhamburan. Mereka mengambil batu lagi dan kini mereka saling hantam, bukan saja di tu?buh, melainkan di kepala. Akan tetapi setiap kali batu itu dihantamkan ke kepala lawan, batu itu pecah berhamburan! Tentu saja para penonton menyambut dengan sorak-sorak dan tepuk tangan karena pertunjukan ini benar-benar me?negangkan dan juga mengagumkan. Ba?gaimana kepala orang dapat begitu kebal dan keras sehingga batu besar pun pecah ketika bertemu kepala! Setelah sepuluh buah batu besar itu pecah, kedua orang itu lalu mengadu kekuatan dengan bergulat! Badhu yang gendut berhasil memegang pinggang Sa?gha yang kurus dengan kedua tangan, mengerahkan tenaga mengangkat tubuh kurus itu ke atas, memutar-mutarnya dan membanting sekuat tenaga. ?Bukkk....!? Tubuh kurus itu terbanting dan kalau orang lain dibanting sekeras itu, tentu akan patah-patah semua tulangnya. Akan tetapi seperti sebuah bola saja, Si Kurus sudah meloncat bangun kembali, dan kini dia menyergap Si Gen?dut, menangkap lengannya, dipuntir ke belakang dan dari belakang tubuhnya dia membanting kawannya itu dengan sepe?nuh tenaga. ?Bukkk!? Tubuh gendut gemuk itu terbanting dan semua orang merasa kha?watir. Akan tetapi seperti juga temannya tadi, segera dia bangkit kembali, seolah?-olah bantingan tadi sama sekali tidak dirasakannya. Sekarang mereka tidak bergulat lagi, melainkan berkelahi saling pukul dan saling tendang. Dan agaknya mereka ingin memamerkan kecepatan gerakan mereka. Pukulan dan tendangan mereka elakkan atau tangkis, dan yang sempat mengenai tubuh pun tidak dirasakan ka?rena keduanya memiliki kekebalan. Demikian serunya perkelahian itu sehingga memancing tepuk sorak para penonton yang merasa kagum bukan main karena mereka seperti melihat dua ekor harimau bertarung. Memang hebat sekali perkela?hian itu, apalagi diiringi musik tambur dan genderang yang dipiikul secara kuat oleh Lulung Ma dan pemuda jangkung. Akhirnya, Lulung Ma yang memukul gen?dang memberi isarat dengan pukulan gendangnya yang semakin lambat dan lirih dan akhirnya dua orang yang sedang bertanding itu pun menghentikan pertan?dingan mereka. Dengan sikap bangga dan dada terangkat, Si Gendut yang bernama Badhu lalu memandang kepada para tamu dan para penonton. ?Saudara sekalian, kurang menarik kalau hanya saya dan adik saya Sagha ini yang bertanding karena kami berdua sama kuat dan tidak ada yang dapat menang atau kalah. Kita semua tahu betapa kuatnya bangsa kita yang hidup di sekitar Pegunungan Himalaya ini, ti?dak dapat disamakan dengan mereka yang tinggal di timur, yang kerempeng dan berpenyakitan. Akan tetapi, kalau ada di antara saudara yang mengaku orang timur dan merasa memiliki kepan?daian yang katanya dimiliki orang-orang di dunia persilatan, silakan maju. Mari kita ramaikan pertemuan ini dengan main-main sebentar untuk membuka mata kita siapa sesungguhnya yang lebih kuat antara orang-orang di Pegunungan Himalaya!? Dengan sikap menantang Badhu dan Sagha berdiri di situ sambil memandang ke arah Sian Lun dan Sian Li, juga Suma Ciang Bun. Jelas bahwa biar dia tidak menantang secara langsung, akan tetapi di tempat itu yang jelas merupakan pendatang dari timur adalah mereka bertiga itu. Sian Lun dan Sian Li, saling pandang dan dari pandang mata itu mereka ber?sepakat untuk menyambut tantangan itu. Sian Li menoleh kepada nenek Gangga Dewi dan bertanya, ?Bolehkah kami me?layani tantangan mereka?? Gangga Dewi dan suaminya saling pandang. Diam-diam Gangga Dewi juga marah melihat sikap dua orang pegulat itu yang dianggapnya terlalu sombong dan merendahkan orang-orang Han de?ngansengaja. Ia mengangguk dan menja?wab. ?Biar Sian Lun yang maju lebih dulu menghadapi Badhu, dan engkau nanti yang menghadapi Sagha.? Sian Lun yang sejak tadi sudah men?dongkol sekali, segera bangkit dan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah me?layang ke depan dua orang itu. ?Aku orang dari timur yang kerem?peng dan lemah ingin mencoba kehebatan seorang di antara kalian!? kata Sian Lun dengan suara lantang. Suasana menjadi tegang. Semua orang tahu bahwa pemuda tampan itu adalah anggauta rombongan Puteri Gangga Dewi dan dari pakaiannya saja jelas dapat diketahui bahwa dia seorang pemuda Han. Kalau saja Sian Lun bukan anggauta rombongan Puteri Gangga Dewi, tentu Badhu sudah mengejek dan menghinanya. Akan tetapi mengingat akan kehadiran puteri Bhutan itu, Badhu tidak berani bersikap kasar dan dia pun menjura se?bagai penghormatan. ?Saya tidak berani menentang Kongcu, dan yang saya maksudkan adalah mereka yang datang dari timur daerah Se-cuan. Akan tetapi kalau tidak ada yang berani maju kecuali Kongcu baiklah saya akan layani Kongcu main-main sebentar.? Sagha tersenyum dan Si Tinggi Kurus ini lalu mengundurkan diri ke rombongan penari dan pemain musik tadi. Kini Lu?lung Ma dan pemuda penabuh tambur memukul tambur dan gendang dengan gencar dan mereka kelihatan gembira sekali. Sian Li yang memandang rendah dua orang pegulat itu, berseru dengan lantang. ?Suheng, jangan sampai membunuh orang!? Sian Lun mengangguk, dan mendengar ucapan gadis itu, Lulung Ma dengan ta?ngan masih menabuh gendang, menjawab. ?Nona Dewi Bangau Merah, pembantuku Badhu ini belum pernah dikalahkan lawan bagaimana mungkin dia dapat dibunuh? Dan jangan khawatir, kami juga tidak mau membunuh orang dalam pesta ini, hanya sekadar menghibur dengan pertun?jukan menarik. Badhu, mulailah!? Dua orang itu sudah saling berhadap?an. Sian Lun bersikap tenang walaupun hatinya panas mendengar ucapan Lulun Ma tadi. Namun dia sebagai murid suami isteri yang sakti, tahu bahwa membiar?kan diri diseret perasaan amat merugikan. Dia tetap tenang dan waspada, dan dia mengikuti setiap gerakan lawan dengan pandang matanya yang mencorong tajam. Bagaikan seekor biruang, Badhu yang gendut itu mengangkat kedua tangan ke atas kanan kiri kepala, lalu membuat langkah perlahan mengitari Sian Lun. Pemuda itu mengikuti dengan gerakan kakinya tetap waspada. ?Kongcu, silakan menyerang lebih du?lu,? kata Badhu yang memandang rendah pemuda yang nampak lemah itu. ?Badhu, engkau yang memantang, eng?kau pula yang harus menyerang lebih dulu,? jawab Sian Lun dengan sikap tetap tenang. ?Ha-ha-ha, engkau terlalu sungkan, Kongcu. Baiklah, aku akan menyerang lebih dulu. Awas seranganku ini!? Tangan kirinya menyambar dari atas, akan teta?pi Sian Lun membiarkan saja karena dia tahu dari gerakan pundak lawan bahwa tangan kiri itu hanya menggertak saja, sedangkan yang sungguh menyerang ada?lah tangan kanan yang menyambar ke arah pundaknya. Agaknya lawan terlalu memandang rendah kepadanya, disangka?nya akan begitu mudah dia tangkap! Hanya dengan memutar tubuh sedikit saja, tubrukan tangan kanan itu menge?nai tempat kosong. Badhu menyusulkan serangannya bertubi-tubi. Kedua tangan?nya bagaikan cakar biruang menyambar-nyambar untuk menyengkeram dan me?nangkap. Sian Lun maklum bahwa orang ini memiliki keahlian dalam ilmu gulat, maka dia harus menjaga agar jangan sampai dia dapat ditangkap. Tangkapan atau cengkeraman seorang ahli gulat dapat berbahaya. Maka, dia pun menge?lak selalu dan kadang menangkis dari samping tanpa memberi kesempatan ke?pada jari-jari tangan yang panjang itu untuk menangkapnya. Ketika Badhu yang mulai penasaran karena semua sambaran tangannya tak pernah berhasil itu menubruk seperti se?ekor harimau, dengan kedua lengan di kembangkan. Sian Lun menggeser kakinya ke kiri dan tubuhnya mengelak dengan?????lincah dan begitu tubuh Badhu lewat di sebelah kanannya, dia pun mengerahkan?tenaga dan menghantam ke arah lambung lawan. ?Desss....!? Tubuh lawan itu terbanting keras dan bergulingan, akan tetapi seperti bola karet, dia sudah bangkit kembali dan sama sekali tidak kelihatan sakit, bahkan meloncat dan menubruknya lagi. Sekali ini Badhu marah karena biarpun dia tidak terluka, namun dia telah terbanting dan hal ini bisa dianggap bahwa dia kalah oleh para penonton. Kini dia tidak hanya menubruk, bahkan mencengkeram ke arah kepala. Dia memang kebal, pikir Sian Lun. Kembali dia mengelak dan sekali ini, dia tidak mau menggunakan tenaga untuk memukul lawan begitu saja, melainkan dia menggunakan tangan yang dibuka, dan tangan itu menampar ke arah muka orang. Yang diarah adalah hidung dan mata karena yakin bahwa betapa pun kebal kepala itu, kalau hidung dan mata tidak mungkin dilatih kekebalan.?? ?Plakkk!? Tubuh itu tidak terguncang, akan tetapi Badhu mengeluarkan seruan kesakitan dan kedua tangannya menutupi mukanya. Ketika dia menurunkan tangannya, hidungnya menjadi biru dan sebelah matanya juga dilingkari warna menghitam! Badhu adalah orang kasar yang biasa mempergunakan kekerasan. Kalau dia biasa menggunakan otaknya, tentu dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawanyang jauh lebih tinggi ilmunya dibandingkan dia yang hanya menggunakan kekuatan otot dan keras serta tebalnya tulang dan kulit. Kini, dia menjadi marah sekali dan lupa diri. Dia menggereng seperti harimau terluka dan dia menyerang Sian Lun dengan liar dan membabi-buta. Serangan membabi-buta seperti itu malah berbahaya, pikir Sian Lun. Maka dia pun menggunakan kelincahan tubuhnya, mengelak sambil membalas dengan pukulan-pukulan tangan terbuka yang ditujukan ke arah bagian badan yang tidak mungkin dilatih kekebalan. Berkali-kali tangannya menampar daun telinga, sambungan siku dan pergelangan tangan, kakinya menen?dang ke arah sambungan lutut kedua kaki lawan. ?Brukk....!? Sekali ini Badhu jatuh dan biarpun dia berusaha untuk bangkit, dia jatuh kembali karena sambungan kedua lututnya telah berpindah tempat! Para penonton menahan napas dan suasana menjadi tegang bukan main. Tidak ada yang berani bertepuk tangan karena selain mereka merasa bangga kepada Badhu juga mereka masih tidak dapat percaya bahwa seorang pemuda yang kelihatan lemah itu benar-benar mampu membuat Badhu bertekuk lutut tanpa mengalami cidera sedikit pun, bahkan belum pernah tersentuh tangan raksasa gendut itu! Terdengar tepuk tangan dan ternyata yang bertepuk tangan adalah Sian Li! Biarpun hanya ia seorang yang bertepuk tangan, akan tetapi karena ia sengaja mengerahkan tenaganya, maka suara te?puk tangannya amat nyaring. Sagha sudah membawa teman-teman pemain musik untuk membantu Badhu meninggalkan gelanggang pertandingan dan dia sendiri menghadapi Sian Lun dengan muka merah. ?Kongcu hebat dapat mengalahkan Kakakku, akan tetapi aku pun ingin mengadu ilmu denganmu. Bersiaplah!? Sian Lun tentu saja tidak takut. akan tetapi pada saat itu nampak berkelebat bayangan merah. ?Suheng, jangan tamak! Yang satu ini bagianku!? Sian Lun memandang kepada sumoinya dan tersenyum. ?Hati-hati Sumoi, jangan kesalahan tangan membunuh orang, katanya dan dia pun kembali ke tempat duduknya. Semua tamu dan penonton kini memandang kepada Sian Li dan karena mereka tadi sudah kagum kepada gadis jelita itu, kini melihat gadis itu berani manghadapi dan hendak melawan seorang jagoan seperti Sagha, tentu saja mereka semakin kagum, juga perasaan hati me?reka tegang. Bagaimana kalau kulit yang halus mulus itu sampai lecet, tulang yang kecil lembut itu sampai patah-patah. Tentu saja tidak ada yang mengira bahwa tingkat kepandaian dara itu bahkan lebih tinggi daripada tingkat kepandaian pemuda tampan yang tadi mempermainkan dan mengalahkan Badhu! Sagha sendiri terkenal jagoan. Karena dia merasa bangga kepada diri sendiri dan jarang menemui tandingan, maka kini dihadapi seorang dara sebagai calon lawan, tentu saja dia merasa sungkan dan tidak enak sekali. ?Nona, aku Sagha adalah seorang laki laki yang gagah perkasa dan tak pernah mundur menghadapi lawan yang bagaima?napun juga. Akan tetapi, bagaimana mumgkin aku berani melawan seorang dara yang masih setengah kanak-kanak seperti Nona? Seluruh dunia akan mentertawakan aku, menang atau pun kalah. Lebih baik aku melawan lima orang laki-laki yang mengeroyokku daripada harus bertanding melawan seorang dara rema?ja!? Sian Li tersenyum mengejek. ?Sagha, katakan saja engkau takut melawan aku. Kalau engkau takut, berlututlah dan ca?but semua omongan kalian yang sombong tadi, yang mengejek dan menghina para pendekar dari dunia persilatan di timur! Engkau harus menarik ucapanmu tadi dan mohon maaf, baru aku dapat mengampunimu!? Mereka yang memahami bahasa Han, menjadi bengong mendengar ucapan gadis itu. Betapa beraninya! Dan mereka yang tidak paham, cepat bertanya kepada te?man mereka yang mengerti dan semua orang kini memandang kepada Sian Li dengan kaget dan heran. Seorang gadis yang usianya belum dewasa benar berani bersikap demikian meremehkan terhadap seorang jagoan seperti Sagha yang tadi sudah mendemontrasikan kekebalan dan kehebatan tenaganya! Baru kepala dan tubuh yang lain saja demikian kuatnya, kepalanya mampu membikin pecah batu, apalagi tangannya. Sekali sentuh saja, mungkin kepala gadis remaja itu akan remuk! Mendengar ucapan Sian Li, Sagha mengerutkan alisnya dan mukanya menja?di merah sekali. Kalau bukan seorang gadis yang mengucapkan kata-kata tadi, tentu telah dihantamnya. Akan tetapi dia berhadapan dengan seorang gadis anggauta rombongan Sang Puteri Gangga Dewi pula, tentu saja dia tidak berani sembarangan. ?Nona, mungkin saja Nona pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi eng?kau bukan lawanku. Aku tidak takut ke?padamu, melainkan takut kalau dlterta?wakan orang gagah sedunia. Pula, bagai?mana aku berani bertanding dengan eng?kau yang datang bersama Yang Mulia Puterl Gangga Dewi? Aku takut menda?pat marah dari beliau.? Gangga Dewi yang mendengar ucapan Sagha itu tersenyum. Ia sudah tahu bah?wa Sian Li telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat, bahkan tingkatnya lebih tangguh dibandingkan suhengnya. Oleh karena itu, tentu saja ia merasa yakin bahwa Sian Li akan mampu menandingi dan bahkan mengalahkan Sagha dengan mudah. Juga ia ingin orang yang som?bong itu menerima hajaran karena telah berani mengejek dan menghina para pen?dekar Han. ?Sagha, engkau boleh bertanding me?lawan Si Bangau Merah. Kalau engkau mampu menang, baru aku mengaku bahwa engkau memang seorang jagoan yang hebat.? Sagha memberi hormat kepada Gang?ga Dewi. ?Maafkan saya. Akan tetapi bagaimana kalau hamba kesalahan tangan dan melukai Nona ini? Hamba tidak ingin Paduka nanti marah kepada hamba.? Gangga Dewi tertawa. ?Aku tidak akan marah dan semua orang yang bera?da di sini menjadi saksinya.? ?Terima kasih, Yang Mulia,? kata Sagha dan kini dia menghadapi Sian Li. ?Baik, Nona. Mari kita main-main seben?tar.? ?Tidak usah main-main, keluarkan se?mua kepandaianmu dan seranglah sung?guh-sungguh karena aku akan meroboh?kanmu!? kata Sian Li. Hemm, bocah ini terlalu memandang rendah kepadaku, pikir Sagha marah. Dia pun tidak sungkan-sungkan lagi dan me?ngambil keputusan untuk membikin malu gadis itu di depan umum, misalnya de?ngan merobek baju itu! ?Nona, jaga seranganku ini!? Dan ke?dua tangannya yang besar dengan lengan yang panjang itu sudah bergerak cepat menyambar ke arah tubuh dara remaja itu tanpa sungkan lagi. Dibandingkan Badhu, Sagha yang tinggi kurus ini me?mang lebih sigap dan cepat. ?Hyaaaahhhh....!? Dia membentak sam?bil menyerang. ?Plakkk!? Kedua telapak tangannya saling bertemu dari kanan kiri dan me?ngeluarkan bunyi keras ketika terkaman?nya itu luput, dan gadis yang tadi berada di depannya itu telah lenyap. Cepat dia membalik dan kembali kedua lengan pan?jang itu bergerak seperti dua ekor ular, akan tetapi kembali terkamannya menge?nai tempat kosong. Makin cepat dia me?nyerang, semakin cepat pula Sian Li bergerak sehingga semua penonton men?jadi bengong saking kagumnya. Tubuh gadis itu lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah berkelebatan dengan amat cepatnya, menyambar-nyambar di antara terkaman dan cengkeraman kedua tangan Sagha. Tiba-tiba, ketika Sian Li menganggap sudah cukup lama mempermainkan lawan, ia berseru nyaring dan jari telunjuk kiri?nya meluncur bagaikan patuk burung bangau mematuk dengan cepat seperti kilat menyambar.?Haiiitttt....! Tukkk!? Telunjuk kiri itu menotok dua kali ke pundak dan dada dan seketika Sagha tidak mampu berge?rak karena dia telah menjadi korban ilmu totok ampuh It-yang Sin-ci yang dipelajari gadis itu dari Yok-sian Lo-kai. Sian Li juga telah menguasai ilmu totok lain seperti Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang hebat dari paman kakeknya, akan tetapi ia menggunakan It-yang Sin-ci untuk mempraktekkan ilmu yang baru saja ia pelajari dari Raja Obat itu. Dan pada saat lawan tak mampu bergerak, kaki Sian Li menyambar ke arah lutut dan Sagha yang tidak mampu mengerah?kan tenagalagi roboh terpelanting. Pada saat lawan terpelanting itu, Sian Li membebaskan kembali totokannya. Para penonton kini tidak mampu lagi menahan kekaguman dan kegembiraan mereka melihat betapa Dewi Bangau Merah telah benar-benar mampu mero?bohkan Sagha! Terdengar tepuk sorak riuh menyambut kejatuhan Sagha. ?Hemmm, mana kepandaianmu yang membuat engkau sombong dan mengejek para pendekar dari timur? Hanya sebegi?ni saja?? Sian Li mengejek dengan suara lantang, dan kembali terdengar orang menyambut dengan suara riuh. Wajah Sagha sebentar pucat sebentar merah dari dia meloncat berdiri. ?Aku belum kalah!? bentaknya dan dia pun menyerang, kini bukan ingin me?nangkap dan merobek baju gadis itu, melainkan memukul dan menendang de?ngan dahsyat! Sagha sudah marah sekali dan lupa bahwa yang dilawannya hanya seorang dara remaja. Dia menyerang bukan lagi untuk mencari kemenangan, melainkan untuk membunuh! Namun, dia seperti mengamuk dan menyerang bayangan saja. Semua pukulan cengkeraman dan tendangannya hanya mengenai udara kosong sampai terdengar suara bersiutan. Tiba-tiba, begitu melihat kesempatan baik, kembali jari telunjuk tangan kiri gadis itu meluncur dan se?perti tadi, seketika tubuh Sagha tidak dapat dia gerakkan dan sekali ini, sambil membentak nyaring Sian Li menendang atau mendorong dengan kakinya sambil mengerahkan tenaga dan tubuh tinggi kurus itu terlempar keluar dari panggung dan jatuh menimpa kawan-kawannya, yaitu para penari dan penabuh musik di mana terdapat pula Badhu yang telah dikalahkan Sian Lun! Tepuk tangan dan sorak yang riuh menyambut kemenangan Sian Li ini. Akan tetapi ketika Sian Li berjalan kem?bali ke tempat duduknya, suara tambur dan gendang terhenti tiba-tiba dan kini Lulung Ma dan pemuda tampan jangkung telah berdiri berdampingan sambil berto?lak pinggang. Lulung Ma mengeluarkan teriakan yang mengatasi keriuhan di situ, suaranya nyaring sekali dan terdengar oleh semua orang. ?Saudara sekalian! Dua orang pemban?tu kami telah kalah karena mereka me?mang bodoh. Sekarang, kami berdua me?nantang siapa saja yang memiliki kepan?daian untuk mengadu ilmu di sini. Kami menantang semua dan siapa saja, tidak terkecuali!? Pandang mata Lulung Ma ditujukan kepada Suma Ciang Bun, sedangkan pan?dang mata pemuda jangkung itu ditujukan kepada Liem Sian Lun! Biarpun mereka tidak menuding, jelas bahwa dua orang Han itulah yang mereka tantang! Tiba-tiba Gangga Dewi yang sudah berdiri seperti yang lain,menuding ke arah Lulung Ma dan terdengar suaranya yang lembut namun lantang. ?Lulung Ma, sikapmu menunjukkan bahwa engkau dan orang-orangmu ini agaknya para penyelun?dup yang hendak mengacau di Bhutan! Menyerahlah untuk kami tawan dan kami periksa!? Tiba-tiba Lulung Ma mengubah sikap?nya yang tadi hormat kepada puteri itu. ?Gangga Dewi, engkau puteri Bhutan yang mengkhianati bangsa sendiri, ber?sekongkol dengan orang-orang Han dari timur! Engkau yang sepatutnya ditawan!? Dan tiba-tiba raksasa hitam itu meloncat ke tempat duduk kehormatan, diikuti oleh pemuda jangkung yang juga sekali menggerakkan kaki sudah melayang ke situ. Lulung Ma menerjang ke arah Gangga Dewi sedangkan pemuda jangkung itu menerjang ke arah Liem Sian Lun! ?Jahanam busuk!? Suma Ciang Bun meloncat dan melindungi isterinya. Meli?hat betapa Lulung Ma menyerang Gangga Dewi dengan dorongan kedua telapak tangan terbuka, Ciang Bun memapaki dengan kedua telapak tangannya pula. ?Desss....!? Dua pasang telapak tangan bertemu dan akibatnya Ciang Bun ter?huyung, akan tetapi Lulung Ma juga mundur dua langkah. Dari pertemuan tenaga ini saja dapat diketahui bahwa Si Raksasa Hitam itu amat kuat dan memiliki sin-kang yang ampuh dan dapat menandingi kekuatan cucu Pendekar Sak?ti dari Pulau Es itu! Gangga Dewi me?lolos sabuk sutera putihnya dan cepat membantu suaminya dan suami isteri itu kini mengeroyok Lulung Ma. Gangga De?wi menggunakan sabuk sutera, Suma Ciang Bun sudah menghunus sepasang pedangnya yang bersinar putih, sedangkan Lulung Ma juga sudah mengeluarkan senjatanya yang aneh dan dahsyat, yaitu sepasang roda atau gelang besar yang dipasangi sirip-sirip tajam dan berwarna kuning keemasan. Sementara itu, pemuda jangkung tu?kang tambur tadi sudah menyerang Sian Lun. Tentu saja Sian Lun segera me?nyambut serangannya dengan tangkisan sambil mengerahkan tenaganya. ?Dukkk!? Pertemuan dua lengan mem?buat Sian Lun hampir terjengkang maka mengertilah Sian Lun bahwa pemuda jangkung itu benar seperti dugaannya tadi, bukan orang sembarangan dan me?mlliki tenaga sin-kang kuat. Sama sekali tidak bisa disamakan dengan Badhu dan Sagha yang hanya mengandalkan tenaga otot dan tulang, tenaga kasar. Pemuda jangkung ini memiliki gerakan silat yang lihai, dan dalam pertemuan tenaga per?tama kali tadi, Sian Lun jelas kalah kuat. Oleh karena itu, gadis yang lincah dan galak ini meloncat ke depan dan sambil mengeluarkan bentakan, ia sudah menye?rang dengan ilmu yang dipelajarinya dari Suma Ceng Liong dan yang paling disu?kainya, yaitu ilmu totok Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang). ?Keparat, jangan menjual lagak di sini!? bentak Sian Li dan serangannya itu membuat Si Pemuda Jangkung terke?jut. Akan tetapi dia masih dapat meng?hindarkan diri dengan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik tiga kali. ?Nona Merah cantik sekali. Mundurlah agar kulitmu yang putih mulus tidak sampai lecet,? pemuda itu berkata dan ternyata penabuh musik ini seorang pe?muda yang selain lihai ilmu silatnya, juga pandai bicara dan lincah. Wajah gadis itu menjadi semerah pa?kaiannya, matanya melotot dan tanpa banyak cakap lagi Sian Li sudah mener?jang lagi dengan tusukan-tusukan jari tangannya yang amat berbahaya. Sian Lun juga membantu sumoinya dan pemu?da ini bahkan sudah mencabut pedang dan menyerang pemuda jangkung dengan ganasnya. Si Pemuda Jangkung terkejut. Kiranya dua orang pengeroyoknya itu amat ber?bahaya, maka setelah berkali-kali dia berloncatan mengelak, dia lalu melolos senjatanya, yaitu sehelai sabuk rantai baja yang kedua ujungnya dipasangi pisau tajam. Dia memutar senjata itu dan dua batang pisau menyambar-nyambar ke arah Sian Li dan Sian Lun bagaikan dua ekor burung walet menyambari belalang. Sian Li juga sudah mencabut pedang?nya dan bersama suhengnya, ia mengero?yok pemuda jangkung. Bagaimanapun lihainya pemuda jangkung itu, kini dia menghadapi pengeroyokan dua orang mu?rid dari Suma Ceng Liong, cucu dari Pendekar Super Sakti Pulau Es yang pa?ling tangguh, maka sebentar saja dia sudah terdesak hebat dan kedua pisau di ujung rantai bajanya hanya mampu melindungi dirinya tanpa mampu memba?las serangan lawan. Lulung Ma ternyata memang lihai bukan main. Sepasang senjatanya yang berbentuk gelang besar bersirip itu selain dapat dipegang kedua tangan untuk me?nangkis dan menghantam lawan, juga da?pat dia lontarkan ke arah lawan. Gelang itu berputar menyambar ke arah lawan, dan kalau lawan mengelak, gelang itu berputar dan membalik kembali ke ta?ngannya. Beberapa kali Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi nyaris terkena sambar?an senjata yang istimewa itu. Namun, kedua suami isteri ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, keturunan orang-orang sakti, maka beta?papun dahsyatnya permainan sepasang ge?lang atau roda di tangan Lulung Ma, tetap saja mereka dapat mempertahankan diri, bahkan serangan balasan mereka pun seringkali membuat Lulung Ma menjadi repot sekali. ?Kepung tempat ini, tangkap mereka semua. Mereka mata-mata musuh!? Gangga Dewi berteriak lantang. Mendengar aba-aba ini, pasukan keamanan dan para petugas di dusun itu lalu serentak maju mengepung dan mengeroyok. Hanya Lulung Ma, pemuda jangkung dan kedua orang pembantu mereka tadi, yaitu Badhu dan Sagha yang melakukan perlawanan. Para pemusik lain dan juga para penyanyi dan penari berkelompok di su?dut dengan ketakutan. Penonton menjadi panik, apalagi ketika empat orang yang dikeroyok itu berloncatan ke tengah penonton. Beberapa orang penonton roboh den ketika Suma Ciang Bun, Gangga Dewi, Sian Lun dan Sian Li melakukan pengejaran, ampat orang itu telah lenyap di antara penonton. Para pemusik ketika ditanya, menja?wab dengan ketakutan bahwa mereka tidak tahu, bahkan tidak mengenal empat orang itu. Pamimpin rombongan itu, seorang kakek yang lemah, akhirnya me?ngatakan bahwa dia terpaksa menerima empat orang itu sebagai anggauta rombongan. Kenapa engkau menerima mereka?? Gangga Dewi bertanya. ?Hamba takut menolak, mohon Paduka mengampuni hamba....? kata kakek itu ketakutan. Hamba sama sekali tidak tahu bahwa mereka adalah pemberontak-pem?berontak, tidak tahu bahwa mereka adalah orang-orang Nepal yang hendak mengacau.? ?Katakan, bagaimana engkau bertemu dengan mereka dan siapa pula mereka itu,? kata pula Gangga Dewi. ?Pada malam hari ketika hamba me?nerima perintah untuk meramaikan pe?nyambutan terhadap Paduka, hamba didatangi kakek yang mengaku bernama Lulung Ma itu. Sebelumnya hamba me?ngenal dia sebagai seorang pendeta yang bernama Lulung Lama, seorang pemimpin dari para pendeta Lama Jubah Hitam di Tibet. Adapun pemuda jangkung itu adalah muridnya, seorang peranakan Han-Tibet yang bernama Cu Ki Bok. Mereka itu.... aughhh....!? Sian Li yang bergerak paling cepat, sudah meloncat ke kiri dari mana datangnya pisau yang terbang dan menembus dada kakek pemimpin rombongan pemusik itu. Ia??masih sempat melihat berkelebatnya bayangan di antarapenon?ton. Ia mengejar? terus, akan tetapi kare?na banyak penonton yang kembali menja?di panik dan lari ke sana- sini, ia kehilangan jejak bayangan itu. Akan tetapi melihat bayangan itu bertubuh jangkung, ia dapat menduga bahwa bayangan yang melempar pisau membunuh kakek pemim?pin rombongan pemusik yang sedang memberi keterangan itu tentulah pemuda jangkung pemukul tambur yang lihai tadi. Ketika ia kembali ke tempat tadi, di atas panggung, ternyata kakek itu telah tewas tanpa mampu melanjutkan keterangannya. Gangga Dewi mengepal tinju dan ia mengajak suaminya dan dua orang muda-mudi itu untuk segera melanjutkan perjalanan ke kota raja Thim?phu karena ia harus segera melaporkan semua hal tyang terjadi itu kepada raja agar dikerahkan pasukan khusus untuk membasmi dan membersihkan jaringan mata-mata orang Nepal dan Tibet yang agaknya bersekongkol itu. Harus mengi?rim berita pula kepada Kerajaan Nepal dan para pimpinan Lama di Tibet ten?tang orang-orang Nepal Tibet yang hen?dak mengacaukan keadaan yang aman tenteram itu. Tan Sian Li dan suhengnya diterima dengan penuh keramahan dan kegembira?an oleh keluarga raja di Bhutan. Juga semua orang menyambut dengan bahagia bahwa Puteri Gangga Dewi telah bersua?mikan seorang pendekar yang gagah perkasa, keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es pula! Sebentar saja, semua orang mengenal dan mengagumi Si Ba?ngau Merah, julukan Sian Li. Selama seminggu tinggal di istana, kedua orang muda itu setiap hari dijamu dan disam?but penuh kehormatan dan keramahan. Setelah selama seminggu tinggal di istana Kerajaan Bhutan, Sian Li dan Sian Lun berpamit dari keluarga kerajaan itu. Mereka tidak berani tinggal terlalu lama di istana Bhutan, di mana mereka disam?but sebagai tamu agung itu karena me?reka harus sudah tiba kembali di rumah Suma Ceng Liong sebelum sin-cia (tahun baru). Selain itu, mereka juga ingin me?luaskan pengalaman dan akan melakukan perjalanan pulang melalui daerah Tibet. Dengan hati yang berat Gangga Dewi melepas Sian Li pergi. Ia telah merasa amat sayang kepada dara yang lincah itu dan ia memaksa Sian Li menerima bekal emas permata darinya. Selain itu, juga ia menyediakan dua ekor kuda ter?baik untuk mereka. Akan tetapi ketika Gangga Dewi hendak menyiapkan pasukan pengawal, Sian Li menolaknya. ?Kami berdua dapat menjaga diri sen?diri, kenapa harus dikawal? Pula, penga?walan membuat perjalanan tidak menarik dan tidak leluasa,? demikian Sian Li menolak dan akhirnya, Gangga Dewi, Suma Ciang Bun dan sebagian besar ke?luarga kerajaan mengantar keberangkatan dua orang muda itu sampai ke pintu gerbang kota raja. *** Selain mendapatkan hadiah emas per?mata yang amat berharga, dan dua ekor kuda terbaik, juga mereka menerima sebuah peta penunjuk jalan. Dalam peta itu, yang dibuat oleh seorang ahli di istana Bhutan, disebutkan tempat-tempat yang akan mereka lalui dalam perjalanan ke timur melalui Tibet itu. Juga diterangkan akan bahaya-bahaya yang mung?kin mereka hadapi pada setiap tempat. Selain itu, Raja Bhutan berkenan mem?beri sebuah tanda yang terbuat dari su?tera yang dicap tanda kebesaran raja dan dengan tanda ini, kedua orang muda itu akan disambut oleh setiap rakyat di daerah Bhutan sebagai keluarga raja yang harus dihormati. Bahkan para pejabat di daerah Tibet pun akan mengenal tanda keluarga Raja Bhutan yang menjadi te?tangga mereka dan akan menghormatinya. Ternyata kemudian bahwa tanda ke?besaran ini amat ampuh dan membuat perjalanan Sian Li dan Sian Lun menjadi aman. Orang-orang Bhutan selalu me?nyambut mereka dengan penuh penghor?matan setiap kali Sian Li terpaksa mem?perlihatkan tanda itu kalau ada orang yang kelihatan curiga kepada mereka. Tanda kebesaran itu membuat mereka selalu disambut dengan hormat oleh para kepala dusun yang mereka lalui. Setelah melewati daerah perbatasan dan memasuki daerah Tibet, mereka tiba di derah yang tandus dan gersang. Mere?ka tahu dari peta bahwa daerah itu cu?kup jauh dan mereka harus melakukan perjalanan sehari penuh melewati daerah tandus itu sebelum tiba di dusun pertama di daerah yang subur. Oleh karena itu, sebelum melewati daerah ini, mereka telah membawa perbekalan makanan dan terutama minuman karena menurut ke?terangan dalam peta, di daerah itu, me?reka tidak akan dapat menemukan ma?kanan atau minuman bersih. Mereka berangkat pagi-pagi memasuki daerah tandus itu dan makin dalam me?reka memasuki daerah itu, semakin tan?dus tanahnya. Tidak ada tumbuh-tumbuh?an dapat hidup di tanah berbatu keras itu. Yang ada hanya batu dan pasir dan biarpun daerah itu masih cukup tinggi namun hawanya panas sekali. Mengerikan kalau melihat ke sekeliling sedemikian sunyinya. Apalagi manusia, seekor bina?tang pun tidak nampak. Bahkan burung-burung pun tahu bahwa daerah itu meru?pakan daerah maut, maka di angkasa pun tidak nampak adanya burung terbang. Benar-benar merupakan daerah yang mati, sunyi melengang dan mengerikan. Tepat pada tengah hari, mereka melihat sebuah gubuk dan karena sinar matahari menyengat kulit dengan hebatnya, Sian Li mengajak suhengnya untuk berhenti dan beristirahat sebentar di gubuk itu dan untuk makan roti dan minum air bekal mereka. Sebuah gubuk yang sudah tua, akan tetapi masih cukup kokoh. Ha?nya merupakan tempat berteduh, tanpa dinding, hanya atap dan empat buah ti?hang saja. Akan tetapi di bawah atap itu terdapat batu datar yang dapat me?reka jadikan tempat duduk. ?Lihat, ada tulisan di sini,? kata Sian Lun sambil menunjuk ke lantai, dekar batu di mana mereka duduk. Sian Li memandang. Di lantai gubuk itu, di atas tanah berpadas keras, terdapat ukir-ukir?an beberapa buah huruf yang agakny?a dibuat dengan menggunaken senjata ta?jam. Huruf-huruf itu jelas dan juga indah, tentu diukir oleh seorang yang pandai menulis dan mengukir, seorang sasterawan atau seniman. Mereka lalu meneliti tulisan itu dan membacanya. ? ?Andaikata aku seorang raja, ?aku rela menukar kerajaanku ???untuk segelas air jernih!? ? Hanya sedemikianlah ukiran huruf-huruf itu, akan tetapi itu saja lebih dari pada cukup. Sian Li dapat membayangkankeadaan Si Penulis itu. Tentu dia seorang yang kehabisan air, sedang kehausan, berada di tengah gurun tandus ini. Sungguh luar biasa sekali. Betapa berharganya segelas air jernih kalau se?dang dibutuhkan oleh orang yang kehausan! Lebih berharga daripada sebuah kerajaan! Betapa besarnya kasih sayang Tuhan Maha Pengasih kepada kita manusia. Berlimpah-limpah sudah anugerah dan berkah dari Tuhan kepada manusia. Be?tapa nikmatnya, betapa pentingnya, beta?pa berharganya segelas air, atau sepotong roti, seteguk hawa udara, bagi kehidupan kita. Dan semua sarana untuk mendapatkan itu demikian mudahnya. Sudah tersedia. Ada tanah, ada air, ada hawa udara, ada sinar matahari, ada benih! Puji syukur kepada Tuhan Maha Kasih! Berbahagialah manusia yang dapat menikmati semua anugerah yang berlim?pahan di sepanjang hidupnya ini. Namun sayang, nafsu angkara murka dan ketamakan membuat manusia buta akan semua berkah yang dilimpahkan dan sepatutnya disyukuri dan dinikmati ini. Kalau kita mendapatkan segelas air, naf?su angkara murka membisikkan celaannya mengapa tidak ada anggur, mengapa ha?nya ada air tawar. Dan lenyaplah sudah segala keindahan dan kenikmatan air itu, bahkan menjadi tidak enak, memuakkan, dan mengecewakan. Nafsu memang tak menganal puas, tak mengenal batas. Ka?lau ada anggur, bisikan beracun itu ma?sih terus berdengung agar kita dapat memperoleh yang lebih hebat lagi, yang lebih enak lagi, yang lebih nikmat lagi. Segala yang tidak ada, yang belum ter?jangkau tangan, selalu akan nampak lebih indah, lebih nyaman dan lebih menye?nangkan daripada apa saja yang sudah kita miliki. Mensyukuri keadaan yang ada pada kita, mensyukuri segala peristiwa sebagai suatu berkah, sebagai suatu yang sudah dikehendaki Tuhan, merupakan kunci kebahagiaan. Bukan berarti lalu mandeg dan lunglai, bersandar kepada kekuasaan Tuhan belaka. Sama sekali tidak! Hidup berarti gerak, bekerja, berikhtiar, sekuat tenaga sekuat kemampuan. Ini berarti menjalankan semua alat yang disertakan oleh kekuasaan Tuhan kepada kita ketika kita diciptakan sebagai manusia. Kita pergunakan semua alat, anggauta tubuh, hati dan alat pikiran, kita gunakan demi kelangsungan hidup, demi mencu?kupi semua kebutuhan hidup. Bukan demi meuruti bisikan nafsu angkara murka sehingga untuk mencapai tujuan kita menghalalkan semua cara, melainkan kita kerjakan semua alat demi kepentingan hidup di dunia ini. Dan apa pun hasilnya, apa pun jadinya, dan peristiwa apa pun yang menimpa diri kita, kita terima tan?pa mengeluh! Semua kehendak Tuhan jadilah! Kita hanya dapat menyerah, kita ha?nya dapat menerima, dan kita wajib membantu pekerjaan kekuasaan Tuhan pada alam ini. Kita tidak akan dapat memperoleh padi tanpa berusaha, walau?pun Tuhan sudah menyediakan tanahnya, airnya, udaranya, sinar mataharinya, benihnya. Kita harus membantu mengerja?kan semua itu, mencangkul tanah, mena?nam benih, mengairi sawah, menuai, menjemur, menumbuk dan selanjutnya, sebelum hasilnya dapat menyambung ke?hidupan kita melalui makanan. Sian Li tertawa dan ia mengeluarkan bungkusan roti, memberi isarat kepada suhengnya untuk makan dan minum air bekal mereka. Melihat sumoinya tertawa lalu tersenyum-senyum sambil makan roti dan minum air, Sian Lun memandang heran. ?Eh, Sumoi, kenapa engkau tertawa dan tersenyum-senyum?? Dia mengamati wajah yang kemerahan karena sinar ma?tahari itu sehingga kedua pipinya di ba?wah mata yang agak menjendul itu men?jadi merah sekali, mengamati bibir yang bergerak-gerak ketika makan roti. Betapa manisnya wajah sumoinya! Sian Li tersenyum dan sebelum men?jawab, ia minum dulu air dari botol air?nya. ?Tulisan ini yang membuat aku ter?tawa,? katanya sambil menunjuk ke arah lantai yang diukir huruf-huruf itu. ?Apanya yang lucu Sumoi? Huruf-hu?ruf itu indah sekali, dan isinya menurut aku mengharukan dan menyedihkan, ke?napa engkau malah tertawa?? ?Bukan karena lucu, Suheng, melain?kan karena senang dan gembira. Tulisan ini menyadarkan aku betapa bahagianya diriku. Di tempat ini aku tidak kehausan dan kelaparan, bukankah saat ini aku jauh lebih berbahagia dibandingkan seorang yang kaya raya seperti raja namun kehausan dan tidak mempunyai air?? ?Engkau benar, Sumoi. Akan tetapi, andaikata yang menulis ini benar seorang raja, aku yakin dia tidak akan menulis seperti ini. Apa yang akan dilakukan seorang raja yang kehausan di tempat ini dan tidak mempunyai air? Tentu dia akan memerintahkan para pengawalnya untuk segera mencarikan air minum untuknya.? Sian Li mengangguk. ?Pendapatmu itu memang tepat, Suheng. Karena dia bukan raja, maka dia menulis seperti ini. Ma?nusia memang siap melakukan apa saja, bersikap yang aneh-aneh, kalau sedang menghendaki sesuatu yang dibutuhkannya. Sian Lun mengangguk. ?Manusia selalu dipermaihkan oleh keinginannya, padahal yang diinginkan di dunia ini selalu ber?ubah-ubah dan banyak sekali macamnya. Seorang raja yang sakit mungkin mau menukar kerajaannya dengan kesehatan dan keselamatan nyawanya, akan tetapi dalam keadaan sehat, dia akan memper?tahankan dan memperebutkan kedudukan?nya dengan taruhan nyawa!? Setelah melepaskan lelah dan selesai makan roti dan minum air jernih, kedua orang muda itu melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi baru beberapa me?nit mereka melarikan kuda, tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda dari belakang. Sian Li yang berada di depan, menahan kudanya dan menoleh. Terpaksa Sian Lun menahan kudanya pula dan mereka melihat serombongan orang berkuda membalapkan kuda mereka dari arah belakang dan melewati mereka. Rombongan itu terdiri dari tujuh orang laki-laki yang berwajah bengis menyeramkan. Ketika mengenal dua orang di antara mereka adalah Badhu dan Sagha, dua orang Nepal yang menja?di anak buah Lulung Lama, Sian Lun segera berkata kepada sumoinya, ?Sumoi, mari kita kejar mereka!? Sian Li hendak membantah karena ia merasa tidak ada perlunya mengejar rombongan itu, akan tetapi karena Sian Lun sudah membalapkan kudanya, ia pun terpaksa melakukan pengejaran. ?Suheng, tahan dulul....!? Serunya keti?ka ia dapat menyusul suhengnya. Sian Lun menahan kendali kudanya dan mere?ka berhenti. ?Suheng, untuk apa kita mengejar mereka?? tanyanya. ?Aih, bagaimanakah engkau ini, Sumoi. Bukankah dua orang di antara mereka adalah mata-mata yang mengacau di Bhutan? Kita harus membantu Kerajaan Bhutan, bukan?? ?Hemm, Suheng. Kalau kita berada di Bhutan, tentu saja kita harus mem?bantu Bhutan. Akan tetapi, menantang para mata-mata dan pengacau di Bhutan bukanlah tugas kita, apalagi kita sedang melakukan perjalanan menuju pulang. Selain itu, juga engkau harus ingat bah?wa kini kita tidak berada di daerah Bhu?tan lagi, melakukan daerah Tibet.? Mendengar ucapan sumoinya, baru Sian Lun sadar bahwa dia telah terburu nafsu. Dia mengangguk maklum, lalu berkata, ?Betapapun juga, karena kita juga melakukan perjalanan searah dengan mereka tadi, tiada salahnya kalau kita diam-diam memperhatikan dan menyeli?diki, apa yang hendak mereka lakukan. Setidaknya, kita dapat mencegah per?buatan mereka yang akan merugikan Bhutan, tanpa menunda perjalanan kita. Bagaimana pendapatmu, Sumoi?? Gadis itu mengangguk. ?Tentu saja, Suheng. Aku pun hanya ingin mengingat?kanmu agar kita berhati-hati. Perjalanan masih jauh dan kita tidak mengenal daerah ini.? Mereka melanjutkan perjalanan dan walaupun sudah tertinggal jauh oleh rom?bongan berkuda tadi, namun mereka ma?sih dapat mengikuti jejak tujuh orang itu dengan mudah, apalagi liar karena memang rombongan itu menuju ke arah yang sama dengan perjalanan mereka. Setelah matahari condong ke barat, menjelang senja, mereka tiba di daerah yang subur, bukit-bukit yang hijau dan mulai nampak anak sungai mengalir t?urun. Segera nampak sebuah dusun yang besar, nampak genteng-genteng, rumah dari lereng, cukup banyak dan besar-besar rumah yang berada di dusun itu. Juga jejak kaki kuda rombongan tadi menuju ke dusun itu. Mereka lalu menuju ke dusun untuk melewatkan malam dan juga sekalian untuk melihat apa yang akan dilakukan rombongan Badhu dan Sagha, dua orang ahli silat Nepal yang sombong itu. Dusun itu memang merupakan dusun yang besar dan ramai, terletak di tepi Sungai Yalu Cang-po atau Sungai Brah?maputra yang mengalir dari Pegunungan Himalaya menuju ke timur. Nama dusun itu dusun Nam-ce. Daerah itu memang luas, tanahnya subur karena dekat sungai, dan juga di sungai itu terdapat banyak ikan sehingga nampak banyak perahu nelayan di situ. Selain ini, dusun Nam?ce menjadi pelabuhan dan orang-orang yang melakukan perjalanan, ke timur, banyak yang mempergunakan perahu me?lalui sungai yang besar itu. Biarpun hanya berupa rumah-rumah sederhana, namun di dusun Nam-ce ter?dapat beberapa buah rumah penginapan dan juga rumah makan yang menjual makanan sederhana. Ada pula pedagang yang menjual bermacam barang keperluan sehari-hari. Semua ini membuat dusun itu menjadi semakin ramai, dan terutama sekali karena lalu-lintas melalui sungai itulah yang mendatangkan kemakmuran kepada dusun Nam-ce. Bahkan mereka yang datang dari Lha-sa, Ibu kota Tibet, yang hendak melakukan perjalanan ke timur, banyak yang melalui Sungai Brahmaputra. Di sebelah selatan luar kota Lhasa terdapat sebuah sungai yang airnya menuju ke Sungai Brahmaputra di dekat Nam-ce, maka banyak yang memperguna?kan perahu dari Lha-sa ke Nam-ce, ke?mudian dari dusun pelahuhan ini melan?jutkan perjalanan dengan perahu besar ke timur, mengikuti aliran air Sungai Brahmaputra. Sian Lun dan Sian Li menyewa dua buah kamar di sebuah rumah penginapan yang kecil namun bersih dan tempatnya pun agak di pinggir dusun sehingga ke?adaan di situ tidaklah begitu ramai se?perti di bagian tengah dusun, di mana terdapat sebuah pasar yang selalu ramai dikunjungi orang karena tempat ini me?rupakan pasar perdagangan. Setelah membersihkan diri yang ber?lepotan debu dan berganti pakaian, Sian Li mengajak Sian Lun keluar dari rumah penginapan dan mencari kedai makanan. Karena mereka berada di tempat asing, dan orang-orang di sekeliling mereka adalah orang-orang dari suku bangsa da?erah itu, hanya kadang saja nampak orang berpakaian seperti mereka, yaitu orang-orang Han yang hampir semua adalah pedagang. Andaikata Sian Li me?ngenakan pakaian biasa, tentu dua orang muda ini tidak terlalu menarik perhatian, walaupun kecantikan Sian Li tentu mem?buat banyak pria melirik. Akan tetapi, karena gadis itu selalu mengenakan pa?kaian yang warnanya kemerahan, baik polos maupun berkembang, maka tentu saja ia amat menyolok dan menjadi per?hatian setiap orang. Sian Li mengajak suhengnya untuk memasuki sebuah kedai makan yang berada di jalan yang agak sunyi. Ketika mereka memasuki kedai, senja hampir terganti malam, cuaca mulai gelap dan kedai itu pun sudah diterangi lampu-lampu minyak yang tergantung dengan kap-kap lampu beraneka warna sehingga nampak terang dan meriah. Seorang pelayan menyambut mereka dan mempersilakan mereka duduk. Sian Li menyapu ruangan itu dengan sinar mata?nya. Tidak terlalu banyak tamu di situ. Seorang pria yang agaknya menurut pa?kaiannya adalah bangsa Han duduk di sudut sambil menundukkan muka. Tiga orang bangsa Tibet duduk di tengah ruangan itu, dan masih ada beberapa orang lagi makan di meja sebelah kiri. Tidak ada sepuluh orang tamu yang ber?ada di ruangan itu. Sian Li dan Sian Lun duduk di bagian kanan, sengaja Sian Li memilih bangku yang membuat ia duduk membelakangi para tamu itu. Ia takkan merasa enak makan kalau menghadapi mata banyak laki-laki yang ditujukan kepadanya dengan sinar mata kurang ajar. Sian Lun duduk berhadapan dengannya sehingga pemuda inilah yang menghadap ke tengah ruangan, dapat melihat para tamu. Memang, seperti yang dilihatnya, sejak sumoinya memasuki ruangan rumah makan, semua tamu yang duduk di situ, kesemuanya pria, mengangkat muka dan melempar pandang mata kagum kepada Sian Li. Pandang mata orang-orang itu seperti melekat pada Sian Li, dan biar?pun sumoinya sudah duduk membelakangi mereka, tetap saja mereka itu selalu melirik ke arah gadis itu. Kecuali seorang saja, yaitu orang Han yang duduk seo?rang diri di sudut belakang. Orang itu makan sambil menundukkan muka, dan hanya mengangkat muka memandang se?jenak ketika dia dan sumoinya tadi ma?suk, lalu menundukkan muka kembali, sedikit pun tidak menaruh perhatian lagi. Setelah makanan yang dipesan datang, dua orang kakak beradik seperguruan itu lalu makan minum dan baru saja mereka selesai, mereka mendengar suara banyak orang memasuki rumah makan. Mereka menengok dan sinar mata mereka menja?di keras ketika mereka mengenal tujuh orang yang tadi mereka bayangi, yaitu Badhu dan Sagha bersama lima orang kawan mereka! Sian Li tidak ingin mencari keributan di situ. Ia hanya ingin menyelidiki, apa yang akan dilakukan dua orang anak buah Lulung Lama itu, akan tetapi tidak ingin bentrok secara langsung, apalagi ia tahu bahwa ia dan suhengnya berada di daerah pihak lawan, maka keadaan dapat ber?bahaya bagi mereka. Ia memberi isarat kepada suhengnya, lalu menggapai pela?yan yang segera mendekati mereka. Pelayan lain sibuk melayani tujuh orang tamu yang baru masuk. Sian Lun segera membayar harga makanan dan mereka berdua hendak keluar dari rumah makan itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar ben?takan kasar. ?Heii, kalian berdua, tunggu dulu!? Sian Li dan Sian Lun berhenti dan membalikkan tubuh. Kiranya Badhu dan Sagha sudah berdiri menghadapi mereka, sedangkan lima orang kawan mereka masih duduk. Dua orang Nepal itu lalu menghampiri Sian Li dan Sian Lun yang berdiri dengan tenang dan tegak. ?Hemm, kalian ini orang-orang Han yang sombong, mau apa berkeliaran di sini?? kata Badhu yang berperut gendut. Sian Li mengerutkan alisnya dan me?mandang tajam, lalu mulutnya tersenyum mengejek. Ia melihat betapa beberapa orang Tibet yang berada di situ meman?dang ke arah mereka. ?Bukan kami orang-orang Han yang sombong dan berkeliaran, karena kami akan kembali ke timur dan hanya lewat di sini. Akan tetapi kalianlah dua orang Nepal yang besar kepala, kalian berkeli?aran di sini tentu hanya akan membikin kacau saja!? Gadis ini memang cerdik. Tadi men?dengar seruan Badhu Si Gendut, para tamu orang-orang Tibet memandang ke?pada Sian Li dan Sian Lun dengan mata curiga. Akan tetapi setelah gadis baju merah itu menjawab dengan suara lan?tang, pandang mata mereka berubah dan kini mereka memandang ke arah Badhu dan Sagha dengan alis berkerut. Wajah Badhu menjadi kemerahan ke?tika dia mendengar jawaban Sian Li, dan dengan marah dia membentak, ?Gadis Han yang sombong, jangan bicara sem?barangan!? Sian Li tersenyum. ?Siapa bicara sembarangan, engkau atau aku? Coba kausangkal, bukankah kalian sudah mem?bikin kekacauan di Nepal, kemudian di Bhutan dan setelah gagal di sana, kalian hendak mengacau pula, di Tibet ini?? Badhu menjadi makin marah. ?Perempuan sombong! Kaulihat saja pemba?lasan kami atas semua penghinaanmu!? Setelah berkata demikian, dia memberi isarat kepada enam orang kawannya dan mereka pun keluar dari rumah makan itu tanpa memesan makanan! Karena ia memang tidak ingin mem?bikin ribut di rumah makan itu atau di dalam dusun itu, yang hanya akan me?nimbulkan kekacauan dan juga akan men?jadi penghambat perjalanannya, maka Sian Li juga segera meninggalkan tempat itu dan mencegah suhengnya ketika Sian Lun yang nampaknya marah itu hendak melakukan pengejaran. Setelah dua orang muda itu pergi, ramai para tamu membicarakan peristiwa kecil tadi dan semua orang merasa kagum dan memuji nona baju merah yang berani menentang orang-orang Nepal yang kelihatan kuat dan di antara bengis tadi. Hanya seorang di antara mereka yang tidak ikut bicara. Dia adalah laki-laki yang tadi duduk di sudut belakang. Dia tidak pernah bicara, hanya memanggil pelayan, membayar harga makanannya dan dia pun segera meninggalkan rumah makan tanpa meninggalkan kesan. ?Sumoi, kenapa Sumoi melarangku untuk mengejar mereka? Dua orang Nepal keparat itu pantas dihajar!? Sian Lun menegur sumoinya ketika mereka tiba kembali di rumah penginapan mereka. ?Suheng, lupakah engkau bahwa kita ini bukan berada di Bhutan lagi, juga bukan di negara sendiri? Kita berada di Tibet, dan engkau tentu masih ingat bahwa dua orang Nepal itu adalah anak buah Lulung Lama, seorang tokoh yang menjadi pimpinan para Lama Jubah Hitam. Ini tempat mereka dan kalau terja?di keributan, tentu kita yang dianggap sebagai pengacau. Tadi pun aku masih untung dapat membalas serangan fitnah mereka sehingga orang-orang Tibet yang mendengarnya tidak memihak mereka. ?Ah, aku hanya khawatir kalau kita dianggap penakut dan tidak berani kepa?da mereka. Juga, sekarang ini kita yang diancam dan kita tidak tahu kapan me?reka akan turun tangan mengganggu kita.? ?Suheng, bukankah Guru kita, kakek Suma Ceng Liong dan isterinya, pernah memberitahu bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa menurutkan nafsu kemarah?an belaka? Bahkan kita diharuskan ber?sabar setiap menghadapi lawan, kita ha?rus mempergunakan kecerdikan, bukan asal hantam saja! Tanpa ancaman mereka pun, kita harus waspada setiap saat ka?rena bagi seorang pengembara, kita sela?lu dikelilingi kemungkinan adanya serang?an bahaya. Nah, kita sekarang tidur saja dan besok pagi-pagi sekali kita harus sudah melanjutkan perjalanan.? Biarpun di dalam hatinya Sian Lun masih merasa penasaran dan marah ke?pada dua orang Nepal yang telah menge?luarkan kata-kata kasar dan kurang ajar terhadap sumoinya, namun alasan yang dikemukakan Sian Li amat kuat dan juga tepat, maka dia pun hanya mengangguk dan meraka memasuki kamar masing-masing. Malam itu sunyi sekali di rumah pe?nginapan di mana Sian Li dan Sian Lun menginap. Lewat tengah malam, keadaan sudah amat sunyi dan dingin. Petugas rumah penginapan yang berjaga malam ada dua orang dan mereka ini pun sudah meringkuk di meja pengurus, tertidur karena setelah lewat tengah malam, tentu tidak akan ada tamu datang lagi. Lima bayangan hitam itu menyelinap memasuki rumah penginapan melalui pa?gar tembok belakang dengan melompati?nya. Gerakan mereka ringan dan gesit sekali, menunjukkan bahwa lima orang ini adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Dengan menyusup seperti lima ekor kucing, tanpa mengeluarkan suara, lima orang ini akhirnya telah tiba di belakang kamar Sian Lun dan Sian Li yang berdampingan. Mereka menghampiri jendela dalam dua kelompok, lalu mengintai ke dalam. Gelap dan sunyi saja dalam kedua kamar itu. Mereka itu adalah Badhu dan Sagha, diikuti tiga orang berkepala gundul berjubah hitam. Tiga orang pendeta Lama Jubah Hitam! Kiranya Badhu dan Sagha hendak memenuhi ancamannya dan sekali ini mereka tidak mau gagal. Mereka maklum akan kelihaian dua orang muda itu, maka mereka berdua datang mengajak tiga orang tokoh Hek I Lama (Pendeta Lama Jubah Hitam) yang ber?ilmu tinggi. Tiga orang itu adalah para pembantu dari Lulung Lama dan memi?liki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan dua orang Nepal itu. Mereka memang sudah membuat per?siapan dan sudah mengatur rencana membagi tugas. Anak buah mereka telah mencari keterangan di mana letak kamar pemuda dan gadis itu, dan kini mereka sudah siap melaksanakan rencana mereka. Badhu dan seorang pendeta jubah hitam akan bertugas membius gadis berpakaian merah dengan meniupkan asap pembius ke dalam kamar, sedangkan Sagha diban?tu dua orang pendeta jubah hitam akan menerjang masuk ke kamar pemuda Han itu dan membunuhnya! Setelah memberi isarat, Badhu lalu menghampiri pintu kamar Sian Li, dan dibantu seorang pendeta baju hitam, dia menyusupkan sebuah pipa kecil ke dalam kamar itu melalui bawah pintu. Pipa itu bersambung dengan sebuah kantung kulit yang menggembung. Bersama temannya, Badhu lalu menekan-nekan kantung itu dan asap beracun tertiup masuk kamar melalui pipa. Sementara itu, Sagha dan dua orang pendeta baju hitam, dengan memegang golok, mencokel jendela kamar itu. Dengan mudah saja daun jendela terbuka dan tiga orang itu berloncatan memasuki kamar yang gelap. Mereka menyalakan lilin dan kaget sekali ketika melihat betapa tempat tidur pemuda itu kosong, tidak ada orangnya! Tentu saja Sagha dan dua orang pendeta jubah hitam itu berlompatan keluar lagi. ?Kamarnya kosong....!? kata Sagha ke?pada Badhu yang menjadi heran dan kaget bukan main. Kalau kamar pemuda itu kosong, tentu kamar gadis itu kosong pula! Ataukah Si Pemuda itu pindah ke kamar Si Gadis? Badhu tersenyum, me?nyeringai dan berkata dengan suara mengejek. ?Tentu saja mereka tidur bersama dalam kamar ini! Siapa orangnya mau membiarkan nona merah yang cantik molek itu tidur kedinginan seorang diri?? Mereka tertawa, walaupun suara tawa mereka ditahan agar tidak menimbulkan kegaduhan. ?Mereka berdua tentu sudah terbius pingsan sekarang,? katanya lagi dengan girang. Mereka terlalu memandang rendah kepada Sian Li dan Sian Lun. Tidak per?cuma dua orang muda ini menjadi murid orang-orang sakti seperti Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng. Biar?pun dua orang ini telah melakukan per?jalanan jauh dan tubuh mereka terasa lelah, namun karena tadi bertemu dengan tujuh orang yang hendak membikin ribut di rumah makan, dan mendengar ancam?an Si Gendut Badhu, maka suheng dan sumoi ini tidak tidur begitu saja. Mereka beristirahat sambil duduk bersila sehingga biar tubuh mereka dapat beristirahat, namun kewaspadaan mereka selalu men?jaga keselamatan mereka. Sedikit gerakan lima orang yang men?dekati kamar mereka, biarpun tidak menimbulkan suara gaduh, cukup dapat mereka tangkap dengan pendengaran mereka. Sian Li menjadi curiga dan ketika ia mengintai dari jendela kamarnya, ia melihat bayangan beberapa orang berkelebatan. Tahulah ia bahwa ada penjahat yang datang. Ia memang sudah siap siaga maka kamarnya berada dalam kegelapan. Sebelum para penjahat itu melakukan sesuatu, ia sudah membuka jendela sam?ping dan meloncat keluar, terus meng?ambil jalan memutar dan meloncat ke atas genteng. Hampir ia bertubrukan dengan suhengnya di atas genteng! Ki?ranya Sian Lun juga sudah dapat melihat para penjahat itu dan seperti juga Sian Li, dia keluar dari kamar dan meloncat ke atas genteng. ?Ada dua orang menghampiri kamarku Suheng,? katanya lirih. ?Dan kulihat tiga orang menghampiri kamarku,? kata pula Sian Lun. Mereka berdua sudah mencabut pedang masing-masing dan kini mereka mengintai ke bawah. Mereka melihat apa yang dilakukan lima orang itu, mendengar pula perca?kapan mereka yang mengira bahwa mereka berdua tidur sekamar! Mendengar ini wajah Sian Li menjadi merah saking marahnya menerima tuduhan kotor?tentang dirinya itu. Juga wajah Sian Lun menjadi merah sekali karena tadi pun, seperti malam-malam yang lalu, dia sering bermimpi tidur sekamar dengan sumoinya yang telah membuatnya tergila-gila sejak sumoinya remaja! Kini Sian Li sudah tidak mampu me?nahan kemarahannya lagi. Ia melayang turun, diikuti suhengnya sambil berseru, ?Jahanam bermulut busuk!? Lima orang yang masih tertawa-tawa itu terkejut bukan main ke?tika tiba-tiba ada dua bayangan orang melayang turun dari atas genteng dan tahu-tahu dua orang muda yang mereka kira sedang tidur bersama dalam kamar itu dan yang kini tentu telah roboh ping?san, kini telah berdiri di depan mereka dengan pedang di tangan. ?Gawat! Lari....!? teriak Badhu yang memimpin gerakan itu. Mereka pun sudah berloncatan ke dalam kegelapan malam, lari ke arah belakang rumah penginapan di mana terdapat sebuah kebun yang cukup luas. ?Jahanam busuk, hendak lari ke mana kalian?? Sian Lun berseru marah dan melakukan pengejaran. ?Hati-hati, Suheng!? teriak Sian Li yang juga ikut mengejar, merasa khawa?tir karena dari apa yang ia pelajari, sungguh berbahaya melakukan pengejaran terhadap penjahat yang lihai atau banyak jumlahnya di malam hari, apalagi di tempat yang tidak dikenal keadaannya. Akan tetapi ternyata bahwa mereka jauh lebih unggul dalam ilmu meringan?kan tubuh sehingga sebentar saja, mereka dapat menyusul ketika lima orang penja?hat itu tiba di dalam kebun. Dan kini setelah tiba di tempat sepi, agaknya Badhu dan kawan-kawannya sudah siap siaga. Mereka berlima sudah mencabut golok dan tetap dalam pembagian tugas seperti tadi, Badhu dan seorang pendeta jubah hitam menyambut Sian Li dengan golok mereka, sedangkan Sagha dan dua orang pendeta lain menyerang Sian Lun. Terjadilah perkelahian yang mati-matian di dalam kebun itu, hanya dite?rangi oleh sinar bulan yang datang agak lambat. Mereka lebih mengandalkan ke?tajaman pendengaran daripada penglihat?an dan untunglah bahwa untuk ilmu ini, Sian Li dan Sian Lun telah mendapat gemblengan dari guru mereka. Biarpun demikian, ketika senjata mereka bertemu dengan golok mereka yang berkepala gundul dan berjubah hitam, Sian Li dan Sian Lun terkejut karena mendapat ke?nyataan bahwa tenaga mereka itu amat kuat, jauh lebih kuat dibandingkan Badhu dan Sagha yang hanya mengandalkan tenaga kasar dari otot-otot yang terlatih. Sian Li masih dapat mengimbangi penge?royokan Badhu dan seorang pendeta jubah hitam. Gadis ini mengamuk dan gerakan?nya yang indah mirip sekali dengan ge?rakan seekor burung bangau. Bangau Me?rah! Biarpun ia sudah menerima gem?blengan berbagai ilmu silat tinggi dari Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, akan tetapi yang menjadi inti dari kepandaiannya adalah ilmu yang berdasarkan ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Bangau Putih) yang dipelajarinya dari ayahnya sendiri sebelum ia berguru kepada kakek dan neneknya. Dan memang Suma Ceng Liong yang menghendaki agar gadis ini mem?perdalam ilmu warisan ayahnya itu, ha?nya kini ilmu silat itu dicampur dengan ilmu lain yang tinggi sehingga ilmu silat yang berdasarkan gerakan burung bangau itu kini menjadi aneh dan lihai, namun masih mengandung gerakan halus dari seekor bangau. Yang repot adalah Sian Lun. Tingkat kepandaian pemuda ini memang masih kalah dibandingkan sumoinya, dan kini dia dikeroyok tiga orang. Kepandaian Sagha memang tidak ada artinya bagi Sian Lun, akan tetapi dua orang pendeta jubah hitam itu sungguh lihai bukan main. Melawan seorang saja di antara mereka sudah merupakan lawan yang tangguh, apalagi ada dua orang seperti itu, ditam?bah dengan Sagha lagi. Sian Lun hanya mampu memutar pedangnya, melindungi dirinya dari sambaran tiga batang golok para pengeroyoknya. Tiba-tiba terjadi keanehan. Lima orang pengeroyok itu berturut-turut me?ngeluarkan teriakan kesakitan dan senjata mereka terlepas dari tangan dan mereka itu lalu berlompatan jauh ke belakang dan melarikan diri dari Sian Li dan Sian Lun yang tentu saja menjadi bengong terheran-heran. Mereka tidak merasa telah melukai para pengeroyok itu, akan tetapi mengapa mereka berlima itu me?lepaskan golok dan melarikan diri seperti orang ketakutan? Sian Lun hendak melakukan pengejar?an, akan tetapi Sian Li memegang ta?ngan kirinya mencegah, ?Suheng, mereka itu merupakan lawan berat, berbahaya sekali kalau dikejar. Mari kita kembali ke kamar!? katanya. ?Tapi, apa yang telah terjadi? Kenapa mereka melepaskan senjata dan melari?kan diri seperti orang ketakutan?? Sian Li menggeleng kepalanya, ?En?tahlah, Suheng, aku pun tidak mengerti. Telah terjadi keanehan malam ini, mung?kin ada dewa yang menolong kita.? Mereka kembali ke rumah penginapan di mana telah berkumpul banyak orang. Kegaduhan tadi membangunkan para ta?mu, juga para pelayan sehingga kini me?reka berkerumun di depan kamar Sian Li dan kamar Sian Lun. Ketika dua orang muda itu muncul, tentu saja mere?ka dihujani pertanyaan. ?Ada dua orang pencuri hendak me?masuki kamar kami berdua,? kata Sian Lun. ?Mereka mempergunakan asap pem?bius. Harap kalian mundur semua, aku akan membuka jendela agar asap itu keluar. Awas, yang terkena asap itu dan menyedotnya, akan jatuh pingsan.? Ia lalu membuka daun jendela kamarnya, lalu pergi menjauhi kamar itu, demikian pula Sian Lun. Dari dalam kamar itu mem?bubung asap tipis yang tidak berapa ba?nyak lagi karena tadi sebagian asap sudah keluar melalui celah-celah pintu, jendela dan atap. Orang-orang menjauh dan memandang heran. Akan tetapi, se?telah mendengar bahwa pencuri-pencuri itu melarikan diri tanpa membawa ba?rang curian, dikejar dua orang muda itu, pengurus rumah penginapan merasa lega dan para tamu pun berangsur kembali ke kamar maaing-masing. Tentu saja kini mereka tahu bahwa gadis berpakaian merah yang cantik dan pemuda tampan itu adalah dua orang pendekar! Sementara itu, dari tempat gelap tak jauh dari situ, seorang laki-laki yang bersembunyi dalam gelap, meremas-re?mas jari tangan sendiri. Pandang mata?nya penuh ketegangan, keraguan, juga keharuan, bibirnya berkemak-kemik bica?ra seorang diri dengan lirih. ?Benarkah ia? Ah, tidak mungkin. Kenapa ia berada di sini dan siapa pemuda itu? Benarkah ia Sian Li....? Tapi pakaian merah itu.... ah, benarkah ia Tan Sian Li....?? Dengan wajah penuh keraguan dia masih bardiri termangu-mangu di tempat gelap itu sampai Sian Li dan Sian Lun memasuki kamar masing-masing dan tempat itu menjadi sunyi kembali. Siapakah pria itu? Dan apa pula yang telah terjadi ketika Sian Li dan Sian Lun dikeroyok lima orang lawan yang lihai tadi? Mengapa mereka melarikan diri? Kita ikuti perjalanan mereka selanjutnya. *** Pada keesokan harinya pagi-pagi se?kali Sian Lun dan Sian Li telah meninggalkan rumah penginapan dan menuntun kuda mereka ke pasar kuda yang selalu ramai di tempat itu. Tentu saja dua ekor kuda tunggangan mereka menarik perhatian pembeli karena dua ekor bina?tang itu adalah kuda-kuda pilihan dari kandang kuda istana Bhutan! Dengan mudah saja mereka mendapatkan pembeli yang berani membayar cukup mahal un?tuk dua ekor kuda itu. Sian Li dan Sian Lun lalu menuju ke bandar sungai untuk menyewa sebuah perahu yang akan mereka tumpangi sam?pai ke belokan air Sungai Yalu-cangpo atau Sungai Brahmaputra yang membelok ke selatan. Dari belokan itu, mereka akan mendarat dan melanjutkan perjalan?an dengan jalan kaki atau berkuda lagi menuju ke timur. Seorang peranakan Han-Tibet yang mempunyai sebuah perahu yang sedang besarnya, menyanggupi perjalanan itu dengan upah yang cukup memadai. Orang itu berusia kurang lebih lima puluh tahun kulitnya hangus kecoklatan karena setiap hari pekerjaannya sebagai nelayan mem?buat kulitnya setiap hari terbakar sinar matahari. Kalau tidak karena logat bica?ranya, tentu sukar dikenal bahwa dia peranakan Han. Baik wajah dan pakaian?nya sudah sepenuhnya orang Tibet. Orangnya pendiam dan juga sopan, maka Sian Li memilih orang ini daripada pemi?lik perahu lain walau harus membayar lebih mahal. Perjalanan dengan perahu itu cukup menyenangkan. Perahunya kokoh dan baik imbangannya, tukang perahunya pendiam dan ahli mengemudikan perahu. Air su?ngai pun tenang dan dalam karena waktu itu musim semi, tidak banyak hujan. Pemandangan di tepi sungai juga amat indah, penuh pohon-pohonan menghijau, diseling bunga beraneka warna dan ben?tuk. Kadang-kadang sungai itu melewati daerah yang diapit tebing bukit yang menjulang tinggi, kadang melalui ladang yang tanahnya landai dan datar. Kalau malam tiba, Sian Li menyuruh tukang perahu menghentikan perahunya. Mereka dapat mencoba untuk memancing ikan, menggunakan alat pancing milik tukang perahu dan betapa senangnya hati Sian Li kalau ia berhasil mendapatkan seekor ikan. Mereka membakar ikan ha?sil pancingan mereka, makan ikan dengan arak ringan yang membuat dua orang muda itu merasa gembira sekali, Apalagi kalau bulan sudah muncul. Duduk di ke?pala perahu sambil makan ikan bakar, bercakap-cakap di bawah sinar bulan purnama, dihembus angin malam yang lembut, bau daun ilalang di sekitar pan?tai, dan perahu bergoyang lembut seolah-?olah membuat mereka seperti diayun?-ayun, sungguh amat menyenangkan. Dia romantis sekali. Keadaan dan suasana itulah yang membuat sinar mata Sian Lun ketika dia memandang wajah sumoi?nya yang tertimpa sinar bulan, lain dari?pada biasanya. Ketika mendadak suhengnya yang tadi bercakap-cakap dengan gembira itu kini diam saja, Sian Li merasakan suatu pe?rubahan pada suhengnya yang membuat?nya menatap wajah suhengnya. Dan diam-diam ia terkejut. Suhengnya me?mandang kepadanya dengan aneh! Sinar mata suhengnya itu! Seolah-olah mata itu dengan lembutnya membelainya, ke?mudian berusaha untuk menjenguk isi hatinya. Dan pandang mata itu mengan?dung sesuatu yang membuat jantungnya berdebar aneh, sepasang mata itu tak pernah berkedip. ?Heii, Suheng! Apa-apaan sih engkau ini?? teriaknya untuk menekan guncangan hatinya sendiri, memecahkan suasana yang membuatnya canggung itu. ?Kenapa, Sumoi?? kata Sian Lun dan suaranya pun berubah bagi Sian Li. Suara itu demikian lembut, seperti mengelusnya dan keluar dari dalam dada. ?Suheng, kenapa engkau memandangku seperti itu?? tegurnya. Mereka dapat bicara dengan bebas karena tukang pera?hu telah tidur di tepi sungai, menggulung dirinya dalam selimutnya yang tebal. Dalam keadaan masih terpesona, se?perti tersihir oleh wajah yang nampak cantik jelita luar biasa ketika bermandi?kan sinar bulan itu. Sian Lun masih be?lum sadar dan dia menjawab dengan suara penuh kagum dan penuh kasih sa?yang. ?Engkau.... engkau begitu cantik jelita....? Dalam keadaan biasa, pujian dari su?hengnya itu tentu akan membuat Sian Li tertawa geli, akan tetapi sekarang, sigar mata suhengnya membuat wajahnya menjadi merah sekali ketika mendengar pujian itu. Akan tetapi ia memaksa diri menekan perasaan aneh, rasa senang gembira dan bangga, dan ia pun memak?sa diri untuk tertawa. Ia membayangkan dirinya dan suhengnya yang telah berlatih bersama, bermain bersama sejak ia berusia dua belas tahun, ketika ia masih kanak-kanak, dan tiba-tiba suhengnya yang biasanya selalu bersikap sopan dan serius kepadanya, kini memuji kecantikannya. Lucu! ?Hi-hi-hik, heh-heh.... kau lucu, suheng! Kenapa mendadak saja engkau seperti ini? Jangan-jangan engkau kemasukan setan sungai ini yang kabarnya keramat? Kalau mau mengagumi kecantikan, tengoklah ke atas. Lihat, bulan itulah yang cantik jelita penuh senyum.? Akan tetapi ucapan yang penuh kela?kar itu tidak cukup kuat untuk menyeret Sian Lun turun kembali ke dalam keada?an seperti biasa yang wajar. Dia masih terpesona! ?Tidak, Sumoi. Kecantikan Sang Bulan tidak dapat disamakan dengan kecantikanmu! Kecantikan bulan itu mati, akan tetapi engkau.... aih, Sumoi, tidak ada wanita di seluruh dunia ini yang dapat menyamai kecantikanmu!? Kalau tadi Sian Li masih tersenyum-senyum manis, kini senyumnya menghi?lang dan alisnya berkerut khawatir. Namun bagi Sian Lun, seperti juga semua laki-laki yang sudah jatuh cinta, peru?bahan wajah gadis itu sama sekali tidak mengubah hasil pandangannya. Tersenyum tertawa, merengut atau menangis atau marah-marah, tetap saja cantik jelita! Bagi hati yang sedang tergila-gila oleh cinta, wajah yang cemberut bahkan ber?tambah manis! Sebaliknya, bagi hati yang diracuni benci, wajah yang tersenyum dianggap mengejek dan menyebalkan! ?Suheng, sadarlah! Kita sudah bergaul sejak aku kecil, kita biasa berlatih ber?sama, bermain bersama. Kenapa sekarang engkau bersikap begini? Mengerikan! Hentikan kelakarmu ini, atau aku akan benar-benar marah, Suheng!? katanya dan untuk menyadarkan suhengnya. Sian Li memegang lengan pemuda itu dan mengguncangnya agak keras. Sian Lun baru menyadari ketidakwa?jaran sikapnya. Dia menarik napas pan?jang seperti orang mengeluh, ?Maaf, Sumoi, maafkan sikapku tadi.... akan te?tapi.... aku seperti mabok, Sumoi. Mabok oleh apa yang kulihat malam ini. Wajah?mu disinari bulan purnama, rambutmu, matamu, hidung dan bibirmu.... ah, eng?kau memang cantik jelita, sumoi dan aku.... aku tak dapat menahan lagi raha?sia hatiku, aku cinta padamu, Sumoi, aku cinta padamu....? Sepasang mata yang indah itu terbe?lalak, pipi yang tadi kemerahan itu men?dadak menjadi pucat, lalu merah lagi dan tiba-tiba saja Sian Li menggerakkan ke dua tangannya mendorong kedua pundak Sian Lun. Pemuda itu terkejut, tidak mampu mengelak atau menangkis, dan tubuhnya terjengkang keluar dari perahu. ?Byuurrr....!? Air muncrat tinggi dan tubuh Sian Lun tenggelam! Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali dan gelagapan. Sian Lun bukan tak pan?dai renang, akan tetapi dia tadi terlam?pau kaget ketika tubuhnya didorong su?moinya keluar dari perahu, dan kini dia pun harus melawan arus air, kembali ke perahu. ?Peganglah ini!? kata Sian Li yang sudah menjulurkan dayung ke arah pemu?da itu. Setelah tadi mendorong tubuh suhengya sehingga terjatuh ke dalam air di luar perahu, Sian Li baru menye?sali perbuatannya, dan melihat pemuda itu gelagapan, ia lalu menyambar dayung dsn menolongnya naik. Sian Lun naik ke perahu dengan pa?kaian basah kuyup, juga rambutnya basah kuyup. Mereka berdiri berhadapan di kepala perahu, saling pandang. Sian Li marasa kasihan juga melihat suhengnya yang basah kuyup dan nampak bersedih. ?Maafkan aku, Sumoi,? kata Sian Lun lirih. Hemmm, sudah didorong ke dalam air, malah minta maaf. Sian Li merasa se?makin menyesal. ?Habis, engkau sih, Su?heng, yang aneh-aneh. Aku tidak suka melihat dan mendengar engkau seperti tadi! Engkau Suhengku, kuanggap seperti kakak sendiri, dan aku.... aku masih ter?lalu muda untuk memikirkan soal cinta. Jangan sebut-sebut lagi soal itu. Dan kau juga maafkan aku yang tadi mendorong?mu karena marah.? Sian Lun menundukkan mukanya. Di?dorong ke air oleh Sian Li bukan apa-apa, biar didorong seratus kali dia mau asal gadis yang membuatnya tergila-gila itu suka menerima cintanya. Yang mem?buat hatinya terasa sedih sekali adalah ucapan sumoinya tadi. Sumoinya tidak mau bicara tentang cinta dan mengang?gap dia seperti kakak sendiri! Dia me?nundukkan mukanya dan memasuki bilik perahu untuk bertukar pakaian kering. Sian Li memandang ke arah kain tirai yang menutup pintu bilik dengan hati iba. Akan tetapi ia tidak berbohong dengan ucapannya tadi. Selama ini ia menyayang Sian Lun sebagai suheng, atau sebagai kakak sendiri, sama sekali tak pernah terbayangkan memandang suhengnya itu sebagai seorang kekasih, sebagai seorang calon suami! Lucu dan aneh rasanya ka?lau ia harus menjadi isteri suhengnya! Ketika Sian Li sedang melamun, tiba-tiba perahu itu terguncang. Ia terkejut dan menengok. ?Heiiii....!? teriaknya ke?tika melihat ada dua orang berpakaian hitam tiba-tiba saja meloncat dari air ke atas perahunya, dan sebuah perahu meluncur cepat menuju ke situ. Tahulah ia bahwa ada orang jahat yang hendak mengganggunya, maka cepat ia menyam?but kedua orang itu dengan serangan kakinya yang melakukan tendangan be?runtun. Tendangan-tendangan kaki Si Bangau Merah Tan Sian Li tidak boleh disamakan dengan tendangan kaki seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang biasa saja. Tendangan itu selain amat cepat datang?nya, juga mengandung tenaga sin-kang, karena gerakan itu adalah menurut ilmu tendang sakti Soan-hong-twi (Tendangan Angin Puyuh) yang dipelajarinya dari Suma Ceng Liong! Dua orang berpakaian hitam yang basah kuyup itu tidak sempat mengelak, hanya mampu menggerekkan lengan menangkis sambil mengerahkan tenaga mereka. ?Dukk! Plakk!? Tangkisan mereka yang disertai tenaga itu bahkan membuat tendangan itu semakin ampuh. Tubuh mereka terlempar sampai beberapa me?ter dan mereka pun terjatuh ke air kem?bali. Air muncrat lebih tinggi daripada ketika Sian Lun tercebur tadi! Akan tetapi, dari tepi perahu yang lain telah berloncatan empat orang ber?pakaian hitam yang lain lagi. Mereka membawa golok dan mereka sudah me?nerjang Sian Li dari belakang. Gadis itu mendengar sambaran golok dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik tiga kali dan ketika tubuhnya turun, ia telah meluncur dengan kepala di bawah, dida?hului sebatang pedang yang tadi sudah dibawanya loncat dan dicabut ketika tubuhnya berjungkir balik. Sinar pedang?nya meluncur dan menyambar ke arah tiga orang penyerangnya tadi. Gerakan?nya bagaikan seekor burung bangau merah melayang turun dan paruh yang runcing di bawah, siap untuk mematuk! Akan tetapi tiga orang itu ternyata lihai juga. Mereka memutar golok untuk melindungi diri dari sinar pedang yang menyambar bagaikan kilat itu. ?Trang-trang-trang....!? Karena tiga kali beradu senjata selagi tubuhnya masih di udara, terpaksa Sian Li berjungkir balik lagi agar jangan sampai terbantingjatuh. Ia dapat turun ke atas perahu, akan tetapi terhuyung karena perahu itu terguncang oleh tenaga tiga orang itu. Dan tiga orang itu, yang agaknya lebih biasa di atas perahu, yang bergoyang-goyang, sudah menerjang maju! Tiba-tiba, Sian Lun yang sudah berganti pakaian dan mendengar suara gaduh di luar bilik perahu, sudah meloncat dan dengan pedang diputar dia menghadang terjangan tiga orang itu. Terdengar bu?nyi berdentangan dan bunga api barpijar ketika pedang di tangan Sian Lun berte?mu dengan tiga batang golok para pe?ngeroyok yang ternyata cukup lihai itu. Dan Sian Li tidak dapat membantu Sian Lun karena pada saat itu, dua orang lagi sudah meloncat naik dan mengeroyok Sian Li dengan golok mereka. ?Pendeta-pendeta busuk, munafik, jahat....!? Sian Li marah sekali dan sam?bil memaki-maki, pedangnya digerakkan dengan dahsyat, membuat kedua orang pengeroyoknya itu terdesak. Akan tetapi, pada saat itu, perahu berguncang keras dan miring! Sian Lun masih sempat meloncat ke tepi sungai, akan tetapi Sian Li tidak sempat lagi kerena selain kedua orang lawannya su?dah menyergapnya lagi selagi perahu miring dan hampir terbalik, juga dara ini berada di sisi perahu yang tiba-tiba miring ke bawah. Ia mencoba untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya, akan tetapi dua batang golok menyambar kakinya. Terpaksa Sian Li meloncat dan tak dapat dihindarkan lagi, ia tercebur ke dalam air! Kepandaian Sian Li di air hanya bia?sa-biasa saja, hanya sekedar dapat bere?nang dan tidak sampai tenggelam, maka ketika dua orang penjahat yang sudah biasa bermain di air menyelam dan me?megangi kedua kakinya, gadis ini tidak berdaya, meronta dan gelagapan sehingga akhirnya ia tertawan, kedua tangannya dibelenggu ke belakang dan ia diseret ke tepi sungai oleh empat orang! Sementara itu, Sian Lun yang berha?sil melompat ke daratan dan tidak sam?pat tercebur, masih dikepung oleh tiga orang lawan yang cukup tangguh. Pemuda ini mengamuk dan sukarlah bagi tiga orang itu untuk mampu mendesaknya. Akan tetapi ketika Sian Lun melihat becapa sumoinya tertawan, dia menjadi khawatir sekali dan juga marah. ?Lepaskan ia!? bentaknya dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke atas dan dia sudsh meninggalkan tiga orang pengepungnya, langsung saja dia menyambar ke arah empat orang yang me?nawan Sian Li! pedangnya diputar dan empat orang itu terkejut, cepat mereka menggerakkan golok untuk menangkis, lalu mengepung Sian Lun, Pemuda ini nekat. Dia harus dapat menyelamatkan sumoinya. Gerakan pedangnya amat he?bat karena pemuda yang sudah marah dan nekat ini sudah memainkan Ilmu Pedang Koai-liong-kiam (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang dipelajarinya dari subonya (ibu gurunya). Pedangnya seperti berubah menjadi seekor naga mengamuk dan desing pedang seperti auman naga. Empat orang lawannya terkejut dan ter?paksa mundur berpencar. Kesempatan itu dipergunakan oleh Sian Lun untuk mendekati sumoinya dan sekali menggerakkan pedang, tali pengikat pergelangan kedua tangan Sian Li terbabat putus. ?Awas, Suheng....!? teriak Sian Li ke?tika melihat betapa empat orang itu, ditambah tiga orang lagi, serentak me?nyerang Sian Lun dari belakang dan kanan kiri! Sian Lun membalik sambil memutar pedangnya, dan Sian Li menerjang orang yang merampas pedangnya dengan sebuah tendangan ke arah tangan yang meme?gang golok, dilanjutkan, tubrukan ke de?pan untuk merampas kembali pedangnya yang dipegang tangan kiri orang itu. Tubrukannya berhasil ketika orang itu mengelak ke samping, dan di lain saat pedang itu telah dirampasnya kembali. Akan tetapi, ketika Sian Lun menang?kis, terlampau banyak golok menyerang?nya sehingga sebuah di antara golok yang menyerangnya, ketika ditangkis putaran pedangnya, masih sempat melukai pundak kirinya sehingga baju di bagian pundak itu terobek berikut kulit pundak yang terluka dan berdarah. ?Suheng, kau terluka?? teriak Sian Li sambil memutar pedang membantu suhengnya. ?Tidak mengapa. Kita basmi manusia-manusia busuk ini!? bentak Sian Lun yang sudah marah sekali dan dengan penuh semangat dia juga memutar pedangnya, menyerang dengan dahsyat. Kedua orang kakak beradik seperguruan itu mempergunakan ilmu-ilmu pedang yang amat hebat. Sian Lun tetap memainkan Ilmu pedang Naga Siluman, sedangkan Sian Li kini memainkan Ilmu Pedang Suling Emas seperti yang ia pelajari dari ne?neknya, Kam Bi Eng! Dua macam ilmu pedang ini memang merupakan ilmu-ilmu pedang yang dahsyat, dan Nenek Kam Bi Eng telah mewarisi ilmu-ilmu itu dari ayahnya, Kam Hong yang telah menggabungkan kedua ilmu itu menjadi satu. Maka, ketika kedua orang muda ini memainkan dua macam ilmu itu, mereka merupakan pasangan yang amat kuat sehingga tujuh orang pengero?yok mereka kewalahan dan mereka pun berloncatan ke belakang dan melarikan diri ke dalam hutan gelap di tepi sungai. ?Jahanam, kalian hendak lari ke ma?na?? Sian Lun melompat dan melakukan pengejaran. ?Suheng, jangan kejar!? Sian Li berse?ru, akan tetapi suhengnya sudah berlari cepat dan tidak mau berhenti. ?Suheng, berbahaya kalau mengejar mereka!? kembali Sian Li berteriak. Ka?rena Sian Lun tidak menanggapi dan terus berlari, terpaksa ia pun berlari mengejar dengan hati khawatir sekali. Hutan itu gelap dan cahaya bulan hanya menjadi sinar suram muram yang mema?suki celah-celah daun dan ranting. Makin gelap saja dan akhirnya Sian Li menjadi bingung karena ia kehilangan jejak tujuh orang itu, juga kehilangan jejak suheng?nya. Tadi ia mssih dapat mendengar suara kaki mereka menginjak daun kering. Akan tetapi kini, di sekelilingnya sunyi dan ia, tidak tahu harus mengejar ke mana. Dengan hati-hati ia berjalan ke sana sini, berkeliaran tanpa arah di da?lam hutan yang lebat itu, mengerahkan kekuatan mata dan telinga untuk menca?ri kembali jejak mereka. Namun, usaha?nya sia-sia, bahkan untuk kembali ke te?pi sungai tempat perahu tadi pun ia sudah tidak mengenal jalan lagi! Terpak?sa Sian Li menunggu sampai pagi. Tidak lama ia menanti karena tak lama kemu?dian, sinar bulan semakin muram, sinar matahari mulai membakar langit di ti?mur. Setelah cuaca tidak gelap lagi, sudah remang-remang, Sian Li bangkit dari bawah pohon dan melanjutkan pencarian?nya. Ia merasa khawatir sekali. Tiba-tiba ia mendengar teriakan suhengnya. ?Sumoi, pergilah jauh-jauh jangan ke sini!? Mendengar suara ini, tentu saja Sian Li terkejut bukan main. Ia seorang gadis yang cerdik, maka seruan suhengnya itu membuat ia sejenak termangu. Ia tahu bahwa suhengnya tentu berada dalam bahaya, dan suhengnya tidak menghen?daki ia mendekat karena tentu ada baha?ya mengancamnya pula kalau ia mende?kat! Akan tetapi, bagaimana mungkin ia membiarkan saja suhengnya terancam bahaya? Bagaimana mungkin ia pergi menjauh hanya karena ada bahaya me?ngancamnya setelah ia tahu bahwa su?hengnya dalam bahaya? Tidak, ia harus menolong suhengnya. Terbayang ketika tadi dengan nekat dan mati-matian su?hengnya menolongnya ketika ia tertawan, bahkan suhengnya sampai mengorbankan dirinya dan terluka pundak kirinya untuk menyelamatkan dirinya. Ia harus meno?long suhengnya, biarlah ia akan mengha?dapi bahaya apa pun! Setelah mengambil keputusan tetap, dengan hati-hati namun cepat sekali Sian Li mempergunakan gin-kang (ilmu me?ringankan tubuh) dan berlari seperti ter?bang menuju ke arah suara tadi. Suheng?nya hanya mengeluarkan kalimat itu saja lalu keadaan kembali sunyi sehingga ten?tu saja hatinya menjadi semakin gelisah, mengkhawatirkan suhengnya. Ia tidak berani memanggil, karena kalau ada mu?suh di sana, tentu akan dapat mendengar suaranya. Kalau ia ingin menolong su?hengnya, ia harus dapat mendekati tem?pat suhengnya itu dengan diam-diam dan tersembunyi. Ia harus melihat keadaan dulu sebelum turun tangan. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika ia melihat dari balik batang pohon yang besar, suhengnya telah terbelenggu di bawah sebatang pohon besar, diikat pada pohon itu dan agaknya suhengnya pingsan atau tertotok karena lehernya terkulai dan kepalanya menunduk dalam. Tali yang amat kuat membelit tubuhnya dari kaki ke dada, kedua lengan ke belakang, dan diikat kepada batang pohon itu! Tidak nampak orang lain di sana! Menurutkan dorongan hatinya, tentu saja ia ingin sekali melompat mendekati suhengnya dan membebaskannya dari ikatan itu, akan tetapi kecerdikannya membuat ia berpikir sebelum bergerak. Mustahil kalau suhengnya ditangkap, dibelenggu lalu ditinggalkan saja di situ tanpa penjagaan, Tempat itu begitu su?nyi, seolah tidak ada orang lain kcuali suhengnya. Mustahil! Ini tentu sebuah perangkap, sebuah jebakan, ia memba?yangkan, jebakan apa yang mungkin dipasang oleh pihak musuh. Mereka depat bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak, siap dengan anak panah atau senjata rahasia di tangan. Kalau ia menghampiri suhengnya, tentu mereka akan menghujanan anak panah atau sen?jata rahasia. Akan tetapi tidak mungkin, pikirnya. Kalau mereka ingin membunuh?nya, kenapa suhengnya yang sudah tertawan itu dibiarkan hidup? Mereka tentu memasang jebakan untuk menangkapnya hidup-hidup atau jebakan atau perangkap apa yang mungkin mereka pasang? Se?buah lubang di dekat tempat suhengnya diikat? Lubang yang dtutupi rumput agar ia terjeblos ke dalam lubang kalau menghampiri suhengnya? Atau mereka akan keluar dan mengepung tempat itu? Sian Li mendapatkan perasaan yang anehsekali. Ia merasa seperti menjadi hari?mau yang dipancing dengan umpan! Su?hengnya menjadi kambingnya yang diikat di sana, untuk memancing munculnya Sang Harimau. Apa pun yang akan terjadi, bagaimana nanti sajalah! Yang paling penting, ia harus menolong suhengnya! Ia akan ber?hati-hati, menjaga segala kemungkinan. Ia akan memperhatikan sekelilingnya, ju?ga memperhatikan tanah yang diinjaknya! Dengan pedang terhunus di tangan kanan, dan sebatang tongkat dari cabang pohon yang dipatahkannya, ia melangkah keluar dari balik pohon, dengan hati-hati ia melangkah maju, mempergunakan tongkat yang dua meter panjangnya itu untuk meraba-raba dan menusuk-nusuk tanah di depannya sebelum ia melangkah. Ia maju selangkah demi selangkah, tongkat?nya meneliti tanah yang akan diinjak, matanya waspada meneliti keadaan seke?liling sehingga kalau ada ancaman datang dari sekelilingnya, ia tidak akan mudah dibokong. Tinggal kurang lebih sepuluh meter lagi dari tempat Sian Lun diikat pada batang pohon. Tiba-tiba ia berhenti melangkah. Ujung tongkatnya menembus lapisan rumput! Di bawah rumput itu ada lubang! Ia menyelidiki dengan ujung tongkatnya. Ada lubang bundar yang ga?ris tengahnya tidak kurang dari satu setengah meter! Lubang yang ditutup lapisan rumput. Kalau ia melangkah atau berlari di atas lapisan rumput, tentu ia akan terjeblos ke bawah. Tepat seperti yang diduganya! Dengan pengerahan te?naga pada tongkatnya, ia mencokel lapis?an rumput itu sampai lapisan penutup lubang itu terbuka semua! Kini nampak?lah lubang itu, yang dalamnya tidak ku?rang dari tiga meter! Sekali terjeblos ke dalamnya, tentu ia akan sukar melo?loskan diri, karena tentu mereka akan mengepung lubang dan mencegah ia me?lompat keluar lagi. Sian Li tersenyum. Untung ia bersikap hati-hati. Dengan ujung tongkat terus meraba, ia melangkah lagi mengitari lubang dan tiba di depan suhengnya tan?pa ada rintangan lain. Agaknya hanya lubang itulah perangkap yang dipasang musuh. Sekarang ia harus cepat membebaskan suhengnya. ?Suheng....!? Ia mengguncang pundak suhengnya. Akan tetapi suhengnya tetap lemas seperti tidur, atau pingsan, atau tertotok. Ia harus lebih dulu melepaskan ikatan itu kalau ingin membebaskan su?hengnya dari totokan. Totokan yang me?lenyapkan semua tenaga itu harus dibe?baskan dengan totokan dan urutan pada punggung, di pusat tenaga tengah ping?gang. Dengan pedangnya, Sian Li lalu membikin putus semua tali pengikat tu?buh suhengnya. Ia harus merangkul su?hengnya agar tidak sampai tubuh itu terkulai jatuh. Dan pada saat ia merang?kul suhengnya itulah jala itu jatuh dari atas pohon! Jala yang lebar, yang siap di atas pohon dan tali-talinya dipegangi beberapa orang yang tersembunyi. Tali-tali dilepas dan jala itu pun jatuh me?nyelimuti Sian Li dan Sian Lun! Sian Li terkejut bukan main. Ia tidak menyangka akan datang serangan dari atas. Ada beberapa hal yang membuat dara perkasa ini tidak dapat menghindar?kan diri dari serangan jala. Pertama, perhatiannya hanya ditujukan kepada suhengnya dan sekelilingnya. Ke dua, baru saja ia menemukan perangkap lu?bang tertutup lapisan rumput itu sehing?ga ia menganggap telah terbebas dari ancaman bahaya jebakan dan membuat?nya menjadi lengah, dan ke tiga teruta?ma sekali karena ia sedang merangkul suhengnya yang lemas untuk mencegah tubuh yang lemas itu terkulai jatuh. Sian Li mencoba untuk melepaskan diri, meronta-ronta, akan tetapi segera muncul tujuh orang berpakaian hitam-hitam itu dan tali-tali jala ditarik sema?kin kuat sehingga ia dan suhengnya terbelit dan terbungkus jala menjadi satu sampai ia tidak mampu bergerak lagi. Dengan mudah saja orang-orang berpa?kaian hitam itu meringkusnya dan mengi?kat tangan dan kakinya sebelum ia di?keluarkan dari dalam selimutan jala, demikian pula kaki dan tangan Sian Lun diikat pula. Kemudian, sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menaikkan tubuh kedua orang muda itu ke atas punggung kuda, menelungkup dan melintang, dan dipegangi orang yang menunggang kuda, dan mereka lalu pergi dari situ menung?gang kuda, menuju ke timur. *** Matahari telah naik tinggi ketika rombongan tujuh orang itu berhenti di depan sebuah bangunan yang berada di puncak sebuah bukit. Tempat itu jauh dari dusun dan nampak sunyi, walaupun di kaki bukit tadi terdapat yang diting?gali orang-orang suku Tibet dan ada pula suku Miao. Sian Lun sadar dan begitu membuka mata dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di punggung kuda, menelungkup dan melintang di depan seorang laki-laki tinggi besar yang menunggang kuda itu, dia tahu bahwa dia dibawa pergi dan hatinya merasa lega. Tentu sumoinya telah mendengar teriakannya tadi sebe?lum dia ditotok pingsan dan sumoinya tidak mau mendekati tempat yang sudah dipasangi jebakan berbahaya itu. Biarlah, biar dia dibunuh sekalipun, asal sumoinya selamat, dia ikut girang. ?Suheng....!? Sian Lun menengok ke kiri dan ter?kejut bukan main. Dia terbelalak dan tidak mampu mengeluarkan suara. Leher?nya seperti dicekik dan dadanya seperti hendak meledak. Kiranya Sian Li juga telah tertangkap seperti dia! Diikat kaki tangannya, ditelungkupkan di punggung kuda dan sama sekali tidak berdaya. Sungguh celaka! Melihat wajah suhengnya menjadi pu?cat dan matanya terbelalak, Sian Li ter?senyum! ?Suheng, kita belum mati!? ka?tanya dan ucapan ini membesarkan hati?nya. Benar juga. Mereka masih hidup dan selama mereka masih hidup, dia tidak boleh putus asa! Kalau mereka ditawan dan tidak dibunuh, hal itu hanya berarti bahwa para penawan mereka tidak meng?hendaki kematian mereka. Sementara ini, bahaya maut masih jauh dan masih ada harapan bagi mereka berdua untuk men?cari jalan membebaskan diri. Sian Li memberi isarat dengan kedipan mata lalu memejamkan matanya, dan Sian Lun mengerti, maka dia pun tidak mau bicara lagi. Lebih baik mengumpul?kan tenaga untuk bersiap-siaga, di mana ada kesempatan mereka akan membebas?kan diri. Rombongan itu memasuki pekarangan rumah, kemudian dua orang tawanan dipanggul masuk ke dalam rumah, dibawa ke dalam sebuah ruangan. Di dalam rumah itu terdapat belasan orang, kese?muanya berkepala gundul dan mengena?kan jubah hitam. Kiranya tempat itu merupakan sarang Hek I Lama yang menjadi orang-orang buruan pemerintah Tibet! Sian Lun dan Sian Li dimasukkan ke dalam kamar tahanan yang berdampingan, dipisahkan dinding terali besi yang kokoh kuat. Mereka dapat saling lihat, akan tetapi dinding pemisah itu kuat bukan main. Juga ruangan tahanan itu mempunyai pintu besar terbuat dari besi berterali yang kokoh, dikunci dari luar. Ketika dimasukkan ke dalam ruangan tahanan, ikatan kedua kaki mereka di?lepes dan kini hanya kedua tangan mere?ka saja yang masih terbelenggu ke be?lakang. Setidaknya, mereka dapat berge?rak, dapat berdiri atau duduk. Mereka lalu duduk bersila, mengatur pernapasan. Sian Liberpikir. Ia melihat bahwa tujuh orang tadi sesungguhnya juga para anggauta Lama Jubah Hitam yang me?nyamar, menutupi kepala gundul mereka dangan kain hitam dan pakaian mereka juga ringkas, tidak mengenakan jubah pendeta. Jelas bahwa ia dan suhengnya tertawan oleh para pendeta Lama jubah hitam yang menurut keterangan dipimpin oleh Lulung Lama. Pendeta Tibet itu merupakan pimpinan golongan pendeta Lama yang tidak sah, yang dimusuhi pemerintah Tibet sendiri, dan golongan ini telah bersekutu dengan gerombolan dari Nepal yang juga merupakan pembe?rontak di negaranya sendiri. Mereka itu melakukan gerakan menghasut dan mengobarkan sikap anti pemerintah Ceng di Cina, dan agaknya mereka itu hendak melakukan gerakan pemberontakan di Cina dan kini sedang menyusun kekuatan. Semua ini ia dengar dari Gangga Dewi ketika ia masih berada di Bhutan. Akan tetapi kenapa Lama Jubah Hitam mena?wan ia dan suhengnya? ?Sumoi, kau baik-baik saja?? Tiba-tiba suara Sian Lun ini menyadarkan Sian Li darilamunannya. Ia mengangkat muka memandang dan suhengnya telah berdiri di dekat jeruji pemisah kamar tahanan mereka. Kedua tangan suhengnya juga masih terbelenggu. Ikatan itu longgar saja, akan tetapi tidak mungkin dipatah?kan, karena tali untuk mengikatnya ada?lah dari kulit yang amat kuat, yang da?pat melentur sehingga tidak dapat dibikin putus. ?Aku tidak apa-apa, Suheng. Dan me?reka tidak melukaimu?? ?Tidak, hanya menotok dan membius. Bahkan lukaku di pundak tahu-tahu telah kering dan mereka obati. Sungguh aneh, apa maksud mereka itu menawan kita?? ?Aku sendiri tidak tahu, Suheng. Akan tetapi mulai sekarang, engkau harus ber?hati-hati dan jangan terburu nafsu, dapat menahan diri melihat keadaan. Karena engkau terburu nafsu, maka telah berlaku sembrono sehingga kita tertawan.? ?Maafkan aku, Sumoi. Memang aku ceroboh, semestinya aku tidak mengejar mereka. Akan tetapi engkau.... aku ber?terima kasih padamu, Sumoi. Engkau te?lah membelaku sehingga engkau sendiri tertawan.? Melihat pandang mata suhengnya itu penuh kasih dan keharuan, Sian Li me?narik napas panjang. ?Sudahlah, tidak perlu disebut-sebut lagi. Kita adalah kakak beradik seperguruan, tentu saja saling bantu dan saling bela.? Tiba-tiba Sian Li memberi isarat dengan kedipan mata dan Sian Lun menghentikan perca?kapan, membalikkan badan untuk meman?dang ke depan kamar tahanan itu, melalui jeruji di pintu besi. Dia menahan kemarahannya ketika melihat seorang yang amat dikenalnya, yaitu penabuh tambur murid Lulung Lama yang lihai itu! Ingin dia memaki, akan tetapi dia takut kalau dianggap ceroboh lagi oleh sumoinya, maka dia pun diam saja, hanya memandang dengan mata penuh kebenci?an, dan menyerahkan saja kepada sumoi?nya untuk menentukan sikap dan kalau perlu bicara. Dia sudah mendapat kete?rangan bahwa pemuda ini adalah murid Lulung Lama, bernama Cu Ki Bok, seo?rang peranakan Han Tibet. Karena dia pernah bertanding melawan pemuda yang tinggi tegap dan gagah ini, dia tahu bah?wa murid Lulung Lama ini amat lihai. ?Selamat sore, Nona Tan Sian Li dan sobat Liem Sian Lun. Selamat bertemu kembali!? kata Cu Ki Bok sambil terse?nyum dan kini sikapnya sungguh berbeda dengan ketika dia menyamar sebagai tukang tambur itu. Kini sikapnya riang dan ramah, matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum sedangkan pakaiannya juga pesolek sehingga membuat dia nam?pak makin gagah dan tampan. ?Hemm, kiranya engkau pula yang mengatur semua kecurangan ini! Cu Ki Bok, kalau engkau memang gagah, mari kita bertanding sampai seorang di antara kami menggeletak menjadi mayat, bukan melakukan pengeroyokan dan perangkap yang curang! Engkau pengecut tak tahu malu!? Sian Li memaki-maki. Yang dimaki-maki tersenyum saja. ?Kalau saja Suhu tidak mempunyai ren?cana lain denganmu, tentu aku akan suka sekali menyambut tantanganmu itu, Nona dengan taruhan bahwa kalau aku kalah, engkau boleh membunuhku, akan tetapi kalau aku menang, engkau harus menjadi isteriku.? Wajah Sian Li berubah merah sekali dan matanya memancarkan cahaya bera?pi saking marahnya. ?Huh, tak tahu malu! Siapa sudi menjadi jodohmu?, Engkau hanya seorang peranakan Han yang sudah lupa diri, suka menjadi budak orang Ti?bet dan Nepal, menjadi antek pemberon?tak!? ?Nona, kalau bukan engkau yang bica?ra, tentu sudah kurobek mulutmu! Coba ingat baik-baik, kalian ini bangsa apakah, Nona Sian Li dan Sobat Sian Lun? Kalian mengaku orang Han, mengaku penduduk aseli, bahkan mengaku sebagai pendekar?-pendekar yang gagah perkasa. Akan teta?pi apa yang kalian lakukan untuk negara dan bangsa kita yang terjajah oleh bang?sa Mancu? Aku memang memberontak terhadap penjajahan orang Mancu, aku seorang patriot, seorang pahlawan sejati! Dan kalian masih memandang rendah dan memaki aku? Padahal, dengan sikap ka?lian yang tidak menentang pemerintah penjajah, berarti kalian sudah menjadi antek orang Mancu yang menjajah negara dan bangsa kita!? Setelah berkata demikian, Cu Ki Bok meninggalkan tempat itu dengan cepat. Sian Li saling pandang dengan su?hengnya, ucapan pemuda tinggi tegap peranakan Han Tibet itu tadi seperti ujung pedang yang menusuk-nusuk jantung mereka karena tepat sekali mengenai sasaran, Mereka sudah seringkali mende?ngar dari guru mereka, Suma Ceng Liong dan Isterinya, bahwa mereka itu kini se?lalu prihatin melihat betapa tanah air dan bangsa dijajah oleh bangsa Mancu. Bahkan Suma Ceng Liong mengakui bah?wa di dalam darah keluarga Suma, yaitu keluarga keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, mengalir pula darah Man?cu! Isteri Pendekar Super Sakti Suma Han adalah wanita-wanita Mancu. Inilah sebabnya mengapa sampai sekarang, tidak ada keturunan keluarga Suma yang me?nentang pemerintah Mancu. Padahal ke?luarga ini terkenal sebagai keluarga para pendekar yang gagah perkasa! Dan sekarang, pemuda peranakan Han Tibet yang menawan mereka itu telah mencela mereka. Salahkah mereka? Be?narkah pemuda peranakan Han Tibet itu? Sian Li menjadi bingung dan termenung. ?Sumoi, jangan dengarkan dia,? terde?ngar Sian Lun berkata, ?pahlawan macam apa dia itu? Menggunakan orang-orang Tibet dan Nepal, menawan kita secara curang dan pengecut. Seorang gagah se?jati tidak akan melakukan perbuatan seperti itu. Jelas bahwa gerombolan itu jahat seperti apa yang dikatakan Bibi Gangga Dewi, mungkin kepatriotannya itu hanya sebagai kedok saja.? Sian Li memejamkan mata. Memang, neneknya, Gangga Dewi sudah mencerita?kan tentang Hek I Lama, yaitu kelompok pendeta Lama Jubah Hitam yang dipim?pin oleh Lulung Lama. Kelompok pendeta ini telah melakukan penyelewengan. Mula-mula, Lulung Lama adalah orang pendeta Lama Jubah Merah yang memi?liki kedudukan cukup tinggi di antara para pendeta Lama di Tibet. Akan tetapi dia melakukan pelanggaran, menggang?gu wanita, bahkan melakukan perbuatan rendah dengan memperkosa wanita. Keja?hatan ini diketahui dan dia tidak dapat diampuni lagi, dikeluarkan dari kelompok Lama Jubah Merah di mana dia tadinya menjadi tokoh. Lulung Lama merasa sa?kit hati dan dia pun lalu membentuk keiompok sendiri dengan mengenakan Jubah Hitam. Baru warna Jubahnya saja sudah berarti bahwa dia tidak segan melakukan perbuatan jahat seperti go?longan hitam! Dia segera diikuti oleh golongan hitam di daerah Tibet yang menjadi anak buahnya. Kemudian, Lulung Lama berkenalan dengan Pangeran Gulam Sing, yaitu pangeran dari Nepal yang menjadi orang buruan di negaranya karena dia melakukan pemberontakan. Pange?ran Gulam Sing juga mempunyai banyak anak buah. Kedua orang tokoh sesat itu lalu bergabung membuat kekacauan di daerah Nepal, Bhutan dan Tibet, bahkan merencanakan pemupukan kekuatan untuk melakukan serbuan ke timur, menentang pemerintah Mancu dan menghasut orang-orang Han untuk bersekutu dengan mere?ka dan memberontak terhadap pemerin?tah Kerajaan Mancu dengan dalih kepa?triotan! ?Mungkin engkau benar, Suheng. Ba?gaimanapun juga, kita harus waspada dan berhati-hati. Cu Ki Bok itu lihai dan gurunya lebih lihai lagi. Ditambah dengan anak buah Hek I Lama yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, kita berada dalam bahaya.? Tempat tahanan mereka itu tidak pernah lowong dari penjagaan di luar ruangan. Sedikitnya ada empat orang penjaga yang berada di luar ruangan itu, kesemuanya adalah anggauta Hek I Lama dengan ciri khas mereka, yaitu kepala gundul dan jubah hitam. Mereka tidak pernah diganggu oleh para penjaga, bah?kan secara teratur mereka mendapatkan makan dan minum yang layak, dimasuk?kan ke dalam melalui jeruji besi oleh penjaga, di atas sebuah baki. Ada nasi, ada sayur, dan ada air teh. Malam tiba dan di luar kamar tahan?an itu dipasangi lampu minyak. Ada dua buah lampu yang cukup terang. Sian Li merasa tubuhnya segar dan sehat. Ia dan suhengnya diperlakukan dengan baik. Bahkan sore tadi, ia mendapat kesempat?an untuk mandi, bertukar pakaian. Dia dikawal ke tempat mandi yang berada di bagian belakang, dikawal empat orang dengan todongan golok, belenggu kedua langannya dilepas dan sebagai gantinya, kaki dan tangannya dipasangi rantai yang cukup membuat ia mampu bergerak un?tuk mandi, dan lain-lain. Ia tidak begitu bodoh untuk memberontak atau melarikan diri walau kaki dan tangannya dirantai, Kalau ia mau, tentu saja itu merupakan kesempatan. Namun, ia tahu pula bahwa usahanya itu tidak akan berhasil. Terlalu banyak lawan yang tangguh di situ, dan pula, andaikata ia mampu melarikan diri, suhengnya masih tertinggal di sana. Se?telah ia membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu tiba giliran Sian Lun. ?Suheng, jangan membuat ulah,? pe?sannya ketika pemuda itu digiring keluar. Dan ia girang melihat suhengnya datang lagi dengan pakaian bersih dan wajah yang segar. Mereka harus memberi ke?sempatan yang lebih baik agar keduanya dapat meloloskan diri. Selagi Sian Li duduk bersila mengatur pernapasan untuk melatih sin-kang, ia mendengar percakapan empat orang pen?jaga di luar kamar tahanan itu. Ia memperhatikan. Siapa tahu dari percakapan itu ia dapat mengumpulkan keterangan yang penting. ?Heran, kenapa kita harus bersusah payah menjaga dua orang tahanan ini siang malam dan melayani mereka seper?ti tamu di rumah penginapan saja? Ke?napa tidak dibunuh saja mereka agar tidak merepotkan?? terdengar seorang di antara mereka bicara. ?Hushh, bodoh kamu! Apa tidak meli?hat betapa cantiknya tawanan itu?? kata yang lain. ?Hemm, kalau muda dan cantik, lalu kenapa? Justeru semestinya dimanfaatkan untuk hiburan kita, bukan dijadikan tamu yang hanya merepotkan saja!? omel suara pertama. ?Aih, engkau lancang sekali! Untung tidak terdengar Thai-losu (Guru Besar) atau Cu Kongcu (Tuan Muda Cu). Kalau terdengar bisa diketuk kepalamu!? tegur suara ke tiga. ?Kita senasib sependeritaan, kalau bu?kan dengan kalian bertiga, mana aku berani sembarangan membuka mulut? Coba siapa berani membantah sejujurnya! Bukankah keluhanku tadi juga menjadi suara hati kalian?? kata orang pertama. ?Sudah, kalian tidak usah ribut-ribut.? kata suara ke empat. ?Apa kalian tidak tahu urusan? Dua orang tawanan ini ada?lah pendekar-pendekar Han, tentu saja diperlakukan dengan baik oleh Thai-losu. Pula, agaknya Thai-losu ingin menye?nangkan hati Pangeran Gulam Sing. Me?reka berdua besok pagi datang ke sini dan engkau tahu sendiri selera pangeran itu terhadap wanita cantik.? Mereka ber?empat berbisik-bisik sambil tertawa. Sian Li mendengarkan dengan alis berkerut dan hatinya menjadi tegang. Bahaya besar mengancam dirinya! Agak?nya orang yang mereka sebut Thai-losu tadi adalah Lulung Lama, dan ia akan dihadiahkan kepada seorang pangeran yang bernama Gulam Sing, seorang pa?ngeran Nepal yang haus wanita! Tentu saja Sian Li merasa khawatir sekali. Jelas bahwa pada malam hari ini, Lulung Lama tidak berada di tempat itu dan agaknya besok pagi baru akan tiba. Yang berada di situ hanya anak buah Hek I Lama dan pemuda murid Lulung Lama itu. Kalau saja ia dan suhengnya dapat keluar dari kamar tahanan dan mematahkan rantai, tentu mereka berdua akan dapat meloloskan diri! Akan tetapi, bagaimana caranya? Ia melirik ke arah suhengnya dan pemuda itu pun sedang duduk bersila dan menoleh kepadanya dengan wajah gelisah. Tentu suhengnya tadi mendengar pula percakapan di luar kamar tahanan itu dan mengkhawatirkan dirinya yang akan dihadiahkan kepada Pangeran Gulam Sing! Malam telah larut, agaknya sudah le?wat tengah malam. Ia melihat suhengnya dengan hati-hati menghampiri pintu, lalu kedua tangan suhengnya mencoba untuk merenggangkan jeruji pintu dari baja itu, ia sendiri pun segera mencoba usaha merenggangkan jeruji pintu. Namun sia-sia. Jeruji pintu dari baja itu terlampau kokoh. Tiba-tiba empat orang penjaga yang tadi masih terdengar berbisik-bisik itu nampak membuat gaduh. Seorang di an?tara mereka berseru lantang, ?Siapa itu....?? Akan tetapi, tidak ada jawaban dan suasana menjadi sunyi sekali, bahkan empat orang penjaga itu tidak terdengar lagi suaranya maupun gerakannya. Selagi Sian Li dan Sian Lun merasa heran dan tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, nampak sesosok bayangan orang berkelebat dan dua buah lampu pene?rangan di luar kamar tahanan itu menda?dak padam. Kini tempat itu hanya men?dapat penerangan dari sinar lampu yang agak jauh sehingga remang-remang dan tidak jelas. Sian Li melihat sesosok ba?yangan hitam itu berkelebat di luar pintu kamar tahanan Sian Lun, dan orang itu, yang mengenakan caping lebar menutupi mukanya, berbisik kepada pemuda itu. ?Tak perlu bertanya-tanya. Cepat de?katkan tanganmu ke sini.? Sian Lun segera mengerti bahwa orang itu datang untuk menolongnya, maka dia pun menghampiri pintu dan mendorongkan kedua tangannya yang dibelenggu. Terdengar suara berkeretakan dan belenggu kedua tangan Sian Lun terlepas! Bayangan itu menyerahkan dua batang pedang kepada Sian Lun dan ber?kata lagi. ?Cepat bebaskan sumoimu dan kalian lari dari sini!? Sian Lun keluar dari kamar tahanan karena daun pintunya ternyata telah di?buka dan juga kamar tahanan Sian Li telah terbuka dan juga kamar tahanan telah terbuka daun pintunya. Dia melon?cat masuk ke dalam kamar tahanan su?moinya, dengan menggunakan pedang, dia membebaskan dara itu dari belenggu. Dapat dibayangkan betapa girang dan juga heran hati kedua orang muda ini ketika mendapat kenyataan bahwa dua batang pedang yang diserahkan oleh orang itu adalah pedang mereka sendiri yang tadi dirampas oleh para anggauta Hek I Lama! Mereka berloncatan keluar dari kamar tahanan, memegang pedang masing-ma?sing dan mereka mencari-cari dengan mata mereka. Penolong tadi telah lenyap tanpa meninggalkan bekas Mereka hanya melihat empat orang penjaga di luar kamar tahanan dan empat orang ini berada dalam keadaan aneh. Ada yang sedang duduk, ada yang berjongkok, ada yang berdiri, bahkan ada yang sedang mencabut golok dan sikapnya seperti orang hendak meloncat. Akan ,tetapi me?reka semua tidak bergerak dan seperti telah berubah menjadi patung! Tahulah Sian Li dan Sian Lun bahwa mereka te?lah menjadi korban totokan yang amat ampuh! Mereka tidak mempedulikan empat orang penjaga itu dan berlari ke?luar dari situ, menuju ke lorong dari mana mereka dapat keluar melalui taman di samping rumah untuk kemudian me?loncat pagar tembok. Akan tetapi ketika mereka sudah ke?luar dari rumah dan tiba di dalam taman tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring. ?Tawanan lolos! Tawanan lolos!? ?Itu mereka di taman....!? ?Kepung....!? Sian Li dan Sian Lun melihat belasan orang yang dipimpin oleh Cu Ki Bok sendiri melakukan pengejaran! Mereka sudah siap untuk malawan mati-matian. Tiba-tiba di belakang mereka ada suara orang. ?Cepat kalian lari meloncat tem?bok, biar aku yang menahan mereka!? Orang bercaping itu lagi! Karena ke?adaan mendesak, dua orang muda itu tidak sempat bicara lagi. Mereka men?taati petunjuk penolong itu dan dengan cepat mereka berlari ke pagar tembok dan meloncat ke atasnya. Ketika tiba di atas pagar tembok, Sian Li sempat menengok dan ia memandang kagum. Penolong mereka yang bercaping itu, se?orang diri dan tanpa senjata, telah ber?hasil menghadang belasan orang yang dipimpin oleh Cu Ki Bok yang amat li?hai itu! Tubuh Si Caping itu berkelebatan seperti seekor burung walet menyambar-nyambar dan menghalangi setiap orang yang hendak melakukan pengejaran! Dan setiap orang, bahkan Cu Ki Bok sendiri, terpental ke belakang begitu dihadang dan dihalangi orang bercaping itu! ?Mari cepat, Sumoi!? kata suhengnya dan Sian Li terpaksa cepat meloncat ke?luar dan bersama suhengnya ia pun me?larikan diri meninggalkan tempat itu. Namun, penglihatan tadi tak pernah da?pat dilupakan. Betapa lihainya kepandaian orang bercaping itu! Setelah malam berganti pagi, baru kedua kakak beradik seperguruan itu menghentikan lari mereka. Keduanya me?rasa amat lelah den mereka berhenti di luar sebuah dusun, melepas lelah. Dusun itu mulai hidup. Penghuninya mulai me?ninggalkan dusun, membawa alat pertani?an untuk mulai bekerja di sawah ladang. ?Suheng, kita telah ditolong oleh orang bercaping itu....? kata Sian Li, ter?haru karena tidak mengira bahwa mereka akan dapat lolos sedemikian mudahnya. ?Kita berhutang budi, bahkan mungkin hutang nyawa kepada orang itu, Sumoi,? kata pula Sian Lun, masih tertegun. ?Siapakah dia, Suheng? Apakah engkau dapat melihat mukanya?? Sian Lun menggeleng kepala. ?Ketika dia menolong kita, kedua buah lampu itu padam dan cuaca terlalu gelap untuk dapat mengenal mukanya. Apalagi caping lebar itu menyembunyikan mukanya. Bah?kan aku tidak tahu apakah dia itu muda atau tua, laki-laki atau wanita....? ?Dia jelas laki-laki, Suheng. Suaranya berat dan tubuhnya juga tegap seperti tubuh laki-laki. Sungguh sayang keadaan tidak mengijinkan kita untuk berkenalan de?ngan dia, Suheng. Sungguh tidak enak rasanya diselamatkan orang tanpa me?ngenal dia siapa, bahkan tidak melihat wajahnya sehingga selain kita tidak tahu siapa dia, juga kalau berjumpa kita tidak akan mengenalnya.? ?Sudahlah, Sumoi. Bukankah Suhu dan Subo seringkali mengatakan bahwa di du?nia ini banyak terdapat orang aneh dan lihai, dan bahwa para pendekar tidak pernah mau mengikat diri dengan dendam dan budi? Dia tentu seorang pendekar aneh yang tidak mau menanam budi, maka menolong secara sembunyi dan tidak memperkenalkan diri. Kita patut bersyukur bahwa kita telah terbebas dari bahaya maut, bahkan menerima kembali pedang kita, dalam keadaan sehat. Luka di pundakku juga sudah sembuh.? ?Akan tetapi buntalan pakaian kita lenyap, dan juga bekal emas permata yang amat berharga dari Nenek Gangga Dewi, dirampas penjahat-penjahat itu! Padahal, kita perlu membeli pakalan pengganti dan untuk bekal dalam perja?lanan.? Sian Lun meraba-raba bajunya dan mengeluarkan beberapa potong perak, da?ri saku bajunya. ?Ini masih ada beberapa potong perak dalam saku bajuku. Kita masih dapat membeli makanan untuk beberapa hari lamanya. Mengenal pakai?an.... wah, terpaksa sementara ini tidak bisa ganti....? Mereka melanjutkan perjalanan. Peta perjalanan itu pun lenyap dan mereka memasuki dusun, untuk membeli makanan dan menanyakan jalan. Sambil membeli makanan sederhana di sebuah kedai kecil, mereka mendapat keterangan dan ternyata mereka telah meninggalkan pantai Sungai Yalu-cangpo sejauh tiga puluh mil lebih! Dan perja?lanan melalui darat ke timur amat sukar karena melalui bukit-bukit, hutan-hutan dan daerah liar, di mana terdapat banyak bahaya. Jalan raya yang biasa diperguna?kan rombongan pedagang, masih belasan li jauhnya dari situ. Menurut keterangan penduduk dusun itu, kalau hendak mela?kukan perjalanan ke timur, paling aman dan paling cepat adalah melalui Sungai Yalu-cangpo, maka mereka terpaksa ha?rus kembali ke utara sampai ke tepi sungai, mempergunakan perahu. ?Aih, kita harus kembali lagi ke tepi sungai, Suheng. Akan tetapi, setelah tiba di sana, bagaimana kita dapat menyewa perahu kalau kita tidak mempunyai bekal uang lagi?? ?Bagaimana nanti sajalah, Sumoi.? Percakapan mereka terhenti ketika seorang anak laki-laki berusia lebih em?pat belas tahun menghampiri mereka. Dengan suara lirih dan logat Tibet yang asing dia berkata, ?Saya disuruh sese?orang untuk menyerahkan buntalan ini kepada Jiwi (Anda Berdua).? Anak itu menyerahkan sebuah buntalan dan meli?hat buntalan itu, Sian Lun meloncat ka?get dan girang. Itu adalah buntalan pakaiannya yang dirampas oleh orang-orang. Hek I Lama! ?Siapa yang menyuruhmu? Di mana dia sekarang?? Anak itu menggeleng kepala. ?Aku tidak tahu dia siapa. Seorang yang me?makai caping, mukanya tidak kelihatan jelas. Dia memberi aku sekeping perak dan menyuruh aku menyerahkan buntalan ini kepada seorang nona berbangsa Han yang berpakaian merah, dan yang berada di kedai ini. Setelah menyerahkan bun?talan, dia?pergi.? Sian Li membuka buntalan dan me?meriksa. Masih lengkap! Bahkan buntalan terisi emas permata pemberian Gangga Dewi juga masih lengkap berada di situ! Hampir ia bersorak saking gembiranya. Ia mengikat lagi buntalannya di punggung lalu berkata, ?Aku akan mencari dia!? ?Tidak perlu, Sumoi. Tidak akan bisa kautemukan. Jelas bahwa dia sengaja tidak mau memperkenalkan diri dan ten?tu telah pergi jauh.? Sian Li memaklumi kebenaran ucapan suhengnya. Orang itu jelas memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan kalau dia tidak menghendaki, tidak mungkin ia dapat mengejarnya. ?Sayang sekali. Aku ingin sekali ber?temu dan berkenalan dengannya, Suheng, dan mengapa pula dia menolong kita secara sembunyi dan tidak mau bertemu dengan kita.? ?Tentu ada sebabnya yang dia sendiri saja mengetahuinya, Sumoi. Kelak kalau dia menghendaki, tentu kita akan dapat bertemu dengannya. Sekarang, sebaiknya kalau kita mencari dan membeli kuda agar perjalanan ke pantai dapat dilaku?kan lebih cepat. Juga engkau perlu membelikan pakaian pengganti untukku. Penolong kita itu agaknya hanya mem?perhatikanmu dan mengambilkan buntalan pakaianmu sedangkan pakaianku tidak dia ambilkan.? Sian Lun tertawa, sama seka?li tidak merasa iri kepada sumoinya. Sian Li juga tertawa, akan tetapi entah me?ngapa, jantungnya berdebar mendengar bahwa penolong mereka itu agaknya amat memperhatikannya! Dengan emas yang ada pada Sian Li, mudah saja mereka membeli dua ekor kuda yang baik dengan harga mahal, kemudian mereka pun sudah me?ninggalkan dusun itu, menunggang kuda menuju ke tepi Sungai Yalu-cangpo. Peta perjalanan itu pun berada di dalam bun?talan Sian Li sehingga kini mereka men?dapatkan petunjuk lagi. Perjalanan mereka ke tepi sungai itu tidak mendapat gangguan dan dari seo?rang nelayan mereka bahkan mendapat petunjuk baru bahwa daripada naik perahu, lebih cepat kalau mereka menung?gang kuda saja, melalui jalan setapak menyusuri tepi sungai. Mereka menurut petunjuk ini memang benar, jalan setapak itu cukup baik untuk dilalui kuda mereka dan perjalanan dapat di lakukan lebih cepat. Ketika mereka melewati dusun yang cukup ramai, Sian Li membelikan pakaian pengganti untuk suhengnya. Kini mereka melakukan perjalanan berkuda dengan perbekalan yang lengkap pula. Untuk memberi kesempatan kepada kuda mereka beristirahat. Sian Li dan Sian Lun berhenti mengaso di tepi su?ngai yang ditumbuhi banyak rumput ge?muk. Mereka membiarkan kuda mereka makan rumput dan beristirahat, dan mereka pun membuka buntalan perbekal?an makanan dan air bersih. Sambil ma?kan, mereka bercakap-cakap, membicara?kan pengalaman mereka. "Suheng, ingatkah Sugeng ketika Ba?dhu dan Sagha bersama tiga orang Lama Jubah Hitam itu menyerang kita di rumah penginapan itu?" "Ya, kenapa?" "Ketika mereka mengeroyok kita, tiba-tiba mereka melepaskan senjata dan mereka melarikan diri secara aneh kare?na kita tidak melukai mereka." "Hemm, dan engkau mengatakan bah?wa mungkin ada dewa yang menolong kita?" "Sekarang aku tahu siapa dewa yang menolong kita itu!" "Eh, benarkah? Siapa dia?" "Tentu orang bercaping itu juga!" Sian Lun menatap wajah sumoinya, lulu mengangguk-angguk. "Mungkin sekali dugaanmu itu benar, Sumoi, akan tetapi tidak ada artinya karena kita pun belum tahu siapa orang bercaping itu." Sian Li menghela napas panjang. "Su?heng, kalau sampai aku tidak dapat me?ngetahui siapa adanya orang itu, tentu akan selalu ada penyesalan dan ganjalan dalam hatiku." Setelah kuda mereka makan kenyang dan nampak segar kembali, mereka me?lanjutkan perjalanan karena menurut pe?tunjuk dalam peta yang dibuat oleh ahli di Bhutan, tidak jauh di sebelah depan terdapat sebuah dusun besar, tepat di belokan Sungai Yalu-cangpo yang menikung ke selatan. Dari situ, mereka akan menyeberang dan meninggalkan lembah sungai itu, melanjutkan perjalanan ke timur. *** Dua orang kakak beradik seperguruan itu memasuki dusun Cam-kong di tepi Sungai Yalu-cangpo yang berbelok ke selatan. Sebuah dusun yang ramai karena dari sinilah para pedagang yang hendak membawa barang dagangan ke selatan berkumpul dan mengirim barang mereka dengan perahu. Sedangkan para pedagang yang membawa dagangan ke timur, dan datang dari barat, membongkar barang yang mereka bawa dengan perahu di dusun ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan rombongan mereka ke timur melalui daratan. Karena menjadi pusat persaingan para pedagang, maka dusun itu menjadi makmur dan ramai. Dengan mudah Sian Li dan Sian Lun mendapat?kan dua buah kamar di rumah penginapan yang juga membuka rumah makan di samping rumah penginapan. Hiruk pikuk suara orang yang tiada hentinya memuat dan membongkar barang di dusun pela?buhan itu. Ketika mereka memasuki rumah pe?nginapan, mengikuti seorang pelayan yang menunjukkan dua buah kamar untuk me?reka, kakak beradik itu melewati sebuah ruangan duduk di mana berkumpul tujuh orang yang melihat pakaiannya tentulah pedagang-pedagang berbangsa Han. Mere?ka bercakap-cakap dengan santai dan mendengar logat bicara mereka, Sian Lun dan Sian Li segera tertarik sekali karena logat Shantung, seperti logat orang-orang di tempat tinggal Kakek Suma Ceng Liong yang sudah biasa mereka dengar. Kiranya mereka adalah pedagang-peda?gang dari bagian timur sekali, dan mere?ka merasa seperti bertemu dengan sau?dara-saudara dari kampung halaman sendiri! Memang demikianlah perasaan hati hampir setiap orang yang berada di ran?tau. Kalau kita berada di rantau orang, jauh dari kampung halaman, apalagi ka?lau sedang merindukan kampung halaman, mendengar logat bicara orang sekampung rasanya seperti bertemu dengan saudara sendiri dan segera timbul keakraban dalam hati. Dahulu kalau berada di kampung halaman sendiri, logat itu sama sekali tidak mendatangkan kesan apu pun. Kebetulan mereka mendapatkan dua buah kamar yang tidak berjauhan dari ruangan duduk itu, maka setelah mema?suki kamar masing-masing, mereka de?ngan pendengaran mereka yang tajam terlatih, masih dapat menangkap perca?kapan tujuh orang Shantung itu. Mereka segera menaruh perhatian karena mereka membicarakan soal keamanan daerah itu dan perjalanan dari tempat itu ke timur, perjalanan yang akan mereka tempuh. Mereka menceritakan pengalaman masing-masing dan menyebut-nyebut tentang adanya seorang pendekar yang mereka namakan Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Besar Tangan Sakti). "Kalau tidak ada pendekar itu, mung?kin hari ini aku tidak dapat bertemu dengan kalian di sini," terdengar seorang di antara mereka bercerita. Terjadinya kurang lebih sebulan yang lalu. Perampok-perampok itu sungguh tidak mengenal peraturan umum. Rombongan kami sudah bersedia untuk memberi sumbangan yang cukup memadai. Akan tetapi mereka menginginkan yang bukan-bukan, bahkan hendak menculik puteri pedagang dari selatan itu. Tentu saja kami keberatan, apalagi ketika mereka hendak mengambil semua, gulungan sutera paling halus dan paling mahal. Bisa bangkrut kami kalau menuruti kehendak mereka. Dan mereka menjadi marah, lalu mengatakan mereka akan merampas semua barang, menculik gadis itu, dan membunuh kami semua!" "Hemm, memang sekarang mulai tidak aman. Banyak gerombolan pengacau dari berbagai aliran, ada perampok, ada bajak sungai, bahkan ada pula gerombolan pemberontak dan ada katanya pasukan keamanan sendiri malah merampok dan mengganggu kami," kata orang ke dua. "Acun, lanjutkan ceritamu tadi. Sete?lah rombongan diancam, lalu bagaimana?" kata yang lain. Orang pertama yang bernama Acun melanjutkan. "Tentu saja kami tidak me?nyerah begitu saja. Tidak percuma aku pernah belajar ilmu silat di kampung, dan di antara para anggauta rombongan kami terdapat beberapa orang yang cu?kup jagoan. Akan tetapi, ternyata kepala perampok itu lihai sekali. Aku sendiri belum terluka, akan tetapi kawan-kawan?ku sudah roboh. Pada saat kepala peram?pok merobohkan aku dengan tendangan dan goloknya menyambar ke arah leherku muncullah Pendekar Besar Tangan Sakti itu! Hem, dia bagaikan seorang malaikat yang turun dari langit!" "Acun, ceritakan, bagaimana sepak terjangnya?" Yang lain-lain juga mendesak Acun untuk melanjutkan ceritanya. Bahkan Sian Li dan Sian Lun di kamar masing-masing ikut mendengaran penuh perhatian. "Kemunculannya mentakjubkan. Sudah lama aku mendengar tentang sepak ter?jangnya, akan tetapi baru sekali itu aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Bagaikan halilintar menyambar, dia nam?pak sebagai bayangan yang menyambar turun dan golok di tangan kepala peram?pok yang lihai itu terlempar dan tubuh kepala perampok itu terlempar sampai terguling-guling. Kemudian, bagaikan ki?lat, bayangan itu meluncur ke sana-sini dan semua senjata para perampok yang jumlahnya belasan orang itu terlempar dan mereka pun satu demi satu terjeng?kang dan terbanting roboh." "Mampus perampok-perampok itu!" seru seorang pendengar. "Mampus apa? Tidaklah engkau pernah mendengar bahwa Sin-ciang Tai-hiap itu tidak pernah melukai orang, apalagi membunuh? Perampok itu tidak ada yang terluka, hanya terkejut dan ketakutan saja. Memang sayang, kalau aku yang menjadi pendekar memiliki kesaktian seperti itu, sudah kusikat habis para penjahat itu, kubasmi dan kutumpas me?reka!" kata Acun. "Kenapa sih memotong-motong cerita itu, Acun, lanjutkan. Apa yang dilakukan pendekar sakti yang aneh itu?" tanya seorang. "Dan bagaimana macamnya? Sudah tua ataukah masih muda?" tanya orang ke dua. "Seperti biasa yang kita pernah de?ngar, dia menghilang begitu saja dan hanya suaranya terdengar dari dalam po?hon yang lebat. Dia memberi peringatan dan nasehat kepada para perampok, me?nyadarkan mereka dengan kata-kata lem?but. Dan tidak seorang pun di antara kami dapat melihat wajahnya. Gerakan?nya demikian cepat dan wajahnya terlin?dung caping lebar itu." Mendengar ini, Sian Li dan Sian Lun tidak dapat menahan diri lagi. Mereka tertarik karena maklum bahwa yang di?maksudkan Acun itu tentulah pendekar yang menjadi penolong mereka. Keduanya keluar dari dalam kamar, saling pandang lalu menghampiri tujuh orang pedagang itu. Para pedagang itu tentu saja meman?dang mereka dengan heran, juga kagum melihat pemuda tampan dan gadis cantik yang menghampiri mereka itu. Sian Li cepat mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat dan berkata, "Ha?rap Cuwi (Anda Sekalian) suka memaaf?kan kami. Kami mendengar cerita Cuwi dan kami tertarik sekali karena kami pun mendapat pertolongan dari seorang pen?dekar bercaping yang tidak memperke?nalkan dirinya kepada kami." Mendengar logat bicara Sian Li, tujuh orang itu cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatan Sian Li dan Sian Lun. "Aih, agaknya Kongcu dan Siocia datang dari daerah Shantung seperti ka?mi?" Karena datang dari satu propinsi, walaupun tempat tinggal mereka terpisah jauh, mereka segera menjadi akrab. "Pa?man tadi bercerita bahwa pendekar itu bercaping?" tanya Sian Li. Acun yang merasa girang mendapat pendengar seorang dara demikian cantik?nya, dengan bersemangat menjawab. "Ke?tika menolong kami, kami hanya melihat bayangannya berkelebatan dan dia me?ngenakan sebuah caping lebar yang me?nyembunyikan mukanya." "Bagaimana bentuk badannya, Paman Acun?" tanya pula Sian Li dan orang itu semakin gembira disebut paman Acun secara demikian akrabnya. "Tubuhnya sedang dan tegap, gerakannya halus namun cepat bukan main, dan dia tidak bersenjata, akan tetapi belasan batang golok itu runtuh dengan sendiri?nya. Dia seperti bukan manusia!" kata Acun. "Pengalamanku dengan pendekar itu pun tidak kalah hebatnya!" terdengar seorang yang gendut berkata. "Aku pun mempunyai pengalaman de?ngan pendekar Sin-ciang Tai-hiap itu!" kata pula orang ke tiga. Wanita memang sejak jaman dahulu sampai sekarang, mempunyai wibawa yang luar biasa terhadap para pria. Se?kumpulan pria, baik mereka itu sudah tua maupun masih remaja, selalu akan berubah sikap mereka apa bila kedatang?an seorang wanita, apalagi yang muda dan cantik jelita seperti Sian Li. Amat menarik kalau memperhatikan sekelompok pria yang tadinya bercakap-cakap, lalu muncul wanita di antara mereka. Mereka itu berubah sama sekali. Gerak geriknya, wajahnya, lirikan matanya, senyumnya, bahkan suaranya! Mungkin yang bersang?kutan sendiri tidak merasakan hal ini, akan tetapi kalau kita memperhatikan, kita akan dapat melihat perubahan itu dengan jelas sekali. Mengingatkan kita kepada ayam-ayam jantan kalau bertemu ayam betina. Ada saja ulahnya untuk menarik perhatian dan berlagak! Lucu, menarik dan mengharukan mengenal diri kita sebagai pria ini, betapa pria menja?di lemah kalau sudah berhadapan dengan wanita. Perbedaan dalam tingkah laku mungkin hanya tergantung dari watak masing-masing saja, ada yang nampak sekali, ada yang muncul lagak yang kurang ajar, ada yang pendiam. Namun perubahan itu pasti ada, bahkan yang nampak acuh pun dibuat-buat dan tidak wajar. Bermacam-macam pengalaman mereka akan tetapi pada dasarnya, mengenai Sin-ciang Tai-hiap, mereka mempunyai pengalaman yang sama. Pendekar itu sa?ma sekali tidak pernah dapat dikenal wajahnya, kalau turun tangan menolong orang dan menghadapi penjahat, dia ber?tindak cepat sekali tanpa memperlihatkan wajah, apalagi memperkenalkan nama. Wajahnya kadang ditutup caping lebar, kadang juga tidak. Dan yang aneh sekali, tidak pernah dia membunuh penjahat, bahkan melukai parah pun tidak pernah. Semua penjahat diampuninya, diberi nasihat. "Bagaimana mungkin dia akan berha?sil," kata Sian Lun. "Penjahat harus di?hadapi dengan kekerasan! Kalau hanya diampuni dan diberi nasihat, bagaimana mereka akan dapat sadar dan menjadi baik?" "Belum tentu, Kongcu!" kata seorang di antara mereka, seorang pria tinggi kurus yang berusia enam puluh tahun. "Biar dihadapi dengan kekerasan sekali?pun, dihukum berat, belum tentu juga penjahat akan menjadi baik! Dan bukti?nya, menurut kabar dan ada pula kusaksikan sendiri, banyak penjahat menjadi baik dan sembuh dari penyakitnya yang membuat dia jahat setelah dia bertemu dengan Sin-ciang Tai-hiap dan mendapat nasihat dari pendekar aneh itu." "Paman Liok, ceritakan pengalamanmu itu!" seorang di antara mereka berseru. "Benar, Paman. Ceritakanlah, aku ingin sekali mendengarnya," kata pula Sian Li. Tanpa diminta oleh gadis itu pun, dengan penuh gairah Kakek Liok memang ingin sekali bercerita agar dia menjadi pusat perhatian. "Di perbatasan Secuan ada seorang penjahat besar yang biasa melakukan ke?jahatan apa pun tanpa mengenal takut. Dia mempunyai belasan orang anak buah. Aku sudah mendengar tentang kejahatan penjahat berjuluk Pek-mau-kwi (Iblis Rambut Putih) itu, yang usianya baru empat puluh tahun akan tetapi rambut?nya sudah putih semua, maka ketika aku melakukan perjalanan lewat daerah itu, aku memperkuat rombonganku dengan sepasukan piauw-su (pengawal) bangsa Miao yang terkenal gagah, berjumlah dua puluh orang. Akan tetapi, tetap saja di tengah jalan kami dihadang oleh gerom?bolan perampok yang dipimpin Pek-mau-kwi itu! Seperti biasa kalau bertemu dengan gerombolan perampok, kami juga sudah menawarkan sumbangan atau yang biasa disebut pajak jalan. Akan tetapi, berapa pun yang kami tawarkan, Pek-mau-kwi tidak mau menerimanya dan menghendaki kami menyerahkan setengah dari semua barang bawaan kami. Terjad?ilah pertempuran dan biarpun jumlah ka?mi lebih banyak, tetap saja kami kewa?lahan. Agaknya kami tentu akan menjadi korban dan terbunuh semua kalau tidak muncul Sin-ciang Tai-hiap!" "Dia juga bercaping, Paman?" tanya Sian Li, membayangkan orang bercaping yang pernah menolong ia dan suhengnya. "Pendekar itu tidak bercaping, akan tetapi karena gerakannya cepat sekali dan rambutnya panjang riap-riapan menu?tupi mukanya, kami pun tidak mungkin dapat mengenali mukanya. Dia berkele?batan merobohkan semua perampok, bah?kan ketika dia meloncat pergi, dia mengempit tubuh Pek-mau-kwi dan mem?bawanya lenyap! Semua anak buah pe?rampok lari ketakutan dan kami pun selamat." "Lalu bagaimana dengan Pek-mau-kwi itu dan bagaimana Paman tahu bahwa nasihat dari pendekar itu berhasil?" tanya Sian Lun, tertarik sekali. "Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Pek-mau-kwi. Akan tetapi ketika bebera?pa bulan kemudian aku lewat di daerah itu, aku mendengar bahwa Pek-mau-kwi sudah cuci tangan, tidak lagi menjadi perampok, melainkan sekarang membuka perguruan silat dan hidup dari hasil pem?bayaran para muridnya. Aku mendengar bahwa dia menjadi orang baik dan tidak pernah lagi melakukan kejahatan. Bukankah itu hasil nasihat dari pendekar sakti itu?" "Dan bagaimana pengalamannya de?ngan pendekar itu?" tanya Sian Li. "Kabarnya, dia tidak pernah mau menceritakan kepada siapapun juga. En?tah apa yang terjadi ketika dia ditangkap dan dilarikan Sin-ciang Tai-hiap." Sian Li dan Sian Lun merasa semakin tertarik, apalagi karena mereka sendiri berhutang budi, bahkan nyawa kepada pendekar itu. "Apakah di antara Cuwi (Anda Sekalian) ada yang mengetahui siapakah nama Sin-ciang Tai-hiap itu?" Semua orang yang berada di situ menggeleng kepala. Tidak pernah ada yang mendengar siapa nama pendekar aneh itu. Jangankan namanya, wajahnya pun belum pernah dikenal orang karena sepak terjangnya cepat dan penuh rahasia. Menurut cerita para pedagang yang sudah bertahun-tahun menjelajahi daerah itu untuk berdagang, nama Sin-ciang Tai-hiap baru muncul sekitar tiga empat tahun yang lalu. Sebelum itu, tidak pernah ada orang mengenal nama julukan ini yang timbulnya juga di daerah itu, nama ju?lukan yang diberikan oleh para pedagang yang pernah mendapatkan pertolongannya. Sebelum empat tahun yang lalu, baik di daerah barat ini maupun di timur, orang tidak pernah mendengar namanya. Setelah mendengarkan semua cerita yang kadang seperti dongeng saja dari para pedagang itu tentang Sin-ciang Tai-hiap, yang ia tahu tentu dibumbui dan dilebih-lebihkan. Sian Li ingin mendengar dari mereka tentang orang-orang yang selama ini pernah ditentangnya. "Apakah Cuwi (Anda Sekalian) dapat menceritakan tentang perkumpulan Hek I Lama?" Tujuh orang pedagang itu serentak berdiam diri seperti jangkerik terpijak. Mereka bukan hanya berdiam diri tak mengeluarkan suara, akan tetapi juga wajah mereka berubah dan mereka me?nengok ke kanan kiri, seolah ketakutan. "Kenapa, Paman?" Terbawa oleh sikap mereka, Sian Li mengajukan pertanyaan ini dengan berbisik pula. Yang ditanya menggeleng kepala, lalu mengeluarkan kertas dan alat tulis, dan menulis dengan cepat di atas kertas itu, kemudian me?nyodorkannya kepada Sian Li. Gadis itu dan suhengnya segera membaca tulisan itu. "Jangan bicara tentang itu, mata-ma?tanya tersebar di mana-mana. Berbahaya sekali," demikian bunyi tulisan dan Sian Li saling pandang dengan suhengnya. Sian Li mendekati laki-laki yang me?nulis itu sambil menyerahkan kembali kertas tadi yang segera dirobek-robek oleh penulisnya. Gadis itu berbisik, "Kenapa, Paman? Apakah mereka jahat dan suka mengganggu?" Orang itu menggeleng kepala, lalu menjawab dengan suara bisik-bisik pula. "Mereka tidak pernah mengganggu kita, sebaliknya kita pun tidak boleh mencam?puri urusan mereka. Penjahat Yang paling besar pun di daerah ini tidak ada yang berani mencampuri urusan mereka, berbahaya sekali. Di mana-mana mereka mempunyai kaki tangan. Sebaiknya kita bicara tentang hal lain saja." Agaknya tujuh orang pedagang itu sudah merasa ketakutan, maka mereka pun bubaran memasuki kamar masing-masing. Sian Li dan Sian Lun terpaksa juga kembali ke kamar masing-masing dan tidur. Malam itu Sian Li bermimpi bertemu dengan pendekar bercaping karena sebelum pulas tiada hentinya ia mengenang pendekar yang amat mengagumkn hatinya itu. Kini ia membenarkan akan cerita orang tuanya, juga Kakek Suma Ceng Liong bahwa di empat penjuru dunia penuh dengan orang-orang pandai, oleh karena itu, mereka berpesan???agar ia tidak mengagungkan dan me?nyombongkan diri dan kepandaian sendiri. Kini ternyatalah bahwa di daerah barat yang dianggapnya masih liar bahkan be?lum beradab itu terdapat pula orang sakti yang aneh, yang membuatnya ka?gum bukan main. ? *** ? Pada keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan pagi, ketika Sian Li dan Sian Lun sudah bersiap-siap meninggalkan rumah penginapan dan melanjutkan perjalanan, seorang laki-laki?menghampiri mereka dan dengan sikap hormat dia menyerahkan sesampul surat kepada mereka. Setelah sampul surat itu diterima Sian Li, pembawa surat itu memberi hormat dan pergi. Sian Li cepat membuka sampul dan bersama Sian Lun mereka membaca su?rat yang ditulis dengan huruf-huruf yang gagah dan indah itu. ? "Harap Liem Tahiap dan Tan Lihiap suka memaafkan sikap anak buah kami. Karena belum saling mengenal dengan baik maka terjadi kesalahpahaman. Ka?lau Jiwi ingin mengetahui lebih baik siapa kami, kami mengundang Jiwi untuk menghadiri pesta pertemuan antara pe?juang yang kami adakan sore nanti. Kami akan menjemput Jiwi dengan kere?ta. Kami bukan golongan jahat, melain?kan pejuang-pejuang. Keselamatan Jiwi kami jamin." Pimpinan Hek I Lama ? "Hemm, jangan pedulikan surat dari mereka, Sumoi. Jelas bahwa mereka itu orang-orang jahat dan berbahaya. Kita pun baru saja kemarin lolos dari tawanan mereka dan hari ini mereka mengundang kita sebagai tamu? Hemm, ini pasti je?bakan belaka. Lebih baik kita berangkat pergi saja meninggalkan tempat ini, Su?moi." "Suheng, lupakah Suheng akan nasihat dan pesan guru-guru kita? Kita memang harus berhati-hati dan waspada, akan te?tapi yang terlebih penting adalah bahwa kita tidak boleh bersikap penakut! Kita harus berani menghadapi kenyataan, be?tapa besar pun bahayanya, bukan saja menghadapi, akan tetapi juga menanggu?langi dan mengatasi. Mereka mengirim surat undangan resmi, tidak mungkin merupakan jebakan. Mereka adalah per?kumpulan yang besar, kiranya tidak akan menggunakan cara serendah itu. Kita memang tidak perlu bersekutu dengan mereka, akan tetapi juga tidak perlu mencampuri urusan mereka dan memu?suhi, kecuali kalau mereka mengganggu kita." "Jadi bagaimana sikapmu menghadapi undangan ini?" "Aku akan menerimanya dan mengha?diri undangan itu." "Sumoi! Ingat, hal itu berbahaya se?kali. Engkau seperti mengundang datang?nya bahaya!" "Aku tidak takut, Suheng. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sebagai datuk ilmu silat yang lihai, sudah pasti para pimpin?an Hek I Lama tidak akan begitu meren?dahkan diri dan mencemarkan nama be?sar sendiri sengan perbuatan yang hina seperti menjebak orang-orang muda se?perti kita. Pula, bukankah kita ini pergi meninggalkan rumah untuk meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan? Juga, kini kita mendapat kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang Hek I Lama, kesempatan yang baik seka?li karena kita diundang sebagai tamu! Kalau engkau merasa jerih, biarlah aku sendiri saja yang datang ke sana, Su?heng." Sian Li tidak mau mengeluarkan isi hati yang paling dalam, yaitu bahwa kalau terjadi apa-apa dengan dirinya di tempat Hek I Lama, ia mengharapkan munculnya lagi Sin-ciang Tai-hiap untuk menolongnya. Ia harus bertemu lagi de?ngan pendekar itu, harus membuka rahasianya yang aneh, herus mengenal wajah?nya dan namanya. Kalau tidak, selama hidupnya ia akan tenggelam dalam pena?saran. Wajah Sian Lun menjadi merah ketika sumoinya mengatakan dia jerih. "Sumoi, aku tidak mengkhawatirkan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri. Kalau engkau berkeras hendak pergi, tentu saja aku akan menemanimu." Sian Li tersenyum menatap wajah su?hengnya. "Terima kasih, Suheng. Dan maafkanlah, bukan maksudku mengatakan engkau takut. Akan tetapi aku ingin se?kali menghadiri undangan itu dan melihat siapa saja sebetulnya orang-orang itu dan apa maksud undangan mereka kepada kita." Demikianlah, akhirnya Sian Lun ter?paksa harus memenuhi kehendak Sian Li dan mereka menanti datangnya kereta yang akan menjemput mereka dengan hati berdebar penuh ketegangan. Sian Li memang berjiwa petualang dan suasana yang mendebarkan hatinya itu melupakan suatu kenikmatan tertentu bagi seorang petualang. Apalagi kalau ia membayang?kan kemunginan munculnya Sin-ciang Tai-hiap! Bahkan diam-diam ia mengha?rapkan terjadi sesuatu dengan dirinya agar pendekar aneh itu akan muncul kembali! Di luar dugaan mereka, kereta itu muncul setelah lewat tengah hari, belum sore. Sebagai seorang wanita, tentu saja Sian Li tidak mau pergi dalam keadaan belum mandi dan pakaian belum diganti, maka ia minta kepada kusir kereta yang datang menjemput agar menanti sebentar karena ia ingin mandi dan berganti pa?kaian lebih dahulu. Sebaliknya, Sian Lun yang merasa tegang dan selalu diliputi kegelisahan, tidak sempat bertukar pa?kaian dan mandi. Orang pergi menentang bahaya, untuk apa harus mandi dan ber?ganti pakaian segala, pikirnya. Dia malah menanti sumoinya di dekat kereta dan mencoba untuk memancing keterangan kepada kusir kereta. Akan tetapi, kusir itu hanya menjawab "tidak tahu" atas segala pertanyaannya, dan hanya menga?takan bahwa dia bertugas menjemput mereka. Akan tetapi, dari gerak gerik dan sinar matanya yang tajam memba?yangkan kecerdikan. Sian Lun dapat menduga bahwa kusir ini hanya berpura?-pura tolol dan lemah saja. Tentu dia seorang anggauta yang sudah dipercaya, dan yang memiliki ilmu kepandaian tang?guh. Akhirnya muncullah Sian Li dengan wajah dan tubuh segar, dengan pakaian bersih dan rambutnya tersanggul rapi. Ia nampak segar dan cantik sekali, mem?buat hati Sian Lun menjadi semakin ge?lisah. Kenapa sumoinya demikian mem?percantik diri? Mereka akan menjadi ta?mu orang-orang jahat! Baru Cu Ki Bok, murid Lulung Ma itu saja jelas amat li?hai dan pemuda itu mempunyai niat tidak senonoh terhadap diri Sian Li. Juga dari percakapan yang didengarnya ketika mereka ditawan, dia mendengar betapa Sian Li akan dihadiahkan kepada orang yang disebut sebagai Pangeran Gulam Sing! Dengan kecantikan seperti itu, su?moinya akan membuat orang-orang jahat itu menjadi semakin hijau! Akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berkata apa-apa dan mereka pun naik ke dalam kere?ta yang segera dijalankan oleh kusirnya dengan cepat meninggalkan kota itu. Kereta itu meluncur keluar kota me?lalui pintu gerbang sebelah timur, kemu?dian mendaki sebuah bukit. Berkali-kali Sian Lun bertanya kepada kusirnya, ke mana mereka akan dibawa pergi. Akan tetapi kusir itu tidak pernah mau men?jawab! Ketika kereta memasuki sebuah hutan di lereng bukit itu, Sian Lun ke?habisan sabarnya. "Kusir keparat! Kalau tidak kau jawab, aku akan menghajarmu! Hayo katakan ke mana engkau akan membawa kami!" bentaknya dan dia sudah bergerak untuk menyerang kusir yang duduk di depan. Akan tetapi lengannya ditangkap Sian Li. "Suheng, kenapa tidak sabar?" kata?nya sambil mengerutkan alisnya. "Dia hanya petugas yang melaksanakan perin?tah. Tentu saja dia membawa kita ke?pada yang mengutusnya, yaitu Hek I Lama yang mengundang kita." "Nona berkata benar dan kita sudah hampir tiba di tempat yang dituju," kata kusir itu dan Sian Lun terpaksa menelan kemarahannya. Dia merasa terlalu tegang sehingga mudah tersinggung dan marah. Ternyata di tengah rimba itu terda?pat tempat terbuka di mana berdiri se?buah rumah besar. Dan suasananya di sana memang dalam keedaan pesta. Ba?nyak orang sedang membereskan ruangan depan rumah itu yang disambung dengan panggung di depan rumah, merupakan ruangan yang luas dan setengah terbuka. Kursi-kursi yang diatur di situ rapi dan semua menghadap ke dalam, ke arah rumah di mana terdapat meja besar dan kursi-kursi yang mudah diduga menjadi tempat tuan rumah. Dan pada saat itu, telah banyak orang berkumpul, bahkan di pihak tuan rumah telah duduk banyak pendeta yang berjubah hitam dan berke?pala gundul. Anak buah dari perkumpulan yang dipimpln para pendeta Lama berju?bah hitam ini kesemuanya juga berpakaian serba hitam, dengan kain kepala war?na hitam pula sehingga mereka nampak menyeramkan. Sian Li dan Sian Lun menduga bahwa mereka yang hadir di sana dan tidak berpakaian hitam tentulah tamu-tamu seperti juga mereka. Mereka melihat pula banyak orang Nepal yang bertubuh tinggi besar, bermuka brewok dan menutup kepala dengan sorban putih atau kuning. Mereka melihat pula banyak orang mengenakan pakaian Han seperti mereka. Ada pula yang memakai pakaian suku Miao, Hui, Kasak, dan Mongol. Ketika kakak beradik seperguruan itu tiba di situ, mereka disambut dengan hormat dan hal ini dapat diketahui kare?na yang menyambut mereka adalah Lu?lung Lama sendiri bersama muridnya, Cu Ki Bok! Dan setelah mereka dipersilakan duduk di rombongan orang-orang Han yang kemudian ternyata adalah orang-orang yang dianggap sebagai tokoh kang-ouw dan para pendekar, barulah Sian Li dan Sian Lun tahu bahwa Lulung Ma bukanlah pemimpin nomor satu dari per?kumpulan Lama Jubah Hitam! Selain dia, masih ada pula seorang suhengnya yang duduk di kursi terbesar. Pendeta Lama ini juga berpakaian serba hitam dan dia sudah tua sekali, sedikitnya tujuh puluh lima tahun usianya dan kelihatan seperti seorang pemalas, hanya duduk saja ber?sandar dikursinya. Agaknya yang aktip dalam pertemuan itu adalah Lulung Lama dan muridnya, yaitu Cu Ki Bok, peranak?an Han Tibet itu. Biarpun hatinya merasa panas dan marah melihat Cu Ki Bok yang menyam?butnya bersama Lulung Lama, namun Sian Lun menahan diri dan tidak mem?perlihatkan kemarahannya. Adapun Sian Li bersikap tenang bahkan tersenyum-senyum sehingga diam-diam Cu Ki Bok merasa kagum bukan main. Gadis itu selain cantik dan lincah, ternyata memiliki ketabahan yang mengagumkan hati?nya. Sian Li merasa semakin yakin bah?wa pihak tuan rumah tidak akan mungkin berani melakukan kekerasan terhadap ia dan suhengnya, melihat bahwa pertemuan itu dihadiri demikian banyaknya orang dari berbagai golongan. Tentu orang ma?cam Lulung Lama tidak akan merendah?kan diri yang hanya akan mencemarkan nama besarnya sendiri selagi di situ ber?kumpul banyak orang, dengan perbuatan yang curang dan pengecut. Hal ini ter?bukti pula dengan sikap Cu Ki Bok yang sopan dan hormat, padahal baru kemarin pemuda murid tokoh Hek I Lama itu bersikap kasar dan tidak sopan. Akan tetapi, Sian Li dan Sian Lun menjadi pusat perhatian para tamu keti?ka Lulung Ma dengan suara lantang memperkenalkan tamu baru ini kepada semua orang sebagai dua orang pendekar dari timur yang masih mempunyai hu?bungan erat dengan Puteri Gangga Dewi dari Kerajaan Bhutan. Agaknya kini semua tamu sudah ber?kumpul dan senja mulai datang, lampu-lampu penerangan dinyalakan dan pesta pun dimulai. Setelah Lulung Lama seba?gai wakil pimpinan Hek I Lama menyu?guhkan anggur sampai tiga keliling ke?pada para tamu dan mempersilakan para tamu makan kueh manis yang dihidang?kan sebagai pembuka pesta. Lulung Lama lalu bangkit berdiri dan dengan kedua tangan diangkat dia minta agar para tamu tidak berisik dan memberi perhati?an kepadanya. Agaknya bicaranya me?mang ditujukan kepada orang-orang Han yang menjadi tamu di situ, maka dia mempergunakan bahasa Han. Para kelom?pok suku bangsa lain yang tidak paham bahasa Han, mendengarkan terjemahannya dari kawan-kawan mereka yang paham. "Saudara sekalian, Cuwi (Anda Sekali?an) yang gagah perkasa dari dunia kang-ouw di timur, kami dari Hek I Lama mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Cuwi yang meme?nuhi undangan kami. Seperti Cuwi dapat melihatnya, di sini kami berkumpul, di?hadiri pula oleh para sahabat dari Nepal terutama sebagai kawan seperjuangan kami, dan para sahabat dari suku Miao, Hui, Kasak dan Mongol yang tidak sudi melihat orang-orang Mancu merajalela dan hendak menguasai seluruh daratan. Cuwi kami undang mengadakan perundingan dan kami ajak untuk bekerja sama menentang pemerintah Kerajaan Ceng dari bangsa Mancu. Kalau kita semua bersatu, tentu bangsa Mancu akan depat kita kalahkan dan kita usir kembali ke asal mereka. Kami mengharapkan sam?butan dari Cuwi yang kami hormati sebagai orang-orang gagah di dunia kang?-ouw." Lulung Ma memberi hormat lalu du?duk kembali. Sebelum dari golongan orang Han ada yang menjawab, Pangeran Gulam Sing sudah bangkit dari tempat duduknya di jajaran tuan rumah, di sam?ping Lulung Lama dan dia pun bicara dengan suaranya yang lantang, dalam bahasa Nepal yang langsung diterjemahkan kalimat demi kalimat oleh seorang Han yang duduk di belakangnya. "Saudara sekalian, kita ini terdiri da?ri berbagai suku dan bangsa, akan tetapi saat ini kita berkumpul sebagai saudara-saudara senasib sependeritaan dan seper?juangan! Kita sama-sama sengsara oleh kelaliman bangsa Mancu! Bangsa Mancu tidak saja menjajah seluruh daratan Cina, akan tetapi juga menindas daerah barat, menjajah Tibet, bahkan merupakan an?caman bagi negara tetangga di barat. Kami, Pangeran Gulam Sing, memimpin orang-orang gagah dari Nepal, siap untuk berjuang bersama dengan saudara sekali?an untuk menentang pemerintah Mancu!" Setelah berkata demikian, dibawah sam?butan tepuk tangan, pangeran Nepal ini duduk kembali. Dia seorang pangeran Nepal yang berkulit coklat kehitaman, bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan tampan gagah jantan, matanya lebar dan sinarnya tajam, mulutnya selalu di?bayangi senyum memikat. Pangeran ber?usia kurang lebih empat puluh tahun ini memang seorang pria yang jantan dan ganteng sekali. Di deretan depan dari para tamu go?longan Han, nampak seorang wanita bangkit berdiri. Sian Li dan Sian Lun sejak tadi sudah melihat bahwa di antara para tokoh kang-ouw terdapat beberapa orang wanita, dan yang menarik perhati?an adalah adanya tiga orang wanita yang usianya antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun, ketiganya cantik mena?rik, berpakaian serba mencolok berwarna warni akan tetapi selalu dihias kembang teratai putih. Kini, seorang di antara ti?ga wanita itu, yang tertua, usianya seki?tar tiga puluh tahun, bangkit dan tentu saja ia menjadi pusat perhatian ketika ia bicara. "Para pimpinan Hek I Lama, apakah aku boleh bicara sekarang?" tanyanya suaranya lantang akan tetapi merdu dan gayanya memikat, matanya bersinar-sinar tajam genit dan mulutnya tersenyum-senyum, pandang matanya menyambar-nyambar ke arah Pangeran Gulam Sing. Lulung Lama segera bangkit dan memberi hormat. "Omitohud! Pinceng sebagai wakil pimpinan Hek I Lama, ber?terima kasih sekali kalau Toa-nio yang datang sebagai utusan dan wakil Pek-lian-kauw memberi petunjuk kepada ka?mi." Tentu saja perhatian Sian Li dan Sian Lun menjadi semakin besar ketika men?dengar ucapan Lulung Lama itu. Kiranya tiga orang wanita cantik itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw! Mereka ber?dua sudah banyak mendengar tentang Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yaitu segolongan orang dengan agama yang aneh dan yang memiliki banyak tokoh lihai, dan mereka terkenal sebagai pemberontak-pemberontak yang gigih. Namun sayang, biarpun mereka membe?rontak terhadap pemerintah penjajah, namun nama Pek-lian-kauw bukan nama yang bersih dan disuka rakyat, karena banyak di antara tokoh mereka suka melakukan segala macam kejahatan ber?kedok perjuangan juga agama mereka merupakan agama yang eneh, yang me?nyimpang dari induknya, yaitu Agama Buddha, dan banyak melakukan perbuatan sesat. Inilah sebabnya mengapa Pek-lian-kauw selalu bergerak sendiri, tidak mem?peroleh dukungan para pendekar patriot, lebih dekat dengan tokoh-tokoh sesat di dunia kang-ouw. "Kami Pek-lian Sam-li (Tiga Wanita Teratai Putih) telah menyerahkan surat kuasa sebagai wakil Pek-lian-kauw kepa?da pimpinan Hek I Lama. Kami diberi wewenang untuk menghadiri pertemuan ini, menyelidiki dan memutuskan apakah Pek-lian-kauw menganggap patut untuk bekerja sama dengan kalian, Pek-lian-kauw sejak dahulu menentang pemerintah penjajah dan kami adalah pejuang-pejuang yang pantang mundur. Maka, kami ingin mengetahui lebih dulu apakah kalian ini sungguh-sungguh hendak menentang pe?merintah Mancu, sebelum kami menyata?kan suka bekerja sama." Kembali Ji Kui, wanita itu yang merupakan saudara pa?ling tua dari mereka bertiga, mengerling ke arah Gulam Sing yang juga memandang kepada tiga orang wanita itu sambil tersenyum-senyum. Gulam Sing ini terkenal sebagai seorang laki-laki yang selalu haus wanita, maka tentu saja ke?hadiran tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu sejak tadi sudah amat menarik perhatiannya. "Ucapan Pek-lian Sam-li wakil Pek-lian-kauw itu benar!" tiba-tiba terdengar suara lantang dan ternyata yang bicara adalah seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih yang pakaiannya penuh tambalan. Dia adalah seorang tokoh dari dunia pengemis, bertubuh tinggi kurus dan bongkok, dan ketika dia bangkit ber?diri, tangan kanannya memegang seba?tang tongkat hitam. "Kami harus tahu benar apakah yang hadir di sini sungguh-?sungguh hendak menentang pemerintah Mancu. Sebelum tiba di sini, kami ba?nyak mendengar dan kami merasa heran ketika ada berita bahwa pemerintah Ti?bet tidak menentang Kerajaan Ceng, bahkan kabarnya Dalai Lama sendiri me?ngakui pemerintahan penjajah Mancu. Juga kami mendengar bahwa pemerintah Nepal yang resmi tidak menentang pen?jajah Mancu. Maka, apa artinya gerakan yang diadakan oleh Hek I Lama dan Pa?ngeran Gulam Sing? Sebelum kami me?nyatakan diri bergabung, kami harus mengetahui dulu dengan jelas seperti yang diucapkan wakil Pek-lian-kauw tadi." Sehabis bicara, kakek pengemis itu duduk kembali dan suasana menjadi riuh karena orang-orang Han yang berkumpul di situ, banyak di antara mereka yang menyetujui pendapat kakek pengemis itu. Sian Li memandang ke arah kakek itu dengan hati berdebar. Ia mengenal kakek itu! Nampaknya masih sama saja seperti dulu, kurang lebih lima tahun yang lalu. Tentu saja ia tidak dapat me?lupakan kakek pengemis itu yang pernah merampasnya dari tangan Hek-bin-houw, bahkan kakek itu membunuh Hek-bin-houw. Kakek itu adalah Hek-pang Sin?-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam) dan setelah membebaskan ia dari tangan Hek-bin-houw, kakek pengemis itu hendak mengajaknya pergi untuk menjadi murid?nya. Akan tetapi, muncul Nenek Bu Ci Sian yang merampasnya. Nenek sakti itu mengalahkan Hek-pang Sin-kai, bahkan melukai paha pengemisitu. Ia ingat benar semua peristiwa itu dan kini ia me?mandang ke arah pengemis itu penuh perhatian. Mendengar ucapan kakek pengemis itu, Dobhin Lama, Ketua Hek I Lama yang sejak tadi duduk melenggut saja, kini menegakkan tubuhnya dan membuka matanya. Kemudian terdengar suaranya dan dia bicara tanpa bangkit berdiri, "Siapa yang bicara itu tadi?" "Kami adalah Hek-pang Sin-kai,, Ketua Perkumpuian Pengemis Tongkat Hitam di selatan!" kata kakek itu dengan bera?ni, akan tetapi begitu pendeta Lama yang kelihatan lemah itu mengangkat muka memandang kepadanya, begitu dua pasang pandang mata bertemu, kakek pengemis itu terkejut bukan main karena pandang matanya bertemu dengan dua sinar mencorong yang seperti menembus sampai ke jantungnya. Dia tidak tahan memandang lebih lama dan cepat menun?dukkan mukanya. "Omitohud, Ketua Hek-pang Kai-pang meragukan kami? Ketahuilah Sin-kai, biarpun Dalai Lama sendiri mengakui kekuasaan Kerajaan Mancu, akan tetapi kami golongan Hek I Lama tidak! Biar pemerintah Tibet tidak bergerak, akan tetapi kami akan bergerak dan kami yakin bahwa rakyat Tibet akan mendu?kung kami!" Terdengar suara ketawa dan Pangeran Gulam Sing juga berkata dalam bahasa Nepal, diikuti kalimat demi kalimat oleh penterjemahnya. "Ha-ha-ha-ha, agaknya Hek-pang Sin-kai ingin mengetahui kea?daan orang lain dan menaruh kecurigaan. Terus terang saja, kami memang tidak sejalan dengan pemerintah kami yang berkuasa sekarang di Nepal. Raja terlalu lemah dan tidak berani menentang orang Mancu. Karena itu, kami bergerak sendiri tanpa persetujuan raja. Apa hubungan?nya urusan pribadi kami ini dengan per?juanganmu membebaskan tanah air dan bangsa dari tangan penjajah Mancu, Sin-kai?" "Maaf, Pangeran. Tidak ada hubung?annya apa-apa, hanya kami merasa heran melihat betapa negara Bhutan yang de?mikian kecil, tidak bergerak seperti Ne?pal, untuk menentang Mancu," kata pe?ngemis tua itu pula. "Omitohud.... agaknya engkau tidak mengetahui keadaan Bhutan, Sin-kai!" terdengat Lulung Lama berkata. "Tentu saja Bhutan tidak menentang Mancu, karena keluarga Kerajaan Bhutan masih ada hubungan darah dengan Mancu! Bahkan yang menjadi sesepuh sekarang di sana, Puteri Gangga Dewi, sekarang menikah dengan seorang keturunan Pendekar Su?per Sakti dari Pulau Es yang masih ber?darah Mancu pula." "Keluarga Pendekar Pulau Es bukan hanya berdarah Mancu, juga musuh-musuh yang selalu mengganggu kita!" terdengar teriakan beberapa orang tokoh kang-ouw yang hadir di situ. "Tentu saja," kata Lulung Ma pula. "Keturunan Pendekar Super Sakti semua beribu Mancu, bahkan keluarga itu lalu berbesan dengan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir. Kedua keluarga itu adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa, antek-antek bangsa Mancu yang harus kita basmi!" Sian Lun sudah bangkit berdiri dengan kedua tangan dikepal, akan tetapi Sian Li segera menyentuh lengannya dan me?narik pemuda itu duduk kembali sambil memberi isarat dengan gelengankepala. Ia sendiri tentu saja juga marah mende?ngar betapa keluarga Pendekar Pulau Es dan Pendekar Gurun Pasir dijelek-jelek?kan oleh mereka yanghadir. Ia sendiri memiliki darah kedua keluarga itu! Dari ibunya ia mewarisi darah kedua keluarga Kao keturunan Pendekar Naga Sakti Gu?run Pasir, sedangkan neneknya adalah keluarga Suma, keturunan Pendekar Su?per Sakti Pulau Es! Sian Lun sendiri hanya marah karena keluarga gurunya, Suma Ceng Liong, dimusuhi mereka. Dengan menahan kemarahan Sian Lun terpakaa berdiam diri menenuhi permin?taan sumoinya. Dia duduk cemberut dan kadang-kadang pandang matanya ke arah pihak tuan rumah bersinar penuh kema?rahan. "Sekarang kami tidak meragukan lagi kesungguhan hati para saudara untuk bekerja sama dengan kami untuk meng?hadapi Kerajaan Mancu di timur. Kami hanya menghendaki kesungguhan hati, jangan sampai kami dikecewakan lagi seperti yang telah terjadi dengan Thian-li-pang," kata Ji Kui, orang pertama dari Pek-lian Sam-li. Semua orang memandang kepada wa?nita itu. Mereka yang hadir tahu belaka perkumpulan apakah Thian-li-pang itu. Di samping Pek-lian-kauw, perkumpulan Thian-li-pang merupakan perkumpulan yang terkenal gigih menentang pemerin?tah Kerajaan Mancu, sejak pemerintah itu menguasai daratan Cina. Bahkan ke?dua perkumpulan itu diketahui telah be?kerja sama dengan baik sekali sehingga sering kali terjadi kekacauan di kota raja bahkan di istana, ditimbulkan oleh mere?ka berdua. Kenapa sekarang tokoh Pek-lian-kauw itu menjelekkan Thian-li-pang yang dikatakan telah mengecewakan Pek?lian-kauw? "Nanti dulu, Toanio," kata Lulung Lama. "Kami tidak mengerti apa yang kaumaksudkan. Bukankah Thian-li-pang selalu berjuang menentang Mancu? Bu?kankah selama bertahun-tahun ini Thian-li-pang dikenal sebagai kawan seperju?angan Pek-lian-kauw?" "Itu memang benar, dahulu. Akan te?tapi sekarang, keadaan sudah lain sama sekali. Selama beberapa tahun ini, Thian-li-pang sudah berubah, sudah menyele?weng!" "Benarkah itu, Nona?" tanya Hek-pang Sin-kai heran. "Aku masih mendengar bahwa Thian-li-pang tetap berjuang me?lawan pemerintah penjajah Mancu, bah?kan akhir-akhir ini gerakan mereka ber?tambah kuat." "Huh, mereka itu orang-orang yang tidak mengenal budi, orang-orang yang tidak mempunyai perasaan setia kawan. Dahulu, kami dari Pek-lian-kauw yang membantu mereka, kami bekerja sama dengan baik. Akan tetapi sekarang, sete?lah Lauw Kang Hui yang menjadi ketua, mereka itu menjadi sombong, mereka memisahkan diri dan tidak mau menga?kui lagi Pek-lian-kauw sebagai teman seperjuangan. Mereka berlagak pendekar dan suka menghina orang. Tidakkah itu amat mengecewakan? Kami tidak mau lagi kalau sampai kerja sama dengan ka?lian ini akhirnya kelak hanya akan meru?gikan dan mengecewakan kami seperti Thian-li-pang." "Ha-ha-ha, jangan khawatir, Nona!" kata Pangeran Gulam Sing, dalam bahasa Han bercampur Nepal karena baru bebe?rapa tahun dia mempelajari bahasa Han, sehingga ia selalu dikawal seorang pen?terjemah. "Kami berjanji akan membantu Nona kelak memberi hajaran kepada Thian-li-pang yang sombong dan tidak mengenal setia kawan itu, ha-ha!" Pa?ngeran Nepal yang ganteng itu mengelus kumisnya yang melintang gagah dan ma?tanya bersinar-sinar ditujukan kepada tiga orang wanita tokoh Pek-lian-kauw itu. Tiga orang wanita muda itu terse?nyum. Ji Hwa, orang ke dua yang kulit?nya putih mulus dan wajahnya cantik, tersenyum dan suaranya terdengar basah ketika bicara dengan suara mendesah. "Pangeran, harap jangan pandang rendah Thian-li-pang. Disana banyak terdapat tokoh yang amat lihai!" "Benar sekali kata Enci ke dua itu, Pangeran," kata Ji Kim, wanita ke tiga yang selain jelita, juga lincah jenaka dan cerdik sekali. "Ketuanya yang bernama Lauw Kang Hui itu memiliki ilmu kepan?daian yang amat tinggi, sungguh tidak boleh dipandang ringan!" Pangeran Gulam Sing tertawa dan nampaklah giginya yang putih dan kuat. "Ha-ha-ha, kami tidak memandang rendah Nona-nona yang baik. Kami hanya me?nyatakan ingin membantu kalian mengha?dapi Thian-li-pang. Dan tentang kelihaian mereka, kita tidak perlu takut karena kita pun bukan orang-orang lemah. Aku sendiri pun, biar bodoh, mempunyai juga sedikit tenaga untuk disumbangkan mem?bantu kalian dalam segala hal, ha ha!" Setelah berkata demikian, pangeran yang tinggi besar dan bertubuh kokoh kuat itu, menghampiri sebuah arca singa besi yang berada di sudut ruangan itu. Singa besi itu jelas amat berat dan se?dikitnya membutuhkan tenaga sepuluh orang untuk mengangkatnya! Akan tetapi, Pangeran Gulam Sing membungkuk, me?megang benda itu dengan kedua tangan?nya dan sekali dia mengeluarkan suara bentakan nyaring, benda itu diangkatnya di atas kepala! Tentu saja semua orang memandang dengan mata terbelalak pe?nuh keheranan, kekagetan dan kekaguman. Setelah pangeran itu menurunkan singa batu di tempatnya kembali dan hanya mukanya menjadi kemerahan dan napasnya agak memburu, semua orang berte?puk tangan memuji. Memang jarang ada orang memiliki tenaga gajah seperti pa?ngeran itu, Sian Li dan Sian Lun diam-diam terkejut juga tahulah mereka bahwa pangeran itu akan merupakan lawan yang tangguh dan berbahaya. Tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu pun menyambut dengan tepuk tangan dan mereka tersenyum-senyum gembira. "Aihh kiranya Pangeran memiliki tenaga yang amat kuat, lebih kuat daripada kuda!" Ji Kui memuji. Pangeran itu tertawa. "Ha-ha-ha, un?tuk Nona bertiga, setiap saat kami siap untuk menggunakan tenaga kuda kami!" Kini Lulung Lama bangkit berdiri dan memberi isarat agar semua orang tenang, kemudian dia berkata, "Terima kasih, kami gembira sekali melihat bahwa saudara sekalian agaknya sudah siap untuk bekerja sama dengan kami. Masih adakah di antara para tamu yang ingin menge?mukakan pendapatnya? Silakan!" Lulung Lama sengaja memandang ke arah Sian Lun dan Sian Li. Akan tetapi kembali Sian Li menyen?tuh lengan Sian Lun yang sudah gatal mulut untuk bicara itu. Pada saat itu, seorang laki-laki Han berusia lima puluh?an tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka kuning, bangkit dan bicara dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita. "Bersatu untuk bekerja sama dalam perjuangan menentang pemerintah Mancu memang mudah dibicarakan, akan tetapi pelaksanaannya menentang pemerintah Mancu amatlah berbahaya dan sukar. Kaisar Kian Liong yang sekarang menja?di Kaisar telah berusaha mendekati dan menggandeng para tokoh pendekar di dunia persilatan sehingga mereka itu tidak mau menentang Kaisar, apalagi membantu usaha perjuangan untuk me?numbangkan kekuasaan Mancu. Masih banyak sekarang ini para pendekar yang berubah menjadi penjilat penjajah Mancu. Dan selama para pendekar penjilat itu tidak dibasmi terlebih dahulu, tentu me?reka akan menjadi penghalang perjuangan kita." "Pendapat itu tepat dan benar sekali!" tiba-tiba Ji Kui berseru dengan lantang dan penuh semangat. "Kalau tidak karena ulah para pendekar penjilat, terutama keturunan pendekar Pulau Es dan pende?kar Gurun Pasir, tentu telah lama ke?luarga Kaisar dapat kami basmi! Bebera?pa tahun yang lalu. ketika Thian-li-pang masih bekerja sama dengan kami, kami telah berhasil mendekati Siang Hong-houw, bahkan putera Ketua Thian-li-pang dan Ang I Moli, seorang tokoh murid Pek-lian-kauw telah berhasil diselundup?kan ke istana dan nyaris berhasil mem?bunuh para pangeran kalau saja tidak digagalkan oleh Gangga Dewi dan suami?nya, yaitu Suma Ciang Bun, cucu Pende?kar Super Sakti Pulau Es! Jelaslah bahwa orang-orang dari keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir merupakan penghalang besar bagi perjuangan kita!" Lulung Lama tertawa dan dia bersa?ma muridnya, Cu Ki Bok kini meman?dang ke arah Sian Lun dan Sian Li. "Ha-ha, belum tentu, Toanio," katanya. "Be?lum tentu kalau semua keturunan kedua pendekar itu sudi menjadi antek dan penjilat penjajah Mancu. Di sini hadir pula dua orang muda gagah perkasa yang berhubungan dekat dengan Gangga Dewi. Kami tidak yakin bahwa mereka berdua ini sudi menjadi antek penjilat orang Mancu. Liem-sicu dan Tan-lihiap, bagai?mana pendapat kalian?" Tentu saja semua orang menoleh dan memandang kepada Sian Li dan Sian Lun yang diperkenalkan sebagai orang yang dekat dengan Gangga Dewi dan ada hu?bungan dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu. Sian Lun yang sejak tadi sudah hampir tidak kuat menahan kemarahannya mendengar keluarga guru?nya dimaki-maki, dan hanya menahan kemarahannya karena dilarang sumoinya, kini mendapat kesempatan dan dia pun meloncat berdiri dan mengepal tinju. "Kami bukan penjilat pemerintah Mancu, juga kami bukan pemberontak-pemberontak yang berkedok perjuangan! Akan tetapi, aku sebagai murid keluarga Pulau Es, siap untuk menandingi siapa saja yang berani menghina keluarga Pulau Es!" Setelah berkata demikian, tanpa mempedulikan sumoinya, dia sudah me?lompat ke tengah ruangan itu, di depan meja tuan rumah. Melihat kenekatan suhengnya, tentu saja Sian Li merasa khawatir karena gadis ini maklum sepe?nuhnya bahwa di tempat itu berkumpul banyak lawan yang pandai sekali. Maka, ia pun harus melindungi dan membela suhengnya dan ia pun sudah melompat ke dekat Sian Lun. "Suheng berkata benar!" katanya. "Kalian telah terlalu banyak memandang rendah dan menghina keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Nah, ini aku keturunan kedua keluarga itu, siap untuk membela kehormatan dan nama kedua keluargaku itu, menandingi siapa saja yang berani menghina!" Melihat munculnya pemuda dan gadis yang mengaku sebegai keluarga Pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir, bahkan yang berani menantang, para tamu yang ter?diri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang se?bagian besar mendendam kepada dua keluarga besar itu, segera menjadi gaduh. "Bunuh pengkhianat!" "Basmi keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir" "Tangkap mereka, tentu telah mema?ta-matai kita!" Teriakan-teriakan terdengar dan agak?nya mereka semua sudah siap untuk me?ngeroyok Sian Lun dan Sian Li. Akan tetapi, terdengar seruan Gulam Sing. "Lulung Lama, bagaimana kalau aku saja yang menghadapi nona cantik dan gagah ini? Bukankah ia yang pernah kaucerita?kan kepadaku tempo hari?" Lulung Lama menoleh kepada pange?ran itu dan mengangguk. "Baiklah, Pa?ngeran. Memang sebaiknya seorang di antara kita yang maju. Memalukan kalau harus maju keroyokan," katanya. "Dan pemuda itu serahkan kepada ka?mi untuk menangkapnya!" kata Pek-lian Sam-li dan ketiga orang wanita muda itu sudah berloncatan menghadapi Sian Lun dengan kerling yang memikat dan senyum yang manis. Melihat ini, Gulam Sing tertawa. "Ha-ha-ha, tiga orang nona yang jeli?ta! Pemuda itu hanya seorang, bagaimana kalian dapat membaginya? Bukankah su?dah ada aku? Ha-ha!" Pangeran yang mata keranjang ini tanpa malu-malu di depan banyak orang mengeluarkan ucapan yang mengandung arti tak senonoh itu. "Pangeran, mari kita berlumba, siapa di antara kita yang dapat lebih dulu menangkap lawan, kami bertiga atau engkau, tanpa melukai!" tantang Ji Kui. "Taruhannya, siapa kalah cepat harus menurut kehendak yang menang. Setuju?" Melihat pendang mata penuh tantang?an dan senyuman penuh ajakan itu, Pa?ngeran Gulam Sing mengangguk, "Setuju!" Sian Li dan Sian Lun yang maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh apalagi mereka berada di sarang musuh dan setiap saat mereka dapat mengha?dapi pengeroyokan, sudah mencabut pe?dang mereka. "Pangeran sombong, majulah kalau ingin merasakan tajamnya pedangku!" Sian Li membentak. Pangeran itu terta?wa dan mencabut sebatang golok yang bentuknya melengkung seperti bulan sabit. Melihat lawan sudah siap siaga dengan golok di tangan, Sian Li sudah meloncat ke depan dan melakukan serangan yang dahsyat sakali. "Tranggg....!" Pangeran itu menangkis dengan babatan goloknya, dan biarpun Sian Li sudah maklum akan kuatnya te?naga lawan, ia tetap saja terkejut ketika pedang itu hampir terlepas dari pegangan tangannya. Pedang itu terpental dan te?lapak tangannya yang berhasil menahan gagang pedang terasa panas. Melihat ini, terdengar suara tawa di sana sini dan pangeran itu pun tertawa bergelak. Sian Lun yang dihadapi Pek-lian Sam?-li, biarpun mendongkol sekali karena lawan bersikap curang dan belum apa-apa sudah hendak mengeroyoknya, tidak mau banyak cakap lagi. Tidak ada guna?nya mencela dan memprotes orang-orang macam itu, apalagi tiga orang wanita ini adalah orang-orang Pek-lian-kauw. Sambil membentak nyaring pedangnya sudah berkelebat menjadi gulungan sinar yang menyambar ke arah tiga orang wa?nita itu. Pek-lian Sam-li juga telah men?cabut pedang mereka dan mereka pun mengepung dengan bentuk barisan Segi Tiga, den ternyata gerakan mereka lin?cah sekali dan bagaikan tiga ekor kupu-kupu mengepung setangkai bunga, mereka berloncaten ke sana sini, membuat Sian Lun sukar sekali untuk dapat mengarah?kan serangannya. Sian Li juga segera terdesak karena ia tidak berani mengadu senjata. Hal ini tentu saja membuat pangeran itu menang angin dan dia pun mendesak sambil ter?tawa-tawa karena dia ingin lebih dulu menangkap lawannya untuk mendahului Pek-lian Sam-li. Dengan demikian, dia tidak hanya akan menguasai gadis cantik berpakaian merah ini, akan tetapi juga dia akan membuat tiga orang wanita genit itu membayar kekalahan mereka dengan mentaatinya! Betapa akan se?nangnya dilayani empat orang wanita itu, pikirnya. Akan tetapi, sementara itu Sian Lun juga sudah terdesak hebat oleh tiga pe?dang yang mengepungnya. Tingkat kepan?daian pemuda ini tidak jauh selisihnya dengan setiap orang dari Pek-lian Sam-li, maka kini dikeroyok tiga tentu saja dia menjadi kewalahan dan repot sekali melindungi tubuhnya dari sambaran tiga gulungan sinar pedang lawan. Pada saat yang amat kritis bagi Sian Lun dan Sian Li, setiap saat mereka akan dapat tertangkap, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan bagaikan seekor rajawali saja bayangan itu menyambar-nyambar, mula-mula ke arah Sian Li dan Gulam Sing yang sedang bertanding. Baik Gulam Sing maupun Sian Li mengeluar?kan seruan kaget ketika bayangan itu menggerakkan tangan dan mereka berdua terdorong ke belakang sampai tiga lang?kah! Bayangan itu berkelebat ke arah Sian Lun yang dikeroyok tiga dan di sana bayangan itu berputaran dan juga Sian Lun dan tiga orang wanita pengeroyoknya terdorong ke belakang seperti diterjang angin badai. Otomatis, mereka semua menghentikan serangan dan memandang kepada orang yang tahu-tahu telah ber?ada di situ. Sian Li hampir berteriak saking girangnya melihat seorang laki?laki yang tubuhnya sedang saja namun tegap, rambutnya panjang dibiarkan riap-riapan ke belakang dan sebagian menu?tupi muka, membantu tirai hitam yang bergantungan dari atas topi capingnya yang lebar. Sukar melihat wajah orang itu, yang nampak hanya kilatan sepasang mata dari balik tirai dan rambut. Pakai?annya sederhana saja seperti pakaian petani namun ringkas, dan dia tidak membawa senjata apa pun. "Sin-ciang Tai-hiap....!" terdengar te?riakan beberapa orang dan demikian pula teriakan hati Sian Li yang memandang penuh kagum, juga kini mendadak saja ia merasa aman begitu orang ini berada di situ. Lenyap semua kekhawatirannya akan dikeroyok dan ditangkap oleh para pemberontak ini. Lulung Lama mewakili suhengnya, Dobhin Lama yang sejak tadi hanya me?nonton saja. Dengan langkah lebar dia menghampiri laki-laki bercaping lebar yang menyembunyikan mukanya itu dan dia mencoba untuk menembus tirai hitam dan rambut itu untuk mengamati wajah?nya, lalu dia mengangkat kedua tangan depan dada dan memberi hormat. "Omitohud....! Kiranya engkau adalah Sin-ciang Tai-hiap yang selama beberapa tahun ini membuat nama besar di daerah perbatasan Tibet ini? Selamat datang, Taihiap! Apakah engkau datang hendak menghadiri rapat pertemuan yang kami adakan ini?" Pendekar bercaping itu membalas penghormatan tuan rumah dengan sikap sopan, lalu terdengar suaranya, lembut dan singkat. "Lulung Lama, terserah de?ngan nama apa orang akan menyebutku. Aku datang bukan untuk menjadi tamu dalam pertemuan ini." Lulung Lama mengerutkan alisnya. "Sin-ciang Tai-hiap, pinceng (saya) yakin bahwa sebagai sama-sama tokoh dunia persilatan yang tahu akan peraturan du?nia kang-ouw, engkau tentu maklum bah?wa jalan kita bersimpang. Aku tidak per?nah mencampuri urusanmu, dan demikian pula kami harap engkau tidak akan men?campuri dan mengacaukan urusan kami. Kalau engkau tidak datang untuk meng?hadiri pertemuan, lalu mengapa engkau menghentikan pertandingan tadi dan apa pula maksudmu datang berkunjung tanpa diundang ini?" Lulung Lama bicara de?ngan nada tinggi hati, hal ini adalah karena dia sebagai tokoh besar Hek I Lama tentu saja tidak takut kepada pen?dekar rahasia ini walaupun sudah banyak dia mendengar tentang kelihaian Sin-ciang Tai-hiap, dan ke dua karena pada saat itu, dia berada di tempat sendiri, mempunyai banyak anak buah, ada pula suhengnya yang sakti dan banyak tamu yang dapat diandalkan. Semua orang menaruh perhatian besar kepada pendatang aneh itu dan suasana menjadi sunyi senyap karena semua orang ingin mendengarkan bagaimana jawaban pendekar yang selama akhir-akhir ini amat terkenal namanya. Pendekar aneh itu menggerakkan tubuhnya, memandang ke sekeliling, kemudian dia pun menjawab, suaranya masih lembut seperti tadi. "Lulung Lama, aku tidak mencampuri urusan siapa pun. Kalau tadi aku melerai pertandingan adalah karena aku selain tidak suka melihat orang menyelesaikan persoalan melalui senjata, saling melukai dan saling membunuh. Kedatanganku ini untuk bertemu dan bicara dengan saudara Thong Nam, kepada suku Miao yang aku tahu berada di sini sebagai tamu. Biar?kan aku bicara dengan dia, setelah sele?sai urusanku dengan dia, aku akan pergi dari sini." Lulung Lama mengerutkan alisnya. Bagaimanapun juga, Thong Nam adalah kepala suku Miao, seorang di antara se?kutunya dan saat itu menjadi tamunya, maka sebagai tuan rumah dia harus dapat melindungi tamunya. Akan tetapi, sebelum dia dapat berkata atau berbuat sesuatu, seorang di antara para tamu sudah bangkit berdiri dan berkata lantang dengan suara keras dan logatnya asing. "Akulah Thong Nam kepala suku Miao. Biarpun telah mendengar nama Sin-ciang Tai-hiap, namun kami belum pernah ber?urusan dengannya. Sekarang engkau da?tang mencariku di sini, katakan apa per?lunya engkau mencari aku, Sin-ciang Tai-hiap!" Pendekar bercaping itu memutar tubuh ke kanan untuk memandang ke arah Si Pembicara. Ternyata orang bernama Thong Nam itu bertubuh pendek dengan perut gendut, akan tetapi tubuh?nya nampak kokoh kuat dan wajahnya yang bulat itu membayangkan ketinggian hati. Tidak mengherankan kalau kepala suku Miao ini dengan lantang memperke?nalkan diri, karena dia pun terkenal se?bagai seorang jagoan di antara suku bang?sanya. Dia terkenal memiliki tenaga kuat ilmu gulat yang tak pernah terkalahkan, juga dia memiliki ilmu tendangan maut. Selain itu, dia pun tahu bahwa di tempat itu, dia memiliki banyak kawan tangguh yang pasti akan membantunya kalau dia terancam bahaya. Sejenak pendekar bercaping itu meng?amati Si Pendek Gendut dan karena dia diam saja, semua orang menjadi semakin tegang. "Thong Nam," akhirnya terdengar dia berkata, "aku mencarimu untuk me?minta kembali sebutir mutiara hitam darimu. Engkau tidak berhak memilikinya dan benda itu harus dikembalikan kepada pemiliknya." Semua orang tidak mengerti tentang mutiara hitam, akan tetapi wajah Si Pendek Gendut itu berubah merah dan alisnya berkerut, nampak bahwa dia ma?rah mendengar itu. Otomatis tangan kiri?nya meraba ke arah dadanya, lalu dia berkata lantang, "Sin-ciang, Tai-hiap! Mutiara Hitam itu adalah milikku, kute?rima dari mendiang ayahku. Aku tidak mengambilnya dari orang lain!" "Kalau begitu, saudara Thong Nam, ayahmu itulah yang telah mengambilnya. Mutiara Hitam itu milik orang lain, ha?rap engkau suka berbesar hati untuk mengembalikannya kepadaku agar dapat kupenuhi pesan pemiliknya." "Sin-ciang Tai-hiap, engkau sungguh terlalu mendesak. Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku tidak! Dan menurut peraturan dunia kang-ouw, untuk memiliki sesuatu dari orang lain haruslah lebih dahulu mengalahkannya." Kepala suku Miao itu lalu mengambil sesuatu dari balik bajunya, lalu menyerahkan sebuah mutiara hitam yang tadi dia pa?kai sebagai kalung kepada Lulung Lama. "Losuhu, tolong simpan dulu benda ini, aku akan menandingi pendekar yang som?bong ini!" Setelah menyerahkan benda itu kepada Lulung Lama, Thong Nam lalu melompat ke depan pendekar bercaping lebar dengan sikap menantang. Lulung Lama menerima benda itu, nampak ter?tarik dan segera dia mendekati suheng?nya. Dobhin Lama menerima benda itu dan mereka berdua mengamati benda itu sambil berbisik-bisik, pandang mata me?reka bersinar-sinar. Sementara itu, Thong Nam yang me?rasa diremehkan di depan banyak orang, tanpa banyak cakap lagi sudah menye?rang pendekar bercaping itu dengan tubrukan ganas, seperti seekor biruang menubruk mangsanya. Agaknya dia hen?dak mengandalkan ilmu gulatnya untuk menangkap lawan, karena dia berkeyakin?an bahwa sekali dia dapat menangkap lengan lawan, dia akan dapat membuat?nya tidak berdaya dengan ringkusan atau bantingan.Sin-ciang Tai-hiap agaknya tidak tahu akan keistimewaan Thong Nam, maka dia seperti acuh saja dan bahkan me?nangkis dengan pemutaran lengan kanan dari kiri ke kanan dan membiarkan le?ngannya itu tertangkap lawan! Tentu saja girang hati Thong Nam. Begitu dia ber?hasil menangkap lengan kanan lawan, dia mempergunakan kedua tangannya, me?nangkap dengan pengerahan tenaga yang tiba-tiba disentakkan dan dia hendak me?nekuk lengan itu ke belakang. Sekali dia berhasil menekuk lengan itu ke belakang tubuh, dia akan dapat membuat lawan tidak berdaya dengan mendorong lengan yang tertekuk ke belakang itu ke atas! Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia sama sekali tidak mampu menekuk le?ngan lawan itu, jangankan memuntir ke belakang, bahkan menekuk sikunya saja tidak mampu. Lengan itu terasa olehnya seperti sebatang baja yang amat kuat. Padahal, sebatang tongkat atau tombak baja pun akan dapat ditekuknya dengan mudah! Tiba-tiba pendekar bercaping itu menggerakkan lengannya yang ditangkap dan sedang hendak ditekuk ke belakang dan.... Thong Nam tak mampu bertahan lagi. Pegangan kedua tangannya terlepas dan dia pun terjengkang sampai beberapa meter jauhnya. Thong Nam tidak terluka, hanya ter?kejut. Dia bangkit kembali dan mukanya menjadi merah sekali. Dia menjadi se?makin penasaran dan marah, dan tanpa bicara lagi dia menerjang lawannya, se?kali ini tidak ingin menangkap melainkan mengandalkan ilmu tendangannya yang memang hebat dan berbahaya. Selain kedua kaki itu dapat bergerak cepat sekali, juga setiap tendangan mengandung tenaga yang amat kuat, apalagi kedua kaki itu memakai sepatu yang dilapis baja, bagian bawahnya memiliki tepi yang tajam dan ujungnya juga runcing. Dengan gerakan yang tenang sekali, Sin-ciang Tai-hiap dapat menghindarkan sambaran dua buah kaki yang melakukan serangkaian tendangan bertubi-tubi. Tu?buhnya hanya bergerak sedikit saja, na?mun cukup membuat tendangan itu hanya lewat di dekat tubuhnya. "Hemm, sepatumu itu terlalu keji, Thong Nam," kata pendekar itu lembut dan tiba-tiba saja, tubuh Thong Nam kembali terlempar dan terjengkang ke belakang, akan tetapi sekali ini kedua kakinya sudah telanjang karena sepasang sepatu itu tertinggal di kedua tangan pendekar bercaping itu! Pendekar itu memeriksa sepasang se?patu yang istimewa itu, kemudian jari-?jari tangannya bergerak dan.... lapisan besi di bawah sepatu itu sudah terlepas semua dan yang tinggal hanya sepasang sepatu kulit biasa. Dia melemparkan sepasang sepatu itu kepada Thong Nam. Kini wajah Thong Nam berubah pucat. Dia mengenakan sepatunya yang menjadi sepatu biasa itu dan lenyaplah semua ketinggian hatinya. Dia tahu benar bahwa pendekar itu sama sekali bukan lawannya dan kalau pendekar itu menghendaki, mungkin dia sekarang telah tewas, atau setidaknya terluka berat. Sementara itu, Sian Lun yang tadi dihentikan pertandingannya, menjadi pe?nasaran. Juga diam-diam, seperti juga Sian Li, hatinya menjadi besar setelah muncul Sin-ciang Tai-hiap. Dilihatnya betapa tiga orang wanita Pek-lian-kauw tadi pun masih berdiri dengan pedang di tangan, maka dia segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah mereka dan pihak tuan rumah. "Kalian semua mengaku sebagai pe?juang-pejuang patriot, aken tetapi se?sungguhnya hanyalah penjahat-penjahat dan pemberontak-pemberontak yang ber?kedok perjuangan! Keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir memang selalu menentang dan membasmi penjahat-penjahat seperti kalian!" Melihat suhengnya sudah nekat seper?ti itu, Sian Li juga meloncat di dekatnya untuk membantu. Melihat ini, Lulung Lama manjadi marah dan dia memberi perintah kepada anak buahnya. "Tangkap dua orang muda kurang ajar ini!" "Tahan!" Sin-ciang Tai-hiap berseru ketika melihat banyak orang sudah bang?kit dan siap menyerbu. "Lulung Lama, urusanku dengan Thong Nam belum sele?sai. Mutiara Hitam belum diserahkan kembali kepadaku, dan tentang kedua orang muda ini, seyogianya kalau kalian membiarkan mereka pergi. Mereka adalah pendekar-pendekar gagah yang tidak ada hubungannya dengan segala macam pem?berontakan." Kini Dobhin Lama yang masih meme?gang mutiara hitam itu bangkit berdiri. Tubuhnya nampak semakin kurus dan tinggi ketika dia berdiri dan dan meman?dang kepada Sin-ciang Tai-hiap. "Hemm, Sin-ciang Tai-hiap. Biarpun engkau menyembunyikan wajahmu, akan tetapi kami tahu bahwa engkau adalah seorang yang masih muda. Mengagumkan sekali seorang yeng demikian muda telah memiliki ilmu kepandaian sepertimu. Alangkah sayangnya kalau kepandaian seperti itu tidak kaupergunakan untuk mencapai kemuliaan selagi engkau masih muda. Sin-ciang Tai-hiap, sebagai seorang Han, apakah engkau tidak prihatin meli?hat bangsa Mancu menjajah negara dan bangsamu? Marilah engkau bergabung dengan kami. Kami akan memberi kedu?dukan tinggi padamu, bahkan mungkin sekali kami akan mengangkatmu sebagai panglima besar." Dengan sikap yang sopan, pendekar itu memberi hormat kepada Dobhin Lama kemudian suaranya terdengar lembut na?mun lantang dan tegas. "Terima kasih atas uluran tanganmu, Dobhin Lama. Tentu saja aku merasa prihatin dengan adanya penjajahan bangsa Mancu, dan aku mengagumi usaha para patriot yang berjuang demi membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu. Akan tetapi, Losuhu, perjuangan bukan perjuangan murni lagi kalau dida?sari pamrih untuk kepentingan pribadi, pamrih untuk mendapat imbalan jasa bagi diri sendiri. Perjuangan yang benar adalah suatu kebaktian terhadap tanah air dan bangsa, tanpa pamrih untuk pri?badi. Kalau ada pamrih, meka perjuangan itu hanya menjadi suatu alat, suatu cara untuk mencapai keuntungan pribadi se?perti kedudukan, kemuliaan, harta dan segala kesenangan lain sebagai hasil dari kemenangan. Saudara sekalian yang ber?ada di sini tentu dapat meneliti diri sendiri apakah perjuangan kalian itu murni ataukah hanya menjadi suatu cara saja untuk mengejar hasil kemenangan yang akan menyenangkan diri sendiri atau golongan sendiri?" "Sin-ciang Tai-hiap, perlukah bicara dengan mereka ini?" Tiba-tiba Sian Li berseru. "Lihat saja siapa adanya mereka ini dan kita akan tahu macam, apa perjuangan mereka itu! Perkumpulan Lama Jubah Hitam adalah pemberontak terha?dap pemerintah yang sah dari Tibet. Juga orang-orang Nepal yang bersekutu dengan mereka ini adalah orang-orang Nepal yang memberontak terhadap Kerajaan Nepal sendiri sehingga mereka itu men?jadi buronan dan buruan dari kedua kera?jaan itu! Dan lihat pula siapa lagi sekutu mereka! Pek-lian-kauw! Tak perlu ber?panjang cerita lagi, mereka bukanlah pejuang-pejuang aseli, perjuangan itu hanya menjadi kedok untuk menutupi kejahatan mereka!" "Tangkap mereka!" Lulung Lama ber?teriak lagi dan dia menghadapi Sin-ciang Tai-hiap. "Sin-ciang Tai-hiap, harap ja?ngan mencampuri urusan kami! Atau terpaksa kami akan menentangmu!" Pek-lian Sam-li berloncatan menge?pung Sian Lun dan Ji Kui berkata kepada anak buah tuan rumah, "Biarkan kami bertiga yang menangkap pemuda ini!" Dan mereka pun sudah mengepung dan menyerang Sian Lun dengan pedang me?reka. "Gadis ini untukku, ha-ha-ha!" Pange?ran Gulam Sing juga membentak dan dia sudah menghadapi Sian Li dengan golok?nya yang melengkung. Kembali mereka bertempur, melanjutkan pertandingan tadi yang tertunda oleh kemunculan Sin-ciang Tai-hiap. Sebelum Sin-ciang Tai-hiap dapat mencegah terjadinya pengeroyokan itu, dia sendiri sudah diserang oleh dua orang yang amat lihai, yaitu Cu Ki Bok dan gurunya, Lulung Lama! Begitu pemuda peranakan Han Tibet itu meyerang de?ngan sabuk baja yang kedua ujungnya dipasangi pisau, tahulah pendekar berca?ping lebar itu bahwa dia menghadapi seorang lawan yang tangguh. Apalagi ke?tika Lulung Lama juga menyerang dengan senjatanya yang aneh, yaitu sepasang gelang roda besar yang warnanya ke?emasan dan tepinya bersirip tajam. Dan pendekar itu pun memperlihatkan kelihai?annya. Tubuhnya berkelebatan seperti seekor burung walet saja, beterbangan di antara gulungan sinar senjata kedua orang pengeroyoknya! Akan tetapi, tepat seperti yang dika?barkan orang. Sin-ciang Tai-hiap agaknya tidak mau melukai lawan, apalagi mem?bunuhnya. Inilah sebabnya mengapa sukar baginya untuk menundukkan dua orang pengeroyoknya yang memiliki kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya. Kalau saja dia mau melukai, tentu tidak akan lama pertandingan itu, karena dia tentu dapat merobohkan Cu Ki Bok maupun Lulung Lama! Keadaan Sian Lun maupun Sian Li payah walaupun kedua orang muda ini melawan dengan gigih. Sian Lun mengha?dapi tiga orang wanita tokoh Pek-lian-kauw yang sudah memiliki tingkat tinggi. Tiga orang wanita itu merasa kagum bukan main. Baru sekarang mereka berhadapan dengan seorang lawan muda yang mampu menahan pengeroyokan me?reka bertiga! Memang Sian Lun bukan merupakan, lawan yang lunak. Dia telah digembleng oleh kedua orang gurunya, yaitu Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Biarpun tidak seluruh ilmu kesaktian dari keluarga para pendekar Pulau Es dikuasainya, namun dia telah menguasai Hwi-yang Sin-kang den Soat-Im Sin-kang, kedua ilmu menggunakan tenaga sakti yang panas dan dingin, dan tentang ilmu pe?dang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) yang diajarkan oleh Kam Bi Eng. Pemuda ini memang belum mempunyai banyak pengalaman bertan?ding, akan tetapi karena dia menguasai ilmu pedang yang dahsyat dan memiliki gabungan tenaga sin-kang yang amat kuat, maka tiga orang wanita Pek-lian?kauw yang bermaksud menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya itu menga?lami kesulitan. Sian Li juga menghadapi lawan yang tangguh. Seperti juga Sian Lun, gadis re?maja ini telah menguasai ilmu yang hebat, bahkan ia masih lebih tangguh dibandingkan suhengnya itu karena gadis ini menguasai pula ilmu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) dari ayahnya. Andaikata ia sudah memiliki banyak pengalaman bertanding, tentu ia akan mampu mengalahkan pangeran Nepal itu. Akan tetapi karena ia kurang pengalaman menghadapi ilmu golok melengkung dari pangeran asing itu yang gerakan-gerakannya aneh sekali, ia menjadi agak bingung. Biarpun demikian, karena pangeran Nepal itu pun tidak ingin melukainya dan ingin menangkapnya hidup-hidup, maka pange?ran itu tidak mudah dapat menundukkan gadis itu. Sian Lun yang memang sudah terdesak, dengan nekat memutar pedangnya dan sinar pedang yang bergulung-gulung itu bagaikan benteng baja yang amat kuat, membuat tiga orang tokah Pek-lian-kauw kagum dan juga penasaran. Maareka saling memberi isarat dan ma?sing-masing mengaluaran sehelai saputa?ngan merah. Tanpa diduga-duga oleh Sian Lun, mereka mengebutkan saputangan merah ke arah pemuda itu. Sian Lun memang kurang pengalaman, melihat uap tipis kemerahan itu dia tidak me?nyangka buruk. Baru setelah dia mencium bau harum yang aneh dan matanya ber?kunang, kepalanya pening, setelah ter?lambat, dia tahu bahwa tiga orang pengeroyoknya itu menggunakan bubuk beracun. "Iblis-iblis betina yang curang....!? Dia berteriak dan memaksa diri untuk me?nyerang dengan nekat, akan tetapi kepa?lanya semakin pening dan dia pun terhuyung-huyung. Ji Kui mengeluarkan suara ketawa mengejek dan sekali menggerakkan tangan menotok, Sian Lun terkulai dalam rangkulannya dan pamuda itu lemas tak mampu bergerak lagi. Sian Li mendengar teriakan suhengnya dan cepat menengok. Melihat suhengnya tertawan, ia menjadi marah dan tubuhnya bergerak cepat, bagaikan seekor burung bangau ia telah mengirim tujuh kali tu?sukan beruntun dengan pedangnya kepada Pangeran Gulam Sing. Pangeran ini terkejut, merasa seperti menghadapi seekor burung besar. Dia memutar golok dan melangkah mundur. Akan tetapi kesempatan seperti itu dipergunakan oleh Sian Li untuk meloncat ke arah Sian Lun. Melihat ini, tiga orang wanita Pek-lian-kauw ter?kejut dan marah, tangan kiri mereka bergerak ke arah Sian Li dan belasan batang jarum halus menyambar ke arah tubuh gadis yang sedang melayang ke arah mereka itu! Sukar bagi Sian Li untuk dapat menghindarkan diri dari sambaran jarum karena pada saat itu ia sedang meloncat ke arah Sian Lun yang tertawan. Dan Pangeran Gulam Sing juga mengejar dengan lompatan seperti seekor harimau yang menubruk, bukan sekedar melompat, melainkan juga menggerakkan kaki menendang! Kedaan Sian Li sunggh berbahaya sekali. Pada saat itu, Sin-ciang Tai-hiap yang melihat keadaan itu, secepat kilat mengirim tendangan beruntun kepada dua orang pengeroyoknya. Tendangan itu mendatangkan angin yang bersiutan se?hingga Lulung Lama dan Cu Ki Bok ter?paksa berloncatan ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan olehnya untuk meloncat mendahului Sian Li untuk melindungi gadis itu dari sambaran Ja?rum-Jarum halus! Sian Li yang mende?ngar gerakan kaki Pangeran Gulam Sing dari belakang, biarpun tubuhnya sedang di udara, dapat berjungkir balik dan pe?dangnya menyambar ke belakang. Kalau kaki pangeran itu dilanjutkan menendang, tentu akan bertemu dengan pedangnya! Akan tetapi pangeran itu juga berjungkir balik dan turun kembali. Sedangkan Sin?-ciang Tai-hiap dengan ujung lengan baju?nya mengebut jarum-jarum halus itu sehingga runtuh dan dia pun sudah me?nyambar lengan kiri Sian Li dan berseru, "Mari kita pergi!" "Tidak, Suhengku....!" Sian Li hendak meronta, akan tetapi tiba-tiba saja tu?buhnya dibawa meloncat jauh oleh Sin-ciang Tai-hiap dan terpaksa ia pun ikut menggerakkan kaki berlari karena ia tidak mau terseret. Cepat bukan main gerakan Sin-ciang Tai-hiap sehingga biar?pun ia ingin meronta, tetap saja ia kalah kuat dan tidak berhasil melepaskan le?ngan kirinya yang terpegang. Sian Li merasa penasaran sekali, akan tetapi ka?rena ia tahu bahwa pendekar aneh ini sudah berulang kali menolongnya, ia pun tidak mau menyerang dengan pedangnya, hanya terpaksa ikut berlari dengan alis berkerut dan bersungut-sungut. Kenapa pendekar ini mengajaknya berlari? Su?hengnya telah tertawan, dan sekarang ia disuruh melarikan diri! Ia bukan seo?rang pengecut seperti itu! Agaknya, orang-orang yang sedang mengadakan pertemuan itu merasa jerih juga kepada Sin-ciang Tai-hiap dan me?reka tidak berani melakukan pengejaran. Apalagi, mereka telah berhasil menawan seorang dan tawanan ini dapat menjamin mereka agar Sin-ciang Tai-hiap dan Tan Sian Li tidak akan berani mengganggu mereka lagi. "Harap Sam-li jangan sampai melukai atau membunuh pemuda itu," kata Lulung Lama. "Dia masih berguna bagi kita, selain untuk jaminan, juga kalau kita dapat membujuk sandera ini sehingga dia taluk dan dapat membantu, hal itu amat menguntungkan." Ji Kui yang merangkul Sian Lun yang tak sadarkan diri, mengelus dagu pemuda itu dan tersenyum sambil saling pandang dengan dua orang adiknya. "Jangan khawatir, Losuhu. Kami pun tidak bermaksud mencelakai pemuda tampan ini. Bahkan kami akan membantu agar dia tunduk dan taluk kepada kita." Ji Hwa, orang ke dua dari mereka, memandang kepada Pangeran Gulam Sing dan sambil tersenyum manis ia berkata, "Pangeran, engkau telah kalah oleh kami. Mengakulah!" Gulam Sing juga tersenyum. "Ah, ka?lian memang cerdik, menggunakan bubuk racun itu. Sungguh aku kalah cerdik dan aku mengaku kalah. Perintahkan saja apa yang kalian kehendaki, aku tentu akan mentaati untuk membayar kekalahanku." "Hi-hik, nanti saja kita bicarakan hal itu di kamar kami, Pangeran!" kata Ji Kim, wanita Pek-lian-kauw termuda. Mereka bertiga tertawa dan pangeran Nepal itu pun tertawa bergelak. Sudah diduganya. Kalah atau menang, sama saja baginya, tetap akan menyenangkan. "Pangeran, kenapa tadi tidak mem?pergunakan sihir untuk mengalahkan Tan Sian Li?" Lulung Lama berkata kepada pangeran itu. "Hemm, apa kaukira aku begitu bodoh?" Pangeran itu balas bertanya. "Su?dah kucoba, akan tetapi gagal, tidak ada pengaruhnya sama sekali! Dan kenapa engkau pun tidak menggunakan sihir un?tuk menundukkan Sin-ciang Tai-hiap tadi?" "Omitohud, kalau begitu sama saja. Pinceng juga sudah mencobanya, akan tetapi tidak ada hasilnya sama sekali," kata Lulung Lama. "Sungguh mengherankan. Kami pun sudah mencoba dengan sihir tadi sebelum menggunakan bubuk racun merah, akan tetapi kekuatan sihir kami seperti tenggelam ke dalam air saja!" kata pula Ji Kui. Kalau semua orang merasa heran, Dobhin Lama tertawa, "Ha-ha-ha, kalian seperti anak-anak saja. Sudah jelas bahwa pengaruh sihir manjadi punah ka?rena adanya Sin-ciang Tai-hiap di sini. Orang itu berbahaya sekali, maka kita harus berhati-hati. Kulihat tadi ketika dia melindungi gadis itu, ada jarum Pek-lian Sam-li yang mengenai pundak kirinya. Dia telah terluka jarum Pek-lian-tok-ciam!" "Ah, benarkah itu, Losuhu?" Ji Kui dan dua orang adiknya berseru girang. "Kalau begitu, dia tentu tidak akan dapat lolos! Jarum kami mengandung racun yang sukar dilawan." Jangan gembira dulu, Sam-li," kata Dobhin Lama. "Pinceng sudah mengenal baik jarum baracun Pek-tian-tok-ciam. Bukankah siapa yang terkena jarum itu tentu akan lumpuh seketika? Dan melihat betapa Sin-ciang Tai-hiap masih da?pat melarikan diri, hal itu menunjukkan bahwa dia memang lihai bukan main. Belum tentu jarummu akan dapat mem?buat dia tak berdaya. Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati dan suruh anak buah melakukan penjagaan ketat." Mereka melanjutkan pertemuan itu untuk membicarakan gerakan mereka dan mengatur rencana dan membagi tugas kerja. Sian Lun yang sudah tak berdaya itu diserahkan kepada Pek-lian Sam-Li untuk menjaga dan menundukkannya. Tiga orang wanita itu dengan wajah berseri lalu mengajak Pangeran Gulam Sing dan memondong tubuh Sian Lun, pergi mengundurkan diri. ? *** "Cukup, berhenti!" Sian Li merenggut?kan tangannya dan sekali ini ia berhasil. Mereka berada di kaki bukit yang sunyi, dikelilingi hutan-hutan kecil dan rawa-rawa. Orang yang bercaping lebar itu sekali ini tidak mempertahankan pegang?annya dan melepaskan lengan kiri Sian Li. Sian Li menghentikan langkahnya. Matahari sudah condong ke barat, senja menjelang tiba. Ia menghadapi laki-laki itu dengan alis berkerut. "Kenapa engkau memaksaku berlari-lari, melarikan diri seperti pengecut-pe?ngecut yang ketakutan?" dua kali Sian Li mengajukan pertanyaan ini dengan muka merah. "Kenapa?" Orang itu menghela napas panjang beberapa kali, kemudian terdengar suara?nya yang lembut, "Karena aku tidak ingin melihat engkau tewas di sana." "Akan tetapi, aku tidak takut mati!" Sian Li berkata dan membanting kakinya dengan marah. Pendekar itu tidak men?jawab, lalu melangkah pergi meninggal?kan Sian Li. Gadis itu hendak marah-marah, akan tetapi ia melihat betapa pendekar itu langkahnya gontai dan agak terhuyung. Tentu saja ia menjadi heran dan mengikuti dari belakang. Orang ber?caping lebar itu menuju ke sebuah guha besar yang tertutup rumpum semak-semak berduri, dan agaknya sudah biasa dia berada di situ. Ketika dia memasuki guha, Sian Li mengikuti dan ternyata guha itu terpelihara dan bersih, merupa?kan ruangan yang terlindung. Begitu me?masuki guha, pendekar aneh itu lalu duduk bersila, seolah tidak mempedulikan lagi kepada Sian Li. Gadis ini tentu saja menjadi semakin marah. Orang ini biarpun pernah bebera?pa kali menolongnya, akan tetapi sekali ini telah bertindak keterlaluan. Sudah memaksa ia melarikan diri, sekarang malah mengacuhkannya sama sekali. "Heiiii! Engkau ini ternyata hanyalah seorang pendekar yang mempunyai pikir?an tidak senonoh!" bentaknya semakin marah. Pendekar itu menggerakkan kepalanya yang tadi bertunduk, akan tetapi tidak langsung menghadapkan mukanya yang tertutup rambut dan tirai. "Kenapa engkau menuduh demikian?" tanyanya, masih lembut dan penuh ke?sabaran. "Buktinya, engkau hanya melarikan aku. Kalau memang hendak menolong, kenapa hanya aku yang kautolong, dan meninggalkan Suheng di sana?" "Dia sudah tertawan, kalau kubiarkan engkau akan tertawan pula.? ?Aku tidak takut! Suheng telah dita?wan, aku pun harus menolongnya, tidak peduli aku akan tertawan pula atau mati sekalipun!" Sejenak orang itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar suaranya lirih, "Eng?kau tentu.... amat sayang kepada suheng?mu itu." "Tentu saja! Dia Suhengku, kalau bu?kan aku yang menolongnya, lalu siapa lagi?" "Kalau engkau tadi tewas atau terta?wan, lalu bagaimana engkau akan dapat menolong suhengmu?" Ucapan itu menyadarkan Sian Li dan ia pun termangu. Sin-ciang Tai-hiap ber?kata lagi, "Mereka terlalu banyak dan juga banyak orang lihai. Karena terpaksa aku mengajakmu melarikan diri dari sana agar kita dapat mengatur siasat untuk dapat menolong suhengmu...." Ucapan itu tidak dilanjutkan, berhenti tiba-tiba dan pendekar itu menundukkan mukanya. Sian Li masih curiga, apalagi melihat orang itu menghentikan ucapannya de?ngan tiba-tiba dan sikapnya seperti orang yang menyembunyikansesuatu. Ia tidak mengenal siapa orang ini, tidak tahu pula bagaimana wataknya. Siapa tahu semua itu hanya siasat saja dan orang yang selalu menyembunyikan mukanya itu me?mang mempunyai niat yang tidak baik. "Sudahlah, aku harus kembali ke sana sekarang juga untuk membebaskan Su?heng!" katanya dan ia pun hendak me?ninggalkan tempat itu. Akan tetapi, pen?dekar bercaping itu sudah mendahuluinya bergerak dan menghadang di depannya. "Jangan! Sekarang belum boleh...." Benar saja dugaannya. Orang ini mempunyai niat yang tidak baik, pikir Sian Li kecewa. Sebelum ini, ia selalu mengenang Sin-ciang Tai-hiap yang per?nah menolong ia dan suhengnya, mem?buat ia kagum dan ingin sekali bertemu. Setelah jumpa, kekagumannya menghilang karena ulah pendekar itu yang amat mencurigakan, dan kini ia malah menjadi marah sekali.