Kisah cinta Sang Rumput part2

Di posting oleh PUSTAKA MWB pada 12:43 AM, 17-Sep-11

Di: bahasa hati , goresan sang gembala , semua tentang cinta



Kisah sebelumnya: Kisah Cinta Sang Rumput part1

[C0L0R=GREEN]KISAH CINTA SANG GEMBALA

Akhirnya Sang Gembala mulai bercerita;
"Ada seorang gadis yang menarik perhatianku! saat pertama melihatnya aku merasa seakan mengenalnya. Gadis itu berasal dari tempat yang jauh, entahlah! mungkin ia berasal dari surga." sesaat kemudian Sang Gembala mendongakkan kepalanya sedikit keatas seakan sedang membayangkan sesuatu.

"Ceritakanlah lebih banyak tentangnya sahabat!" pintaku kembali.

"Ia gadis pendiam, saat aku berpapasan dengannya di jalan, ia hanya tertunduk kemudian tersenyum malu, senyumannya itu seakan menyampaikan bahasa yang tidak mampu kuterjemahkan.
Yah tidak dapat kuterjemahkan, tapi hatiku selalu bisa menangkap bahasa itu dan membuat detakannya semakin kencang.
Matanya begitu indah, seakan ia adalah langit yang memiliki dua purnama yang meneduhkan hati siapapun yang memandangnya.
Rambutnya yang indah berjuntai memanjang, selalu membuat tanganku terasa gatal untuk menyisirnya, oh betapa irinya diriku dengan jepitan rambutnya" Sang Gembala mulai menghayal lagi, ia bercerita seakan-akan gadis itu ada di depan matanya.
"apa yang kau rasakan saat memandangnya" tanyaku lagi, penasaran.

"Entahlah sahabat apa yang kurasakan, tapi yang pasti aku merasa ingin memeluknya, mendekapnya erat, dan aku ingin mendengarkan suaranya yang merdu seperti nyanyian surgawi "

"Apa kau sudah menyatakan cintamu padanya?"

"Aku selalu berencana bicara padanya, tapi bagaimana mungkin? jika aku hanya bertemu dengannya di jalan. Ia adalah bidadari pingitan yang hanya mengintip dunia lewat jendela. Oh sahabat, kau telah membangkitkan kerinduan yang selama ini kupendam, bagaimana mungkin lelap tidurku tanpa berfikir tentangnya?"

" Oh sahabat, ternyata cintamu demikian indah" kataku memuji.

" entahlah sahabat! cinta ini membuatku gelisah, kerinduan ini membuatku tak tenang. Oh apakah hatinya mendengar setiap jeritan jiwaku saat aku memandangnya?. Oh mungkinkah perasaan ini terbalas dengan perasaan yang sama, jika ia tidak membalas cintaku, akan kutinggalkan tubuhku menangis di atas pusara cintaku sampai ia sendiri datang dan menghidupkannya. Dan jika ia tak datang, akan kugali pusara baru untuk tubuhku yang takkan mampu bernafas tanpa cintanya"

Aku menjadi begitu kagum sekaligus iri kepada Sang Gembala, ternyata cintanya begitu indah. Betapa kata-katanya yang mengatakan "ingin memeluk, mendekap, dan mendengar suara kekasihnya" seakan menyadarkanku, bahwa aku hanya bisa memandangi kekasihku Sang Awan, aku tak bisa memeluknya, tak akan pernah mampu mendekapnya, dan bagaimana mungkin aku bisa mendengarkan suaranya.
Oh, kenyataan ini membuat seluruh daunku layu terkulai lemas.
Oh, betapa perihnya cintaku ini.
Akankah ada hati yang mendengar dan merasakan cintaku yang pilu ini?

Kembali kutersadar dari lamunanku sendiri, dan kumulai berbincang lagi dengan Sang Gembala;
"betapa beruntungnya kau sahabat! tak ada halangan yang berarti dalam perjalanan cintamu, kukira kau hanya butuh mengarahkan panah cintamu dan pastilah Gadis Pendiam tersebut akan merelekan hatinya tertembus oleh panah cintamu"

Kini roman wajah Sang Gembala kelihatan berubah, seakan menampakkan rasa bersalah, dan ia mulai berbicara lagi;
"sebenarnya tidak semudah yang kau kira sahabat! Ada beberapa gadis cantik lain yang mencintaiku tapi aku tak mencintainya. Ketakpedulianku selalu saja ia balas dengan perhatian tulus. Ia selalu hadir saat kubutuhkan, ia bahkan terasa lebih nyata di banding gadis yang kucintai tersebut, tetapi aku tak pernah merasakan resonansi yang sama terhadap Gadis Pendiam terhadapnya. Tapi bagaimana bila ia patah hati? tentulah diriku ini yang menjadi tersangka utama, padahal aku tak melakukan apapun, selain menganggapnya sebagai adik saja. Dan tak mungkin pula aku menyalahkannya, untuk perasaan yang ia sendiri tak pernah memintanya. Aku sungguh tak mengerti bagaimana mungkin Malaikat Cinta, dengan cerobohnya menanamkan benih cinta pada tiap hati manusia tanpa ia bertanya terlebih dahulu -_-?

"iya sahabat, Malaikat Cinta memang bertindak semaunya. Entah alasan apa yang membuatnya menanamkan benih cinta di hatiku kepada Sang Awan. Semua menjadi sulit kumengerti"

Aku pun terus mendengar cerita dan bercoloteh tentang keluhan-keluhanku kepada Sang Gembala. Sebelum ia pergi tak lupa pula kuberitahu ia kabar bahwa Pecinta Sejati akan melewati tempat ini. Semoga saja Sang Pangeran tersebut dapat memberi solusi atas permasalahan cinta kami berdua, dan menjelaskan kepada kami apa cinta sejati itu sesungguhnya.

MATAHARI pun mulai bersembunyi seakan ia begitu takut akan pekatnya malam, kini singgasananya ditempati oleh Sang Bulan purnama yang menerangi cakrawala dengan cahanya yang sesungguhnya merupakan pantulan sinar Matahari.

Teruslah kupandangi kekasihku Sang Awan, yang kini terlihat semakin indah oleh siraman cahaya dari bulan purnama tersebut.

Oh, inikah kepiluan cinta yang harus kurasakan akibat terpisah tempat dari sang kekasih? betapa dalam perihku sehingga nyanyian-nyanyian serangga seolah-olah menjadi kidung kepedihan cinta yang menyayat hatiku semakin dalam dan semakin dalam sad

Apakah ini hukuman yang harus kuterima karena berani mencintai sesuatu yang lebih agung dariku.sad

Oh Tuhan
dosakah cinta ini?
tak pantaskah cinta ini?
hingga engkau harus menghukumku dengan kerinduan yang amat dalam.
Jika cinta ini dosa, tolong beritahu aku bagaimana mensucikannya?
jika memang tak pantas, ajari aku bagaimana membuatnya menjadi pantas sad

Oh, Sang Awan! kecantikanmu hanyalah kesunyian yang mendiamkan cintaku dalam gelora ketidakpastian.


Kemanakah Sang Angin malam ini, jika ia bisa menyampaikan kerinduan umat manusia yang terpisah dari kekasihnya, bisakah ia menyampaikan kerinduanku pada Sang Awan?

Bersama jutaan tahun kerinduan, kulewati malam ini dalam kesendirian.
Ah tidak, tak seorang pun sendirian. Pastilah di tempat lain sana ada mahluk lain yang merasakan kepiluan cinta yang sama dengan apa yang kurasakan sad



********

Fajar pun mulai menjelang, tetesan embun Sang Awan seakan menyembuhkan semua lukaku akibat terpisah darinya, sayangnya ini tak bertahan lama karena embun pun perlahan meninggalkan diriku dalam panas terik matahari, aku menjadi benci Matahari karena hal ini.

Tak henti-hentinya kupandangi kekasihku, melarutkan kepiluan cinta yang tak ternazamkan ini.
Tanpa kuduga sebelumnya, kaki manusia kini mendarat di atas tubuhku.
Sungguh!
Siapakah orang bodoh yang menghalangi pandanganku pada sang kekasih?

Kaki itu kemudian melangkah, dengan nada penuh amarah kuteriaki dia "hei orang bodoh! apakah kau tak melihatku sedang memandangi kekasihku? berani sekali kau menginjakku"

Terus saja ku umpat lelaki tua bodoh tersebut karena kuyakin ia terlalu tua untuk berimaginasi mendengarkan suaraku seperti halnya yang dilakukan Sang Gembala. Dia kemudian bersandar di bawah pohon mangga yang tumbuh di dekatku. Nafasnya begitu dalam dan halus, seperti orang mati saja. Ah pastilah ia hanya seorang musafir yang kebetulan lewat sini. Apakah mungkin ia Sang Pecinta Sejati? Tapi yang ia lakukan hanya diam dan ia tak nampak memiliki kriteria yang pernah disebutkan oleh Sang Angin.

"Diamlah pecinta bodoh! tak perlu kau menilai orang tua sepertiku!"

Tegurannya mengejutkanku, tak pernah seorang pun manusia yang mampu bicara padaku selain Sang Gembala.
"bagaimana kau bisa mengerti bahasaku" tanyaku penasaran.

"tak perlu kau mempertanyakan hal yang hanya akan menimbulkan kebingungan bagimu" jawabanya ringkas dan seakan tidak terlalu menghiraukanku.

"berani sekali kau berkata begitu, tidakkah kau sadar hei manusia bodoh! kau ini telah menginjak dan mengganggu kemesraanku dengan kekasihku" balasku dengan protes.

Ia kemudian berbicara lagi sambil menutup matanya
"aku hanya menyadarkanmu dari delusi dan lamunan rendahmu, seharusnya kau berterimakasih padaku, bukan malah mengumpatku!"

Sebelum aku membalas kata-kata orang tua tersebut, Sang Angin perlahan datang dan menyapa orang tua tersebut, ia seakan begitu tunduk dihadapannya.

"Siapa orang tua bodoh ini" tanyaku pada Sang Angin dengan nada berbisik.

"Tidakkah kau tahu? dialah Sang Pangeran yang kumaksud, dialah Sang Pecinta Sejati tersebut"

"Oh matilah aku, yang telah mengumpatnya" kataku dalam hati.
"Apa kau tidak bercanda?" tanyaku ingin memastikan

"Tidak, tidak sama sekali" jawab sang Angin

"Bagaimana mungkin orang tua yang kelihatan kumal itu kau sebut pecinta sejati? mungkinkah akan ada wanita yang mencintai lelaki yang menyeramkan itu?
tidak, ia pasti bukanlah pecinta sejati"

"Kau boleh percaya atau tidak tapi ialah Sang Pecinta Sejati yang sesungguhnya.
Lihat betapa hebatnya dia! dia mampu mengendalikan segala unsur di alam ini.
Nafasnya yg demikian dalam dan teratur menandakan pengendalian ANGIN yg sempurna.
Tidakkah kau ingat bagaimana ia mengendalikan API amarahnya saat kau terus-terusan mengumpatnya"

Kata-kata Sang Angin seakan-akan membuatku ada diantara percaya dan tidak. Bagiku Sang Gembala yang mencintai Gadis Pendiam lebih pantas diberi gelar pecinta sejati daripada orang tua yg kumal itu.
"Apa hebatnya Sang Pangeranmu tersebut? Sang Gembala sahabatku jauh lebih tampan darinya. Jelaskan padaku apa yang membuatnya lebih hebat dari Sang Gembala, sehingga ia pantas mendapat gelas Sang Pecinta Sejati" tanyaku lagi untuk meyakinkan diriku.

"Ada banyak hal wahai kawanku Sang Rumput! salah satunya ialah:
saat Gang Gembala memandangi kekasihnya, nafasnya menjadi semakin tak terkendali, itu membuktikan Sang Gembala dikuasai oleh hawa nafsu. Sedangkan Saat Sang Pangeran memandangi wajah kekasihnya, nafasnya menjadi sedemikian halus dan dalam hingga tak satu pun mahluk yang mampu mendengarkan desahan nafasnya, itulah yang membuktikan begitu dalam cintanya pada kekasihnya"

Aku menjadi semakin penasaran dengan orang tua ini. Terus saja kuhayati gerak-geriknya, hingga kemudian terdengar derap langkah kaki , ternyata itu berasal dari sahabatku Sang Gembala.

Tak lama kemudian Sang Gembala menyapa Orang Tua tersebut:
"hei!!!! siapakah kau yang beristirahat di kebunku tanpa ijinku terlebih dahulu" tanya Sang Gembala.

"atas dasar apa kau mengakui kebun ini milikmu?" balas Orang tua itu dengan tetap memejamkan matanya, hal itu kelihatannya membuat Sang Gembala menjadi marah.

"yah karena aku punya sertifikatnya"

Sang Oarang tua pun membuka matanya, dan bertanya lagi
"atas dasar apa kau mengaku sertifikat itu milikmu"

Kelihatannya Sang Gembala menjadi terpaku dan tak mampu menjawab, jika saja ia menjawab pastilah jawabannya akan kembali pada dirinya sendiri.
"begitu cerdik orang tua ini, cahaya matanya yang tajam menyiratkan kekuatan jiwanya, pastilah ia bukan orang biasa" guman sang gembala dalam hati.

Kini Sang Gembala kelihatannya lebih bersahabat, ia bertanya lagi dengan nada merendah.
"siapakah anda Paman, apakah anda seorang Penyihir?"

"atas dasar apa kau menganggapku seorang penyihir?" tanya Sang Pangeran tersebut.

"yah, karena anda mengenakan jubah hitam dengan penutup kepala, itu sama persis dengan yang digunakan oleh penyihir yang aku tonton di film-film"

"kupikir kau lebih pintar daripada sang rumput, ternyata kau sama saja dengannya, menilai sesuatu berdasakan kebiasaan umum telah menghalangi pandanganmu dari hal yang lebih tinggi. Kau masih terikat dengan hitam dan putih, baik dan buruk, itu hanya akan menghalangi pandanganmu dari hakekat kebenaran.
Ketahuilah wahai anak muda! mungkin bagimu hitam adalah symbol kejahatan dan kegelapan, tapi bagi seseorang yang mempunyai pemahaman yang tinggi, memahami bahwa hitam adalah symbol mistery dan kebijaksanaan tertinggi umat manusia" jelas Sang Pecinta Sejati itu dengan panjang lebar.


"lantas anda ini siapa?" tanya Sang Gembala yang semakin penasaran.

Dengan menarik nafas panjang Sang Pecinta Sejati tersebut mulai bicara lagi:
"Aku bukanlah siapa-siapa wahai anakku. Aku hanyalah tetesan air di tengah samudra yang luas. Aku hanyut bersama aliran takdir. dimana sang kekasih menginginkanku berada maka di sanalah aku mengada, karena segala kehendakku hanyalah cerminan dari kehendaknya. Dan saat ini Sang Kekasih mengiinginkaku berada di sini berkumpul bersama para Pecinta lainnya"


Sang Gembala sepertinya telah mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Tahulah ia bahwa Orang tua tersebut adalah Sang Pecinta Sejati yang pernah kuceritakan padanya.
Tapi rasa penasaran Sang Gembala amatlah besar, hingga ia mengajukan pertanyaan lagi:
"maafkan aku paman atas kelancanganku, kudengar anda ini menguasai semua elemen, apakah anda ini seorang avatar?"

"apa itu Avatar?" tanya Sang Pecinta Sejati

"Avatar adalah seseorang yang mampu mengendalikan elemen API, ANGIN, AIR dan UDARA. Ia juga punya tatto berbentuk anak panah di dahinya. Pokonya keren deh paman, apa lagi Avatar Aang, ia juga orangnya humoris. Kok Paman gak tahu, gak pernah nonton yah?" Sang Gembala menjawab dengan bersemangat, ia amat senang ada hal-hal yang ia ketahui yang tidak diketahui oleh Sang Pecinta Sejati tersebut.

Sang Pecinta Sejati atau yang diberi julukan Sang Pangeran hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Sang Gembala seakan-akan ia mengetahui isi hati sang gembala, kemudian menjawab:
"kenapa aku tak tahu? yah karena aku hanya mengetahui hal-hal yang perlu kuketahui, mengetahui hal-hal yang tidak penting hanya akan menjadi tabir dalam penglihatan dan penilaianku terhadap sesuatu. Sebagaimana kau yang salah menilaiku sebagai seorang penyihir hanya karena kau pernah menonton film Harry Potter yang menampilkan seorang penyihir dengan pakaian seperti yang kukenakan. Dan kau pun menganggapku sebagai seorang Avatar hanya karena aku menguasai berbagai elemen"

"lantas paman ini siapa?" tanya Sang Gembala lagi tak mau nyerah.

"Pangil saja aku Idris, kalau namamu?"

"namaku Algazel, orang-rang memanggilku Gazel. Ok Paman Idris, kapan-kapan kita ngobrol lagi, soalnya aku takut telat masuk kuliah"

Sang Gembala pun pergi, dia tak pernah memberitahuku kalau namanya Gazel, nama yang cukup aneh menurutku. Sang Angin pun yang dari tadi cuman menguping, kini pergi bersama Gazel, mungkin hanya perbincangan tadi yang menahannya tetap di sini.

Tinggallah saja aku di sini berdua dengan Sang Pecinta sejati yang memperkenalkan namanya dengan sebutan Idris.
Karena ia kelihatannya tidak terlalu memperdulikanku, aku pun mengambil inisiatif untuk berbicara terlebih dahulu.
"kudengar anda ini seorang pecinta sejati, sudikah tuan mengajarkanku tentang cinta yang selama ini membingungkanku?"

Setelah berfikir sejenak, akhirnya Sang Pecinta Sejati mulai berbicara
"sebenarnya aku bukanlah orang bodoh yang berbicara dengan rumput, tapi karena kau juga seorang pecinta maka aku akan bermurah hati sedikit. Apa yang ingin kau ketahui tentang cinta?"

"semua yang perlu kuketahui" jawabku dengan bangga karena telah menggunakan kata-katanya.

"Hum, baiklah. Pertama-tama kau harus tahu alam semesta ini tercipta karena cinta. Tuhan menciptakan dunia sebagai obyek cintanya, karena cinta tak dapat diwujudkan tanpa adanya obyek cinta.
Semakin kau mencintai sesuatu, maka semakin ingin kau mengenalnya lebih dalam, karena cinta adalah hasrat untuk menyadari sesuatu yang dicintai."


"pantas aku begitu ingin mengetahui lebih banyak tentang Sang Awan" gumanku dalam hati.

Ia pun melanjutkan.
"Cinta juga merupakan sumber segala pengetahuan, cintamu terhadap sesuatu akan membuat sesuatu itu mengungkapkan segala rahasiannya. Penemuan-penemuan terbesar yang ada di bumi ini hanyalah perwujudan dari cinta terhadap sesuatu yang mengungkapkan rahasianya
. Jabir menemukan menemukan berbagai unsur kimiawi karena kecintaanya terhadap ilmu kimia. Ibnu Sina menemukan berbagai obat-obatan dan tehnik pembedahan, karena cintanya pada kedoktoran. Begitu pun juga dengan Thomas Alfa Edison yang menemukan bola lampu karena kecintaanya pada ilmu pengetahuan tersebut"

"apakah aku ini juga dapat mengetahui lebih dalam tentang kekasihku Sang Awan yang amat jauh itu?" tanyaku

"tentu saja, karena cinta dapat membuka mata rohani. Tapi cintamu terhadap suatu obyek mungkin saja akan membutakanmu terhadap obyek yang lain"

"apa maksud anda?" tanyaku lagi.

"Kau mengagumi semua yang ada pada Sang Awan, dan kau buta pada kebaikan Sang Matahari, bahkan mungkin membencinya. Padahal menurutku Sang Awan tersebut tidaklah lebih baik dari Sang Matahari. Kau buta terhadap kebaikan dan keindahan Sang Matahari, bukan karena ia berhak diabaikan, tetapi tanpa cinta matamu tak dapat melihat keindahannya.
Sang Awan mungkin mempunyai keburukan yang tak kau lihat, tetapi karena cinta melihat keindahan, maka kau hanya melihat keindahannya tanpa peduli terhadap banjir yang bisa disebabkan olehnya yang mungkin akan memunuhmu"

"Benar sekali kau Tuan, aku telah membenci Sang Matahari hanya karena ia terkadang menyilaukan pandanganku terhadap kekasihku Sang Awan. Aku membencinya hanya karena ia membuat daunku kering, padahal tanpa cahayanya tak mungkinlah aku bisa berfotosintetis memasak makananku, tanpa cahanya pastilah daunku yang hijau ini menjadi lemas dan beruban. Sungguh cintaku pada sang Awan telah membutakanku kepada kebaikan Sang Matahari.
Kata-katamu sungguh merasuki benakku, apa yang kau katakan tak satu pun dapat kusangkal. Lanjutkanlah pengajaranmu Tuan, agar aku tidak tersesat dalam hutan belantara cinta yang amat luas ini" rengekku karena ingin mengetahui lebih banyak.

"kukira hanya itu yang perlu kau ketahui sekarang, renungkanlah lebih dalam apa yang kukatakan tadi agar kau bisa sampai diambang pengertian"

Aku terpaksa menyimpan kembali semua pertanyaan dan menyesali kata-kataku yang meniru kata-katanya.

Sang Pangeran tersebut sangat pelit dalam berkata-kata, apa lagi yang bisa kulakukan selain memperhatikan gerak-geriknya yang aneh itu. Ia tak banyak bergerak seakan-akan jiwanya terdampar pada suatu dunia yang tak akan pernah kupahami.

Detik demi detik kulalui dalam keheningan dan kesunyatan, aku selalu berharap Sang Gembala atau pun Sang Angin segera datang dan memecah kesunyian yang kini menemaniku.

Sesekali kupandangi Sang Awan kekasih pujaan hatiku, keindahannya seakan akan menambah kesunyian dan menelanku dengan satu suapan.

Apa lagi yang mesti kuharapkan dan doa apa lagi yang patut kupanjatkan agar kiranya Tuhan beserta seluruh ke maha penyayangnya menyatukanku dengan Sang Awan yang kini seakan menatapku pilu penuh kerinduan.

Adakah dia merasakan kerinduan yang sama?
Apakah ia merasakan kepiluan yang setara?
Jika tidak maka sia-sialah kerinduanku ini.
Bila tidak maka pupuslah segala impianku ini.

******

KINI sore pun menjelang, Sang Angin mulai berbisik lirih seolah ia mengasihani kepiluan hatiku. Tak lagi kutanyakan kabar kerinduan manusia yang terpisah dari kekasihnya seperti yang dulu kulakukan. Tak perlu lagi kupertanyakan hal yang kini kurasakan sendiri.

"kenapa kau diam saja kawanku?" tanya Sang Angin yang baru saja datang.

Tak langsung kujawab pertanyaanya, kunikmati dulu hawa kesejukan yang ia bawa terbang bersamanya. Dengan nada penuh keputus asaan aku menjawab pertanyaanya,
"entahlah kawan, sang pecinta sejati yang kuharapkan untuk memberi titik terang dalam kebuntuan kisah percintaanku, tapi terlalu berhemat kata-kata hingga tak mau memboroskannya sedikit untukku. Nasihat singkat yang ia berikan hanya menambah kebingungan dan keraguan akan tergapainya asa cintaku"

Sang Angin mengitariku dan berhembus perlahan seakan akan ia mengetahui apa yang telah terjadi antara aku dan Sang Pangerannya tersebut.
"apa yang telah terjadi padamu kawan? jangan malu menceritakan kisahmu yang sederhana padaku" tanyanya seolah-olah ingin mengurangi sedikit rasa sakitku.

Berbicara dan didengarkan, itulah yang dibutuhkan wanita saat didera kepiluan. Meskipun kata-katanya seakan meminta nasehat dan saran, namun jauh di lubuk hati, mereka hanya inginkan sebuah telinga untuk mendengarkan semua keluh kesah tanpa memprotes sedikitpun.
Yah itulah yang di butuhkan seorang wanita saat merasa pedih dan terluka, tapi aku bukanlah seorang wanita, aku hanya sebatang rumput yang hanyut dalam cinta tanpa tau berenang dan tak mempunyai sebuah pelampung untuk menggiringku kembali ketepian. Telinga tak dapat mengobati lukaku, hanya sang kekasihlah satu-satunya tabib dan juga obat hatiku.

"ada apa denganmu kawan" kembali Sang Angin bertanya dan kini membawaku kembali dari dunia hayalku ke dunia nyata yang penuh penderitaan.

"maaf kawan, semua luka dan kepedihan yang kurasakan telah membuatku agak tuli, dulu aku mempertanyakan apa itu cinta, dan kini dapat kusimpulkan cinta hanya dapat memberiku luka yang tak dapat di obati oleh siapapun selain sang kekasih.
Dulu aku dapat melambaikan daunku penuh dengan kebahagiaan, tapi kini hari-hariku hanya kuisi dengan menghayati tiap kerindunaku. Kukira masa silam memang lebih baik dari masa sekarang"


"Janganlah kau seperti manusia bodoh dan tak pandai bersyukur kawan! Mereka selalu menyimpulkan masa silam lebih baik daripada masa sekarang. Saat bulan puasa tiba mereka selalu saja berkata puasa tahun lalu lebih seru dari tahun ini, namun itu pula yang mereka katakan di tahun selanjutanya.
Masa silam hanyalah tontonan yang telah berlalu, dan masa depan hanyalah milik Tuhan, masa sekaranglah milik kita. Berhentilah bersedih! sudahilah ratapanmu! tersenyumlah! karena senyuman adalah bukti nyata rasa syukur akan anugrah Tuhan!
Sadarlah kawan jika kau terus menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan, maka kau tidak punya hari ini untuk kau syukuri. Einsten telah menyatakan waktu itu relatif, keindahan dan kecantikan pun relatif dan jika engkau mengambil apa yang relatif menjadi apa yang absolut mungkin engkau akan kehilangan, yah kau akan kehilangan kebahagiaan.
Dan tahukah kau hanya ada satu yang absolut di dunia ini"


Sang Awan berkata panjang lebar untuk menasehatiku, tapi ia belum menyelesaikan kata-katanya,
"apa itu kawan?" tanyaku penasaran.

"tanyalah pada Sang Pecinta sejati! karena hanya dialah yang bisa menjawabnya dengan tepat"

Sang Angin ini benar-benar telah menggantungku dengan kata-kata yang tidak ia khatamkan, ia malah menyuruhku bertanya kepada Sang Pangeran yang amat peliit berkata-kata itu. Dari tadi aku mengobrol dengan Sang Angin tetapi ia tampak seperti patung dan tidak peduli, ia bahkan lebih cuek dari Sang Gembala sahabatku, lantas bagaimana aku bisa mendapatkan jawaban yang kuinginkan darinya -_-?
"baiklah kawan" jawabku pada Sang Angin dengan lantunan kekecewaan yang menyertai kata-kataku.

AKU pun terus menceritakan keluh kesahku pada Sang Angin, tak lama kemudian datanglah Sang Gembala dengan membawa kantong hitam di tangannya, kupikir pastilah hari ini ia membawakan pupuk untukku, tapi sesampainya di sini ia seakan tak peduli padaku dan langsung mengucapkan salam pada Sang Pecinta Sejati yang dari tadi hanya membisu sendiri.

"Waalaikum salam" jawab Sang Pangeran, aku merasa kecewa dan agak kesal sekaligus. Aku kecewa karena kantong yang dibawa Sang Gembala bukanlah pupuk melainkan sebuah makanan untuk ia berikan kepada Sang Pangeran tersebut. Dan hal yang membuatku kesal adalah, sang Pangeran begitu ramah terhadap Sang Gembala, sangat berbeda ketika ia memperlakukanku. Hmm sungguh tidak adil bagiku. Meskipun agak kesal aku juga merasa sedikit senang, karena dengan kedatangan Sang Gembala kemungkinan aku dapat mendengar ocehan langka Sang Pecinta Sejati.

"kenapa tidak dimakan Paman?" tanya Sang Gembala kepada Sang Pangeran setalah ia menyerahkan kantung hitam yang tadi ia bawa.

"hari ini aku puasa nak" jawab Sang Pangeran dengan santai dan dengan senyum menghiasi wajahnya. Sungguh berbeda ketika ia berbicara padaku, ia hanya memberiku jawaban datar dengan bermuka masam.

"Paman, Paman! kudengar paman adalah Seorang Pecinta Sejati, sudikah Paman mengajariku agar aku di sukai oleh gadis yang aku sukai?" tanya Sang gembala dengan gaya memelas seperti Spongebob, sungguh tidak dewasa kataku dalam hati.

Sang pecinta sejati kemudian tersenyum, pastilah ia membayangkan romantika masa mudanya ketika mendengar pertanyaan Sang Gembala. Orang dewasa memang aneh

"baiklah anakku, akan kuajari kau sedikit tentang wanita. Pada dasarnya tidak sulit untuk membuat wanita itu menyukaimu, yang harus kau lakukan hanyalah memberi perhatian yang tulus, pujian yang tidak dibuat-buat, dan sedikit rasa humor" jelas sang Pangeran.

"apakah hanya itu saja Paman?" tanya Sang Gembala kembali.

"iya, sebenarnya naluri wanita hanya membutuhkan hal sederhana tersebut agar ia menyukaimu, tapi dijaman yang edan ini, naluri kewanitaan mereka ditutupi oleh mahluk halus yang bernama materialisme. Lihatlah saja sekarang! kebanyakan wanita tidak bangga lagi menjadi seorang ibu, yang mereka pikirkan hanya bagaimana bisa menjadi lebih hebat dari laki-laki dan terkadang mereka mengingkari naluri keibuan dan kewanitaannya karena hal tersebut"

"jadi apakah cara yang kau sebutkan tadi tidak akan berhasil" tanya Sang Gembala sambil mengeritkan dahinya.
“mungkin saja berahasil, mungkin saja tidak, itu tegantung dari wanita yang kau sukai tersebut, apakah ia telah dirasuki setan materealisme tersebut atau tidak” jawab sang Pangeran dengan santai.

Sang gembala kelihatannya merasa puas dengan jawaban yang ia dapatkan, kini ia bergegas untuk memberi makanan sapi-sapinya. Aku dan Sang Angin masih ingin menguping tapi Sang Pangeran kini terdiam lagi seakan tak pernah menganggap kami ini ada.

Setelah selesai memberi makan sapi-sapinya, Sang Gembala beranjak pergi tanpa memberi ucapan selamat tinggal kepadaku maupun kepada Sang Pangeran, ia pasti ingin segera mempraktekkan apa yang telah ia pelajari. Aku tahu dari sang Angin bahwa ia dengan diam-diam membuat bualan tentangku di catatan facebooknya tanpa izin dariku, tapi tak apa bagiku, biar saja seluruh mahluk di bumi ini tahu kepiluan dan penderitaan yang kualami.

****

Adzan maghrib terdengar dari kejauhan, Sang Pangeran dengan lahap memakan apa yang diberikan sang gembala kepadanya. Usai berbuka ia pun melangkah pergi, entah kemana lagi ia akan berteduh, aku hanya bisa berdoa agar ia berumur panjang dan kembali ketempat ini, meskipun ia tidak terlalu memperdulikanku tetapi kehadirannya setidaknya tidak membuatku merasa sendiri di malam yang pekat ini.

Malam ini bulan tak lagi sempurna seperti malam kemarin, sedikit demi sedikit sisi terangnya menjadi sisi gelap yang menakutkan. Aku sadar suatu saat nanti semua cahayanya akan tertelan oleh gerhana dan jika tiba masanya ia akan menjadi purnama yang indah lagi, seperti dirinya begitupulalah kehidupan manusia di dunia yang fana ini, mereka kadang menjadi jahat seperti mahluk buas yang tak berperasaan dan terkadang pula menjadi begitu mulia layaknya seorang malaikat.

Telah kering air mataku, sudah habis kata-kataku untuk melukiskan penderitaan cinta yang kualami dan kurasakan saat ini, bersama rasa lelah dan penat kulalui malam ini tanpa perubahan yang berarti.

Berambung ke episode Penderitaan Dalam Cinta

By: A. Salga Saputra
Belajar Nulis Cerpen
PUSTAKA SASTRA

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

46 tanggapan untuk "Kisah cinta Sang Rumput part2"

amir pada 12:55 AM, 17-Sep-11

mampir gan. . .

Es_bel pada 12:56 AM, 17-Sep-11

De gaya pengarang ni...keep it up k..mkin lame pasti mkin mantap penulisanya... smile

Uyunks pada 01:00 AM, 17-Sep-11

Wah mantapz nih crita ny sob,izin nyimak+di tunggu kunjungan balik ny sobmrgreen

Fuadi pada 01:11 AM, 17-Sep-11

knjgn tgh mlm sobbiggrin

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 01:20 AM, 17-Sep-11

malem gan kirain dah pada tidur, thaks yah tengah malam gini masih sempat berkunjung smile

amrull pada 01:25 AM, 17-Sep-11

cerita dan bhasanya puitis banget. . Jdi pnasaran nunggu episod brikut nya. . .

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 01:29 AM, 17-Sep-11

@ Amrull, agak ragu kamu baca sampai selesai smile semuanya langsung menuju komen liat tulisan saya yang amat panjang biggrin

Adhita pada 01:31 AM, 17-Sep-11

cuma satu kata yg bisa aku bilang .
"Super" .
Mantap gan .

Chalink Junior pada 01:40 AM, 17-Sep-11

T.O.P. B.G.T gan,ditunggu next episode...

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 01:45 AM, 17-Sep-11

@ Adhita, super mantap atau super panjang biggrin

@ Chalink jr, ok bro masih dalam masa pengetikan smile

enoz.heck.in pada 02:07 AM, 17-Sep-11

tema baru nh... Terasa sejuk biggrin

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 02:38 AM, 17-Sep-11

iya bro, sekedar ganti suasana smile

Gochun surya | Rumah Impianku pada 03:19 AM, 17-Sep-11

makin mantab aja ni artikelnya sob, bikin kangen cerpen2nya...ditambah segarnya cssnya..sukses slalu sobatku

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 03:58 AM, 17-Sep-11

@ Surya, makasih sob sukses pula untukmu smile

dewa video birahi pada 06:46 AM, 17-Sep-11

Gue TunGGu cerPen BerikUtnya cuy..

http://porno.heck.in

dewa video birahi pada 06:47 AM, 17-Sep-11

Gue TunGGu cerPen BerikUtnya cuy..

http://porno.heck.in

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 07:03 AM, 17-Sep-11

ok coy, thanks dah baca smile

Asura Danisuke pada 07:14 AM, 17-Sep-11

Keren kawan... bmrgreend

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 07:25 AM, 17-Sep-11

thanks kawan

faisalcrow pada 08:06 AM, 17-Sep-11

sbelum dibaca.dikomen dulu.mantap sob.tetap smangat dan terus berkarya !

Resta™ | The Movies Downloads pada 08:13 AM, 17-Sep-11

sip :o sama q juga hurus ngetik , hehe ngebuat subtitle mrgreen

Daniezero  pada 08:17 AM, 17-Sep-11

nyimak aja sob...

S'39'|RemaQo pada 08:19 AM, 17-Sep-11

huh lumayan cape jg bacanya walau baru sebagian, ok sob ane copy dulu ae, biar bs dilanjutkan bacanya, hehehhehehe makasih ceritanya sob

S'39'|RemaQo pada 08:20 AM, 17-Sep-11

huh lumayan cape jg bacanya walau baru sebagian, puanjanggg banget sob, ok sob ane copy dulu ae, biar bs dilanjutkan bacanya, hehehhehehe makasih ceritanya sob

Mas Karyo pada 08:33 AM, 17-Sep-11

terus terang cuma 4-5 paragrap doank yank ane baca bos biggrin
secara umum diksinya udah oks banget.
gak bisa berkomentar lebih, ane gak begitu paham ama nyank beginian. biggrin

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 08:56 AM, 17-Sep-11

@ Resta, ia sob sekalian belajar ngetik 10 jari smile

@ Daniezero, ok kawan

@ Remaqo, hehe namanya juga cerita kawan smile

@ Mas karyo, jujur banget biggrin makasih dah mampir yah.

Mas Karyo pada 09:23 AM, 17-Sep-11

ada baiknya anda kemas dalam sebuah e-book/file html.
tentunya sobat kita yang lain juga meperhitungkan efektivitas waktu dalam ber-internet. sebagian juga cuma bersenjatakan layar berdimensi 240x320 biggrin Kecuali untuk suatu artikel yang benar-benar dibutuhkan, berat mengharapkan mereka membaca keseluruhan artikel yang terlalu panjang.
Buat sobat lain yang tertarik namun dirasa tidak cukup waktu untuk membaca keseluruhan cerita, bisa menyimpan halaman ini.
Caranya tekan #9 di hape kalian biggrin

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 09:53 AM, 17-Sep-11

iya Mas, memang maunya seperti itu, tapi sekarang cerpennya belum selesai, kalau udah selesai saya juga akan mengemasnya dalam ebook yang lain, makasih yah sarannya biggrin

Arest Putra pada 10:11 AM, 17-Sep-11

pusing bacanya kangmas panjang bgt ........ absen pagi

Tauriza pada 10:14 AM, 17-Sep-11

mantap gan
met pagi n met beraktivitas

Tauriza pada 10:14 AM, 17-Sep-11

mantap gan
met pagi n met beraktivitas

Eko Prasetyo pada 10:49 AM, 17-Sep-11

ane smpe termenung baca.y gan hehe

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 11:14 AM, 17-Sep-11

@ Arezta @ Tauriza @ Eko : mat beraktivitas juga gan, maaf yah bikin kalian termenung karena ngantuk bacanya biggrin gak baca juga apa-apa kok, kehadiran kalian selalu dinanti di sini mrgreen

Qdallzs pada 11:58 AM, 17-Sep-11

ini dia kelanjutan yg ane.tunggu".. satu hal.yg menurut ane lucu... gaya bahasa yg d gunakan s gembala saat bercerita tntang avatar... tpi cerita ini semakin rumit ajj.sob... mungkin karena penggunaan lambang" ini yg sukar ane pahami... tapi... tetep.... ane akui cerita na mantaaaabbb..

Madthohars | Gudang Ilmu & Artikel pada 01:01 PM, 17-Sep-11

mannntaapp.walaupun panjang tapi mantaap koq,namanya jg cerita.yaa hrs panjang...hehehe

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 01:07 PM, 17-Sep-11

@ Qidalz, iya sob saya memang suka menggunakan lambang-lambang terinspirsi setelah membaca karya Imam Al Ghazali, Maulana Jalaluddin rumi dan Ibnu Arabi, tapi tulisan cuman seperti plagiat doang dari kata-kata mereka, saya cuman menggunakan versi saya sendiri.
Kalu si Gembala memang saya jadikan tokoh yg agak kekanak kanakan biar ada penyeimbang smile

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 01:10 PM, 17-Sep-11

@ Madthohar, iya mas begitulah cerita, lumayan bikin sahabat lainnya jadi putus asa ngeliatnya smile

Anansyah pada 01:18 PM, 17-Sep-11

sip mantap tnggu lanjutannya sobsmile

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 01:48 PM, 17-Sep-11

ok bro smilesip

Airul pada 01:59 PM, 17-Sep-11

sory boz jarang berkunjung,,,bnyak kesibukan & lbih sering ol di forum,, ,,

Fazyzwan pada 03:21 PM, 17-Sep-11

mantap sob buat yg belum,sedan,akan mencari cintanya smile

kangjack pada 04:05 PM, 17-Sep-11

Makasih infonya sob, maaf cuma bisa mampir sebentar nih, lagi ada perlu.

The Otherside of Kangjack
http://mylove.mywapblog.com

Salga | Berbagi Pemahaman & Pengertian pada 07:05 PM, 17-Sep-11

@ Airul, ane ngerti bos smile

@ Kangjack, ok bro smile

@ Fazyzwan, hehe ia sob smile

isj Ikha Hidayat Everlastingfriendz pada 06:20 PM, 20-Sep-11

ckckck.. rasanya kaya lagi ngebaca kisah 1001 malam tp dengan kisah berbeda.. smile

Salga | Berbagi Pemahaman & Ebook Hp pada 06:30 PM, 20-Sep-11

haha, kirain kaya baca komik shincan mrgreen

Nana Apriatna pada 06:09 PM, 01-Feb-12

Manttaapp banget cerita ny' smile

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Email:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar